Oleh Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
PAGI itu langit Bekasi masih gelap ketika alarm ponsel berbunyi pelan. Jam menunjukkan pukul 03.30 WIB. Dalam dinginnya udara dini hari, Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. atau yang akrab disapa Omjay perlahan membuka matanya. Tubuhnya sebenarnya masih lelah. Aktivitas sebagai guru, penulis, narasumber, dan penggerak literasi sering membuat waktunya habis dari pagi hingga malam.
Namun ada satu kebiasaan yang selalu berusaha dijaganya: bangun malam untuk salat tahajud.
Omjay sadar, hidup manusia tidak pernah lepas dari tekanan. Ada hari-hari ketika tubuh terasa letih, pikiran penuh beban, dan hati terasa sesak. Terkadang masalah datang bersamaan. Tugas sekolah menumpuk, pekerjaan organisasi berjalan padat, urusan keluarga membutuhkan perhatian, dan kesehatan pun tidak selalu stabil.
Di saat seperti itulah Omjay menemukan bahwa salat bukan sekadar kewajiban. Salat adalah tempat pulang bagi hati yang lelah.
Ia pernah berkata kepada murid-muridnya, “Kalau hati sedang penat, jangan jauh dari sajadah. Karena di sanalah Allah menguatkan jiwa kita.”
Kalimat sederhana itu lahir bukan dari teori, tetapi dari pengalaman hidupnya sendiri.
Sebagai seorang guru, Omjay sering menghadapi berbagai persoalan pendidikan. Ada murid yang sulit diatur, ada guru yang kehilangan semangat, ada pula kondisi dunia pendidikan yang kadang membuat hati prihatin. Belum lagi aktivitas menulis yang menuntut pikiran terus bekerja.
Di tengah kesibukan itu, Omjay pernah merasakan salat hanya menjadi rutinitas. Gerakan dilakukan, bacaan dilantunkan, tetapi pikirannya berkelana ke mana-mana. Kadang saat takbiratul ihram, pikirannya masih memikirkan pekerjaan. Saat rukuk, pikirannya memikirkan jadwal kegiatan. Bahkan saat salam, ia baru sadar bahwa sejak awal hatinya tidak benar-benar hadir.
Ia merasa ada yang hilang.
Salat yang seharusnya menjadi sumber ketenangan justru terasa seperti aktivitas biasa. Dari situlah Omjay mulai belajar tentang makna khusyuk.
Ia memahami bahwa khusyuk bukan berarti pikiran tidak pernah terganggu. Khusyuk adalah perjuangan menghadirkan hati di hadapan Allah. Sebuah usaha untuk sadar bahwa manusia sedang berbicara dengan Rabb yang Maha Mendengar.
Sejak saat itu, Omjay mulai mengubah caranya dalam salat.
Ia tidak lagi terburu-buru. Sebelum salat, ia berusaha menenangkan diri. Ponsel diletakkan jauh. Aktivitas dihentikan sejenak. Ia mencoba memahami setiap bacaan yang diucapkan.
Ketika membaca Al-Fatihah, ia berusaha merenungi arti ayat demi ayat. Saat rukuk, ia menyadari betapa kecil dirinya di hadapan Allah. Saat sujud, ia merasakan bahwa manusia sebenarnya tidak memiliki kekuatan apa pun tanpa pertolongan-Nya.
Dan perlahan, hidupnya berubah.
Omjay merasakan ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Masalah hidup memang tidak langsung hilang, tetapi hatinya menjadi lebih kuat menghadapinya. Beban terasa lebih ringan karena ia yakin tidak sedang berjalan sendirian.
Ia teringat firman Allah bahwa salat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Menurut Omjay, ayat itu menunjukkan bahwa salat bukan hanya ritual fisik. Salat yang benar akan memengaruhi cara berpikir, berbicara, dan bertindak seseorang.
Karena itulah Omjay selalu mengingatkan para guru dan murid agar tidak hanya menjaga jumlah salat, tetapi juga kualitasnya.
Dalam sebuah pelatihan literasi digital, Omjay pernah berbagi kisah menarik. Seorang guru mengeluh mudah marah kepada murid-muridnya. Ia merasa emosinya tidak stabil. Omjay lalu bertanya pelan, “Bagaimana salatnya?”
Guru itu terdiam.
Omjay kemudian menjelaskan bahwa hati manusia membutuhkan pengisian energi ruhani. Jika tubuh membutuhkan makanan, maka jiwa membutuhkan kedekatan dengan Allah. Salah satu cara terindah untuk menguatkan jiwa adalah melalui salat yang khusyuk.
“Kadang kita mencari ketenangan ke mana-mana, padahal Allah sudah memanggil kita lima kali sehari,” kata Omjay lembut.
Ucapan itu membuat banyak peserta pelatihan terdiam haru.
Bagi Omjay, sujud adalah tempat terbaik untuk mengadu. Tidak semua masalah bisa diceritakan kepada manusia. Ada luka yang sulit dipahami orang lain. Ada kesedihan yang hanya bisa ditumpahkan dalam doa.
Dan di atas sajadah itulah, air mata sering jatuh tanpa suara.
Omjay percaya bahwa orang yang menjaga salatnya akan dijaga hatinya oleh Allah. Mungkin hidupnya tetap penuh ujian, tetapi jiwanya tidak mudah runtuh.
Karena itu, di usia yang tidak lagi muda, Omjay terus belajar memperbaiki kualitas salatnya. Ia sadar dirinya belum sempurna. Namun ia yakin bahwa perjalanan menjadi lebih baik harus terus dilakukan.
Setiap selesai salat subuh, Omjay sering menulis pesan-pesan inspiratif untuk dibagikan kepada banyak orang. Baginya, dakwah tidak harus selalu di mimbar besar. Kadang sebuah tulisan sederhana bisa menjadi penguat hati seseorang.
Melalui blog pribadinya, [Wijaya Labs] (https://wijayalabs.com?utm_source=chatgpt.com), Omjay membagikan banyak kisah inspiratif tentang pendidikan, kehidupan, literasi, dan perjalanan spiritual yang menguatkan hati pembacanya.
Pesan pagi tentang salat khusyuk ini pun lahir dari pengalaman hidup yang nyata. Bahwa manusia modern sering sibuk memperkuat penampilan luar, tetapi lupa menguatkan jiwanya.
Padahal jiwa yang kuat lahir dari hubungan yang dekat dengan Allah.
Salat yang khusyuk akan melahirkan ketenangan. Ketika hati tenang, manusia lebih mampu menghadapi tekanan hidup. Ketika jiwa kuat, langkah hidup menjadi lebih terarah.
Omjay mengajarkan bahwa kesuksesan sejati bukan hanya tentang jabatan, penghargaan, atau popularitas. Kesuksesan sejati adalah ketika hati tetap dekat kepada Allah di tengah segala kesibukan dunia.
Maka jangan biarkan salat hanya menjadi rutinitas harian. Jadikan setiap sujud sebagai tempat pulang bagi hati yang lelah. Jadikan setiap doa sebagai penguat jiwa. Dan jadikan salat sebagai cahaya yang menerangi kehidupan.
Karena boleh jadi, ketenangan yang selama ini kita cari ternyata ada di antara takbir, rukuk, dan sujud yang dilakukan dengan penuh khusyuk.
Ayo semangat memperbaiki salat kita hari ini. Semoga Allah melembutkan hati kita, menguatkan jiwa kita, dan menerima setiap sujud kita.
Barakallah fiikum. ***
Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay), Wakil Sekjen PB PGRI, Guru SMP Labschool Jakarta, Guru Blogger Indonesia, Blog https://wijayalabs.com .











