Palsu yang Asli

108150268 1748052754901 gettyimages 1335171779 choice 1
Ilustrasi "Palsu yang Asli", (Foto: CNBC).

Oleh Ganjar Kurnia

ADA kabar bahwa kata palsu sedang naik pangkat. Dulu, palsu hanya dipakai untuk uang, gigi, rambut, atau tanda tangan ketua RT yang sedang memancing. Sekarang, palsu sudah menjadi sistem nilai, bahkan hampir menjadi ideologi.

Ada senyum palsu, janji palsu, ijazah palsu, air mata palsu, marah palsu, prihatin palsu, bahkan kejujuran pun kadang-kadang tampak seperti kepalsuan yang sedang menyamar sebagai barang asli.

Menariknya, kepalsuan itu tidak selalu bersembunyi. Tapi tampil gagah di depan kamera, mengenakan jas, memakai pin, membawa map, lalu berkata dengan suara berat: “Kami akan menindak tegas segala bentuk kepalsuan.” Setelah itu ia masuk mobil dinas yang plat nomornya bisa digonta-ganti, sehingga kita tidak tahu mana yang asli mana yang tidak.

Di sebuah kantor imajiner, yang bernama Kementerian Keaslian Nasional, para pejabat setiap pagi diwajibkan apel untuk diperiksa kadar keaslian isi hatinya masing-masing. Mereka berdiri tegap, sementara itu, inspektur upacara membawa alat detektor palsu. Alat itu berbunyi setiap kali mendekati dada seseorang. Tapi karena semua dada berbunyi, maka disimpulkan bahwa alatnya yang palsu. Demi menjaga stabilitas, alat itu kemudian dimutasi ke gudang arsip.

Di negeri surealis, orang tidak lagi bertanya, “Ini benar atau salah?” Pertanyaannya sudah naik kelas menjadi, “Ini palsunya rapi atau ceroboh?” Sebab kepalsuan yang rapi sering dianggap prestasi. Kalau palsunya terlalu kasar, barulah disebut pelanggaran. Artinya, masalah utama bukan pada bohongnya, tetapi pada kualitas produksinya. Kebohongan pun harus memenuhi standar mutu, bersertifikat ISO, dan kalau bisa, harus mendapat penghargaan dari lembaga internasional yang juga belum tentu asli.

Seorang pemalsu kecil pernah ditangkap karena membuat surat keterangan miskin palsu. Ia menangis di kantor polisi. Katanya, “Saya cuma ingin mendapatkan bantuan.” Polisi mengangguk prihatin. Di televisi, kasus itu menjadi berita besar. Sementara itu, di gedung-gedung yang lebih tinggi, kepalsuan berjalan dengan sepatu mengkilap. Ia tidak ditangkap, karena sudah punya protokol. Kalau kepalsuan rakyat kecil bisa disebut kriminal, kepalsuan orang besar bisa disebut strategi komunikasi.

Di pasar, seorang pedagang menjual madu asli. Di sebelahnya ada pedagang lain menjual madu lebih asli. Di ujung gang, ada spanduk besar: “Madu Paling Asli Sejak Zaman Padjadjaran” Setelah dicek, semua madu ternyata berasal dari gula yang dididik kepalsuan. Tetapi pembeli tetap puas, sebab yang penting bukan madu itu asli, melainkan labelnya meyakinkan. Dalam masyarakat label, kebenaran tidak perlu hadir. Cukup dicetak tebal, diberi logo halal, stempel basah, dan testimoni dari orang yang wajahnya pernah muncul di baliho.

Kepalsuan memang punya bakat luar biasa. Ia bisa beradaptasi. Kalau zaman berubah, ia ikut berubah. Dulu manusia palsu cukup memakai topeng. Sekarang topengnya memakai wajah manusia, bahkan kadang wajah manusia justru tampak seperti topeng yang sedang cuti dari tempat latihan kesenian. Kita tersenyum di foto keluarga, supaya terlihat kalau ada pembagian warisan. Kita mengucapkan “turut berduka cita” di grup WhatsApp, lalu dua detik kemudian tertawa, melihat video kucing terpeleset. Kita menulis “semoga sehat selalu” kepada orang yang diam-diam kita harapkan tersandung sandal nasib.

Tetapi jangan salah, kepalsuan tidak hanya tinggal di luar diri. Ia bisa juga indekos di dalam hati. Kita sering berpura-pura kuat, padahal rapuh; Berpura-pura ikhlas, padahal masih menghitung luka dengan kalkulator batin.

Berpura-pura tidak peduli, padahal setiap malam mengecek status orang yang katanya sudah dilupakan. Bahkan ketika berkata, “Saya baik-baik saja,” sering kali itu adalah kalimat palsu paling sopan yang pernah diciptakan peradaban. Barangkali yang paling lucu dari kepalsuan bukan karena ia menipu kita, tapi karena kita kadang ingin ditipu. Kita membeli harapan palsu karena yang asli terlalu pahit. Kita menyukai pujian palsu karena kritik asli terasa seperti cabai masuk mata. Kita memilih pemimpin dengan janji palsu karena janji asli membutuhkan kedewasaan untuk menagihnya.

Ada cerita tentang seorang filsuf kampung yang sedang duduk di warung kopi. Ia berkata, “Yang palsu itu belum tentu tidak berguna. Gigi palsu bisa membantu mengunyah, rambut palsu bisa menolong rasa percaya diri; Tapi iman palsu, ilmu palsu, keadilan palsu, dan cinta palsu—itu bisa membuat bangsa tersedak tanpa tahu siapa yang memasukkan tulang ke tenggorokannya.”Semua orang di warung terdiam. Lalu seorang bapak bertanya, “Kang, filsuf, apakah kopi ini asli?” Filsuf itu memejamkan mata, menyeruput pelan, lalu menjawab dengan lantang : “Entahlah, tapi pahitnya meyakinkan……” Inilah pelajaran, bahwa yang meyakinkan bisa dianggap lebih asli daripada yang asli tapi tidak meyakinkan. ***

Ganjar Kurnia, Ketua Dewan Pembina Pusat Studi Sunda (PSS).