Mahasiswa Teknik Perminyakan ITB Juara 1 Internasional Petrolida 2026, Usung Inovasi Pengembangan Lapangan Migas Rendah Karbon

20260602 Petrolida11 1
Tim Mahasiswa Teknik Perminyakan ITB meraih juara 1 tingkat internasional pada ajang Plan of Development (POD) PETROLIDA 2026, (Foto: Dok. Tim Revivum).

ZONALITERASI.ID – Tim Mahasiswa Teknik Perminyakan, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM), Institut Teknologi Bandung (ITB) meraih Juara 1 tingkat internasional pada ajang Petrolida 2026 (Petroleum Integrated Days) yang diselenggarakan SPE ITS Student Chapter.

Pada kompetisi yang berlangsung pada Mei lalu itu, tim yang beranggotakan Naufal Herdian Saputra, Naufal Abiyyu Partowijoyo, Rayhan Andrasakti, Kevin Akbar Nasution, Muhammad Reza Muhtadi dan Gabriel Chris Palanza Sihotang membawakan proyek pengembangan lapangan migas bertajuk “FALAH Field” yang mengusung konsep pengembangan terintegrasi berbasis enhanced oil recovery (EOR), carbon capture utilization and storage (CCUS), serta intelligent completion technology.

Dalam kompetisi tersebut, tim berfokus pada penyusunan Plan of Development (POD) atau perencanaan pengembangan lapangan minyak secara menyeluruh. Tim dituntut untuk merancang pengembangan lapangan mulai dari karakterisasi reservoir bawah permukaan, estimasi cadangan, simulasi produksi, desain pengeboran, hingga fasilitas produksi dan aspek keselamatan lingkungan.

Keunggulan utama proyek yang dibawakan tim terletak pada integrasi antardisiplin yang disusun secara runtut dan saling terhubung. Seluruh tahapan pengembangan dirancang mulai dari analisis kondisi reservoir, simulasi produksi, desain pengeboran, fasilitas produksi di permukaan, hingga analisis ekonomi dan potensi perdagangan karbon.

Pendekatan tersebut berhasil meningkatkan produksi minyak secara signifikan sekaligus menunjukkan bahwa pengembangan lapangan migas dapat tetap memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan. Selain dinilai layak secara teknis dan ekonomi, proyek ini mampu mendukung upaya pengurangan emisi karbon melalui penyimpanan CO₂ secara permanen dan potensi pemanfaatan perdagangan karbon di masa mendatang.

Di balik pencapaian tersebut, tim menghadapi berbagai tantangan selama proses kompetisi berlangsung, terutama dalam membagi waktu di tengah kesibukan akademik tingkat akhir.

Kendala perangkat untuk menjalankan simulasi lapangan yang kompleks juga sempat menjadi hambatan dalam pengerjaan proyek karena membutuhkan perangkat spesifikasi tinggi.

“Proses simulasi cukup memakan waktu karena keterbatasan perangkat laptop yang kami gunakan. Akhirnya kami mencoba menghubungi Kaprodi Teknik Perminyakan, Pak Dedy Irawan, untuk meminjam ruangan dan perangkat yang dapat mendukung pengerjaan simulasi,” ujar salah satu anggota tim, Naufal Herdian Saputra, dikutip dari laman ITB.

Selain dukungan fasilitas, mereka memperoleh banyak masukan dari kakak tingkat dan alumni, terutama terkait strategi menghadapi sesi presentasi dan menjawab pertanyaan juri secara teknikal. Diskusi dengan praktisi industri migas turut membantu tim memahami bagaimana pendekatan profesional digunakan dalam menyelesaikan persoalan lapangan secara nyata.

Bagi tim, kompetisi ini memberikan pelajaran yang sangat berharga, terutama dalam hal keberanian menghadapi tantangan di luar materi perkuliahan.

“Kompetisi ini benar-benar membuat kami untuk belajar lebih dari apa yang diajarkan di kelas. Selain itu, kami juga belajar untuk berani menjawab pertanyaan juri secara teknikal dan melatih manajemen waktu karena dalam satu minggu ada banyak hal yang harus dikejar,” ungkap Naufal.

Melalui kompetisi ini, tim memperoleh banyak pelajaran berharga mengenai pentingnya kerja sama tim, manajemen waktu, serta kemampuan dalam menyusun solusi secara terintegrasi.

Pengalaman tersebut tidak hanya memberikan peningkatan kemampuan teknis, tetapi juga melatih keberanian dalam menghadapi tantangan dan menyampaikan gagasan secara profesional. Tim pun berharap mahasiswa lain dapat turut berpartisipasi dalam berbagai kompetisi di bidang teknik perminyakan maupun bidang lainnya.

“Kami berharap mahasiswa dari jurusan yang sama bisa terus belajar dan melatih kemampuan agar dapat melanjutkan prestasi di kompetisi serupa. Karena menurut kami, TOD adalah kompetisi yang memberikan banyak pengalaman berharga,” ujar anggota tim lainnya, Gabriel Chris Palanza Sihotang. (des)***