ZONALITERASI.ID – Dosen Departemen Akuakultur, Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (Unair), Dr. Rozi, S.Pi., MBiotech, membuktikan bahwa motivasi dan tekad kuat jadi kunci meraih cita-cita.
Ya, di tengah berbagai tantangan hidup dengan kondisinya yang kehilangan dua kaki, Rozi berhasil mengantongi gelar S3 bidang Sains Veteriner dengan IPK 4.00 (cumlaude). Dia dikukuhkan sebagai lulusan program doktoral dalam Wisuda ke-261 Unair, pada April lalu.
Studi S3 Rozi berjalan selama 3 tahun 11 bulan. Dia menempuh studi sambil tetap aktif menjadi dosen yang dipenuhi dengan kegiatan mengajar, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga publikasi ilmiah internasional.
Rozi mengungkapkan, keberhasilannya membuktikan bahwa pendidikan inklusif mampu membuka ruang yang setara bagi setiap individu untuk berkembang dan berkontribusi.
“Pendidikan adalah hak semua orang. Keterbatasan tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti belajar dan bertumbuh,” ungkap Rozi, dikutip dari laman Unair, Sabtu, 28 Mei 2026.
Dalam masa studi S3, Rozi sempat menerbitkan dua artikel internasional bereputasi Scopus Q1 dan tiga artikel Scopus lainnya. Selain itu, dia merupakan editor di Scopus.
Amputasi Dua Kaki
Perjalanan Rozi menempuh studi doktoral tidaklah mudah. Hidup Rozi berubah menjadi penyandang disabilitas daksa setelah menghadapi amputasi kedua kakinya.
Dia mengungkapkan, sempat ada di fase berat saat harus menerima perubahan besar dalam hidupnya. Perlahan Rozi belajar bahwa keterbatasan bukan akhir dari perjalanan hidup.
“Saya belajar bahwa manusia tidak selalu diuji untuk dijatuhkan, tetapi kadang diuji untuk menemukan versi terkuat dari dirinya,” ujarnya.
Kata Rozi, keluarga adalah salah satu sumber kekuatan terbesar selama dia menjalani studi doktoral.
“Kadang ketika saya merasa lelah, saya ingat bahwa mungkin ada doa ibu yang tidak pernah putus menyebut nama saya,” tambahnya.
Dukungan Keluarga
Rozi merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara, putra dari pasangan Musli dan Mastinah.
Dia lahir dan tumbuh di Desa Markanding, Sungai Bahar, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Keluarganya menggantungkan hidup dari berjualan ikan secara eceran. Motivasi terbesarnya untuk terus menjangkau pendidikan hingga jenjang tertinggi salah satunya ialah latar belakang kehidupan keluarganya.
“Ayah saya mungkin tidak memahami apa itu jurnal internasional atau disertasi doktoral, tetapi beliau mengajarkan kerja keras, ketulusan, dan semangat untuk tidak menyerah,” tutur Rozi.
Di samping keluarga, lingkungan akademik di FKH Unair yang suportif turut menjadi faktor pendukung.
Dia mendapatkan dukungan dari pimpinan fakultas, dosen, tenaga kependidikan, hingga rekan-rekan di lingkungan kampus.
Berbagai fasilitas aksesibilitas seperti ramp, lift ramah kursi roda, dan akses gedung yang lebih mudah dijangkau semakin membuat Unair semakin inklusif.
“Yang paling saya rasakan bukan hanya fasilitas fisiknya, tetapi bagaimana saya diterima sebagai bagian dari lingkungan akademik secara setara,” tuturnya.
“Konsep inclusive learning juga harus mencakup akses informasi, komunikasi, dan lingkungan belajar yang nyaman bagi seluruh ragam disabilitas, baik daksa, netra, tuli, maupun neurodivergent,” sambung Rozi.
Dia berharap, di masa mendatang semakin banyak mahasiswa disabilitas yang berani menempuh pendidikan tinggi dan mengembangkan potensinya.
“Saya percaya setiap orang punya kesempatan untuk tumbuh dan berprestasi. Kadang yang dibutuhkan hanya ruang yang menerima mereka untuk berkembang,” ujar Rozi. (des)***











