Oleh Nunu A. Hamijaya
HARI ini, 14 Juni tercatat sebagai Hari Purbakala Nasional (HPN) yang alasannya karena merupakan hari berdirinya Oudheidkundige Dienst (Dinas Kepurbakalaan) yang dibentuk oleh pemerintah Hindia – Belanda.
Ini adalah bentuk dari politik historiografi kolonial yang masih dijadikan rujukan oleh pemerintah RI. Tentunya, para sejarawan (akademik dan publik) dengan dukungan Kementerian Kebudayaan RI akan membahas hal ini dan mengajukan proposal akademik, yang lebih Indonesiasentris untuk menetapkan kapan Hari Purbakala Nasional.
Saat ini, tidak ada lagi dinas kepurbakalaan dalam struktur di kementerian terkait. Pemerintah membentuk Badan Layanan Umum (BLU) bernama Indonesian Heritage Agency (IHA)/Museum & Cagar Budaya, dan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) di wilayah provinsi. Sedangkan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslitarkenas) diintegrasikan menjadi salah satu bidang riset arkeologi dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) .
Tulisan ini meskipun tidak secara langsung merujuk kepada peringatan HPN tersebut, setidaknya memberikan ruang dialog agar penetapan Hari Nasional bersumber dari khazanah kekayaan sejarah etnis di Nusantara yang lebih kaya dengan ‘local wisdom’. Salah-satunya tentang akulturasi budaya antar-etnik di Nusantara, seperti antara etnis asli Sulawesi Selatan dan Jawa Barat (Sunda).
Jejak Topinimi: Condre-Badik
Dalam tulisan terdahulu, penulis membahas tentang kemiripan senjata Badik dan Condre. Meskipun berbeda latar sejarah kemunculannya, Kemiripan secara fisik hampir 90% kecuali dari ukuran. Badik dapat disebut sebagai jenis ‘pedang’ yang antara 40-50 centimeter. Sedangkan ‘condre’ sebagai ‘belati’, pisau pendek, antara 20-25 cm. Kedua senjata tajam tersebut digunakan untuk kegiatan berburu binatang di hutan; pisau dapur dan pertanian; serta perang pertahanan diri. Lebih dari itu, menjadi semacam ‘simbol’ keperkasaan dan kekuatan karakter etnis Bugis dan Sunda (Cianjur). Panjangnya antara 40-50 centimeter.
Badik sebagai senjata khas etnis Bugis sudah masuk dalam website www. wonderverseindonesia.com dan museeum.kemenbud.go.id; Sementara untuk condre belum masuk, hanya sebagai istilah, ‘condre’ terdapat https://senaraiistilahjawa.kemdikbud.go.id/.
Badik Bugis: Filosofis Manusia
“Taniya ugi narekko de’na punnai kawali”
(Bukan seorang Bugis jika tidak memiliki badik)
Badik Bugis, atau disebut juga sebagai kawali, memiliki sejarah yang sangat panjang. Penggunaan senjata tradisional ini dapat dilacak mulai pada masa Kerajaan Luwu kuno. Di masa kerajaan, badik dikenal dengan nama kalio.
Kalio atau badik ini juga tercatat dalam naskah klasik “I La Galigo”. Dalam naskah tersebut, tercatat bahwa Luwu merupakan wilayah awal peradaban besi di tanah Sulawesi. Kalio lebih banyak digunakan sebagai alat-alat pertanian dan digunakan pula untuk bertahan hidup atau sebagai senjata utama dikala muncul ancaman. Sebagai salah satu pusat peradaban di Pulau Sulawesi, artefak-artefak kuno masih banyak ditemukan di wilayah Luwu, atau tepatnya di Sulawesi Selatan bagian utara. Beberapa cerita tentang perkembangan peradaban badik juga berasal dari wilayah Luwu ini.
Secara umum, badik Bugis terdiri dari tiga bagian utama, yaitu hulu atau gagang; bilah bagian besi dan mata; dan warangka atau sarung badik. Sedangkan bilah badik Bugis dihiasi pamor dan badik ini tidak pernah memiliki ganja atau penyanggah bilah.
Condre: Senjata Khas Cianjur
Orang Sunda umumnya mengenal ‘kujang’ . Dilansir dari Kemdikbud, kujang berasal dari kata “kudi” dan “hyang”. “Kudi” berasal dari Bahasa Sunda kuno yang bermakna sebuah senjata atau jimat yang memiliki kekuatan gaib. Sementara , “hyang” berarti dewa atau sesuatu yang dianggap Tuhan. Jadi, secara harfiah kujang bisa dimaknai sebagai senjata pusaka yang memiliki kekuatan dewa. Dahulu, kujang merupakan salah satu alat yang tercatat dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian pada tahun 1518. Di sana tercantum kujang sebagai salah satu alat pertanian yang digunakan untuk menebas tanaman perdu yang tumbuh di lahan yang akan ditanami padi, dan untuk menyiangi rumput.
Bagaimana dengan CONDRE? Dalam tradisi Jawa, Condre, nomina [condre] alat untuk mencari udang kecil di sungai. https://senaraiistilahjawa.kemdikbud.go.id/search/condre. Tentu saja, berbeda dengan ‘condre’ yang dimaksud sebagai senjata tradisional Sunda, lebih khusus lagi Cianjur.
Condre ini pertama kali populer, awal abad ke-18, atau sekitar tahun 1700-an. Kisah Dalem Cianjur bernama Raden Astramanggala atau Raden Aria Wiratanu III tewas setelah terkena sabetan Condre oleh seorang petani kopi”. Juga dikaitkan dengan sosok gadis cantik asal Cikembar, Apun Gencay dalam kesusastran Sunda. Cerita pendek Apun Gencay adalah salah-satu cerita pendek dari buku kumpulan cerpen berbahasa Sunda Yus Rusyana, berjudul “Jajaten Ninggang Papasten“ (1963) yang meraih penghargaan Sastra Rancagé – Ajip Rosidi (1989).
Asimilasi Budaya-Teknologi Makassar-Sunda
Dalam catatan sejarah, dinamika hubungan antara Tatar Sunda (termasuk Cianjur) dan wilayah Sulawesi Selatan umumnya terjadi dalam dua pola: tokoh dari Sulawesi yang dikirim/bermigrasi ke wilayah Sunda, atau bangsawan Sunda yang menjabat atau dikirim pemerintah kolonial ke luar pulau.
Jika melacak tokoh besar Makassar yang menetap, memiliki keturunan, dan keturunannya berbaur dengan menak di Tatar Sunda (termasuk jaringan Banten, Bogor, Cianjur, Sukabumi, hingga Ciamis), tokoh utamanya adalah Syekh Yusuf Al-Makassari.
Tunggilis: Cianjur dan Pangandaran
Nama ‘Tunggilis’ ditemukan di Cianjur dan Pangandaran. Kawasan Tunggilis yang berada di wilayah Kabupaten Cianjur, tepatnya di Kampung Tunggilis, Desa Ciputri, Kecamatan Pacet. Posisi daerahnya pada dataran tinggi lereng Gunung Gede, yang berjarak sekitar 15-18 km ke arah utara dari pusat Kota Cianjur. Area ini dikenal sebagai kawasan sejuk dengan lahan pertanian dan agrowisata sayuran organik.
Sedangkan Tunggilis lainnya berada di Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran tercatat dalam sejarah merupakan alur terakhir pergerakan gerilya Syekh Yusuf dari Banten yang memang melewati rute pegunungan Jawa Barat (seperti daerah Cikaniki/Bogor), hingga ke titik pertempuran besar bernama “Tunggilis” .
Kesamaan nama “Tunggilis” terjadi karena istilah ini berasal dari bahasa Sunda (tunggul) yang merujuk pada sisa batang pohon yang ditebang atau mencuat, sebuah nama geografi (toponim) yang umum ditemukan di beberapa wilayah Jawa Barat (termasuk Situ Tunggilis di Cileungsi, Bogor).
Pertempuran Tunggilis: Sebab Mulanya
Pertempuran Tunggilis boleh jadi merupakan salah-satu titik-temu asimilasi Makassar-Sunda dan salah satu fragmen pertempuran paling dramatis dalam sejarah perang gerilya di Tatar Sunda pada September hingga November 1683.
Catatan mengenai Pertempuran Tunggilis antara pasukan VOC pimpinan Letnan Maurits van Happel dan pasukan Syekh Yusuf al-Makassari bersumber dari laporan militer resmi kompeni. Dagregister gehouden int Casteel Batavia (Catatan Harian Kastil Batavia) tahun 1683. Geschiedenis van Nederlandsch Indië (Volume III) oleh F.W. Stapel: Buku babon sejarah Hindia Belanda ini memuat kronologi lengkap Perang Banten (1682–1683) termasuk fase gerilya panjang Syekh Yusuf ke wilayah timur dan bagaimana pasukan Van Happel mengepung mereka di pedalaman Priangan Timur. Syekh Yusuf Makassar: Seorang Ulama, Sufi, dan Pejuang karangan sejarawan Prof. Dr. Abu Hamid, mengupas tuntas rute gerilya sang ulama dari Banten barat hingga tertangkapnya beliau di daerah Cirebon/Priangan setelah terluka parah di pertempuran wilayah Tunggilis A History of Modern Indonesia since c. 1200 oleh Merle Calvin Ricklefs.
Ketika Syekh Yusuf membantu Kesultanan Banten melawan VOC, ia membawa ratusan prajurit dan keluarga dari Bugis-Makassar. Pasukannya sempat bertahan dan bergerilya di sepanjang jalur hutan pegunungan yang membatasi Bogor, Sukabumi, Cianjur, dan berakhir di Pangandaran. Sisa prajurit Makassar dari Pertempuran Tunggilis inilah yang memilih berasimilasi penuh, menetap di hutan-hutan terpencil Pangandaran menikah dengan penduduk setempat, dan melahirkan akulturasi budaya senjata tajam lokal.
Banyak prajurit Makassar dan Bugis yang tersisa dari pengepungan ini memilih untuk tidak kembali ke Sulawesi. Mereka menetap di hutan-hutan pedalaman Pangandaran menikahi perempuan Sunda setempat, dan menyamarkan identitas mereka agar terhindar dari buruan intelijen VOC. Jejak asimilasi militer inilah yang meninggalkan kemiripan budaya persenjataan (Badik dan Condre).
Lokasi historis Desa Tunggilis tersebut saat ini berada di wilayah Kecamatan Kalipucang. Wilayah ini dahulu masuk ke dalam administrasi Kabupaten Ciamis, namun pasca-pemekaran tahun 2012, area tersebut kini menjadi bagian dari Kabupaten Pangandaran.
Tokoh Syeikh Sabir dan Makassar: Asimilasi Condre-Badik
Meskipun tidak ada jejak topinimi Makassar di kawasan Cianjur, namun keterikatan itu justru melalui tokoh-tokoh, di antaranya Pangeran Syeikh Sabirin (dikenal juga sebagai Pangeran Karang). Beliau sebagai bagian dari faksi “Pangeran Karang”—sebutan umum di tanah Sunda bagi para ulama pelarian Banten/Makassar yang mengisolasi diri di goa atau pedalaman untuk berzikir sekaligus bersembunyi dari kejaran VOC. Lokasi makam beliau yang berada di dalam satu kompleks khusus (bahkan berteduh sangat dekat) dengan makam Bupati Cianjur ke-2 .
Berbeda dengan Jakarta yang memiliki “Kampung Makassar” (karena VOC menempatkan tawanan perang dan pasukan sewaan asal Makassar di satu area terisolasi), Pasukan Makassar dan Banten menjadikan jalur pegunungan Cianjur (terutama wilayah utara dan pedalaman selatan) hanya sebagai rute pelarian cepat dan gerilya dinamis untuk menghindari kejaran VOC menuju wilayah Priangan Timur (Ciamis/Pangandaran). Mereka tidak melakukan permukiman stasioner (settlement) yang lama di Cianjur.
Munculnya condre dan variasi badik di Tatar Sunda merupakan produk nyata dari asimilasi taktis. Senjata yang awalnya dibawa oleh para pelarian perang Banten-Makassar sebagai alat perlindungan diri dari kejaran VOC, diadopsi oleh masyarakat lokal, hingga akhirnya menjadi senjata wajib para bangsawan pedalaman Sunda sebelum akhirnya dilarang akibat tragedi politik lokal.
Bagi masyarakat Sunda di pedalaman seperti Cianjur, senjata identitas yang paling melekat pada era kolonial abad ke-17 hingga 18 justru bukan lagi Kujang (yang beralih fungsi menjadi benda pusaka/simbol kedaulatan Pajajaran), melainkan Condre.
Condre adalah senjata genggam jenis tikam jarak pendek berbilah tipis, lurus atau sedikit melengkung, dengan ujung yang sangat runcing. Karakteristik fisik ini berbeda total dengan Kujang yang berlubang dan berlekuk simetris. Model condre dirancang murni sebagai senjata pertarungan jarak dekat (clandestine/close combat), sangat mirip dengan prinsip penggunaan Badik oleh masyarakat Bugis-Makassar.
Masih banyak pertanyaan di seputar jejak asimilasi budaya yang membentuk toponimi di berbagai wilayah yang sejatinya harus dieksplorasi sehingga memberikan suatu perspektif wahyu membimbing ilmu untuk membangun saling pengertian antara etnik berdasarkan seruan wahyu Ilahi. ***
Madrasah al I’anah, 14 Juni 2026
Nunu A. Hamijaya, Pusat Studi Sunda (PSS).




![70 Tahun Pamplet Perlawanan Sunda (Front Pemuda Sunda [1956-2026] dan Adeng S. Kusumawijaya) 6 WhatsApp Image 2026 05 31 at 19.39.06 1](https://zonaliterasi.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-05-31-at-19.39.06-1-400x225.jpeg)






