Hasil TKA SD-SMP 2026 Resmi Dirilis, Tingkat Partisipasi Nasional Capai 98,12 Persen

WhatsApp Image 2026 05 26 at 16.25.41 1
Kepala BKPDM Kemendikdasmen, Toni Toharudin, mengumumkan hasil TKA jenjang SD/MI Sederajat dan SMP/MTS sederajat Tahun 2026 pada Senin, 26 Mei 2026, (Foto: Kemendikdasmen).

ZONALITERASI.ID – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi mengumumkan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SD/MI Sederajat dan SMP/MTS sederajat Tahun 2026 pada Senin, 26 Mei 2026.

Pelaksanaan TKA tahun ini mencatat tingkat partisipasi nasional yang sangat tinggi. Sebanyak 98,12 persen siswa mengikuti asesmen pada jadwal utama.

Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen, Toni Toharudin, mengungkapkan, TKA menghasilkan big data pendidikan skala nasional yang kaya, strategis serta terpetakan hingga tingkat provinsi, kabupaten/kota, satuan pendidikan, bahkan kategori kompetensi peserta didik.

“Pemetaan mutu ini menjadi dasar penyusunan kebijakan pendidikan yang lebih presisi dan berbasis data, mengidentifikasi wilayah yang perlu penguatan, serta memastikan kebijakan dibangun berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan,” ujar Toni.

Berdasarkan data Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM), dari total 8.875.362 murid yang terdaftar pada jadwal utama, sebanyak 8.708.891 murid mengikuti TKA sesuai jadwal.

Sementara itu, jadwal susulan diikuti oleh 463.533 murid dari total 490.551 peserta yang terdaftar.

Kepala Pusat Asesmen Pendidikan (Kapusmendik), Rahmawati, mengatakan capaian tersebut menjadi indikator meningkatnya kesadaran sekolah, orang tua dan murid terhadap pentingnya asesmen untuk perbaikan mutu pendidikan.

Dalam pelaksanaannya, TKA menggunakan sistem penskoran klasik dengan skala nilai 0–100. Sebelum hasil diumumkan seluruh paket soal dan butir soal terlebih dahulu melalui proses verifikasi dan validasi statistik untuk memastikan keadilan bagi seluruh murid.

Selain hasil numerik, hasil TKA juga dilengkapi kategori capaian dan deskripsi kemampuan murid. Pendekatan ini dihadirkan agar TKA tidak berhenti pada angka semata, tetapi menjadi alat refleksi pembelajaran bagi murid, guru dan orang tua.

“Kalau anak berada pada kategori memadai, maka orang tua dan guru bisa melihat kemampuan apa yang sudah dikuasai dan apa yang masih perlu diperkuat. Jadi TKA membantu semua pihak memahami strategi pembelajaran yang paling tepat bagi murid,” jelas Rahmawati.

Berdasarkan hasil nasional, capaian Bahasa Indonesia tercatat lebih tinggi dibandingkan Matematika pada kedua jenjang. Untuk SD/MI sederajat, rata-rata Bahasa Indonesia mencapai 60,14 sedangkan Matematika 43,41.

Sementara pada jenjang SMP/MTS sederajat, rata-rata Bahasa Indonesia berada di angka 60,83 dan Matematika 40,34.

Pada kesempatan yang sama Toni juga menegaskan,TKA bukan alat untuk memberi label kepada daerah, sekolah, maupun murid. Kata dia, hasil TKA memberikan sinyal penting terkait penguatan kemampuan bernalar dan pemecahan masalah, khususnya pada mata pelajaran Matematika.

“Ini menjadi perhatian bersama bahwa kemampuan berpikir logis, penalaran matematika, dan problem solving perlu terus diperkuat dalam proses pembelajaran sehari-hari,” tutur Toni.

Hasil TKA diumumkan secara bertahap mulai 26 Mei 2026 pukul 13.00 WIB. Dinas pendidikan dan kantor wilayah terlebih dahulu memperoleh akses daftar kolektif hasil TKA sebelum nantinya satuan pendidikan melakukan verifikasi data peserta dan mencetak Sertifikat Hasil TKA (SHTKA) untuk dibagikan kepada murid.

Kemendikdasmen juga memastikan integrasi data hasil TKA dengan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) jalur prestasi melalui API dan web service sehingga sekolah tidak perlu menunggu unggahan manual dari peserta didik.

Kepala Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Kemendikdasmen, Yudhistira Nugraha, menyatakan, hasil TKA akan menjadi salah satu komponen penilaian jalur prestasi bersama nilai rapor dan capaian prestasi lainnya.

“Pemanfaatan TKA dalam SPMB diharapkan membuat proses seleksi berlangsung lebih objektif, adil, transparan, dan mempertimbangkan kemampuan akademik peserta didik secara lebih komprehensif,” ujar Yudhistira. (des)***