Bandros Bandoeng, Kuliner Warisan Leluhur

FOTO NG 350
Bandros, cemilan khas Tatar Pasundan, (Foto: Ngidam.id).

ZONALITERASI.ID – Makanan satu ini pasti sudah tidak asing. Jika mengenang masa kecil, kita sering memakannya. Makanan yang hingga kini masih banyak penggemarnya ini merupakan salah satu makanan sehat, tanpa pewarna makanan, terbuat dari tepung beras dan kelapa, serta dimasak dengan cara dibakar bukan digoreng.

Gurih rasanya dan kenyal teksturnya, bandros namanya. Bandros ini memang cocok kalau dinikmati saat sarapan pagi atau sore hari. Kini seiring dengan waktu, bandros tak hanya yang berasa asin namun juga manis, bahkan beberapa pedagang menambahkan topping di atasnya.

Resep warisan yang terjaga kerahasiaannya menjadi pembeda antara Bandros Bandoeng dan kuliner sejenis. Didapatkan dari sang nenek, Abu Nana, Iyank Ega Sukadirdja, melestarikan harta karun warisan keluarga itu. Iyank memasarkan cemilan gurih dan renyah itu di Jalan Terusan Kopo, Kabupaten Bandung.

Di warung bernuansa kuning itu Iyank menjajakan bandros beraneka rasa. Bandros rasa orisinal, sosis, bakso, abon, ayam, sapi, coklat, hingga lelehan keju, dapat dijumpai di kedai ini.

“Yang jadi favorit di sini rasa orisinal, ada cocolan sambal oncomnya,” kata Iyank, baru-baru ini.

Sambal oncom yang menjadi cocolan, sebut Iyank, merupakan resep turun temurun di keluarganya. Bagi Iyank, bandros bukanlah soal sepele. Iyank tak hendak menjadikan bandros sebagai mesin pencetak uang semata.

Bandros begitu lekat dengan leluhur keluarganya. Setiap kali ada syukuran, hajatan, atau kedatangan tamu, bandros menjadi hidangan wajib yang tak pernah absen menyapa keluarga Iyank.

Berawal dari Bedeng

Ia menceritakan, sang nenek, Abu Nana, merupakan orang pertama dalam keluarganya yang memulai bisnis bandros ini. Nana, kenang Iyank, menjajakan bandros dalam sebuah bedeng saat pengerjaan proyek pembangunan Bandara Soekarno-Hatta di kawasan Cengkareng. Konsumennya, jelas pekerja proyek.

“Dulu nenek ikut kakek mengembara. Kakek saya bisa bahasa Prancis. Waktu itu kakek saya jadi penerjemah orang Prancis. Soalnya kontraktor yang megang proyek bandara dari Prancis,” kenang Iyank.

Resep bandros yang diwarisi sang nenek telah dipatenkan dengan merek dagang Né Nana. Namun ia lebih nyaman menggunakan merek dagang Bandros Bandoeng dengan alasan tertentu.

“Supaya lebih dikenal,” katanya.

Iyank mengungkapkan, sebelumnya, sang Kakak telah memulai bisnis bandros resep warisan tersebut melalui media daring. Itu membuat Iyank terdorong untuk melakukan hal serupa. Namun dengan cara yang lebih konvensional.

Maka, dimulailah perjalanan Iyank pada 2015. Iyank pede mengarungi lautan industri kuliner Bandung dengan menakhodai Bandros Bandoeng. Dalam perjalanannya, Bandros Bandoeng kerap berganti-ganti lokasi. Mulai Gunung Batu di Cimahi, Abdurahman Saleh, hingga Margahayu. Hingga kini, Bandros Bandoeng menetap di Jalan Terusan Kopo, Kabupaten Bandung.

“Tapi, kalau bandrosnya, ada dua. Selain di sini, ada juga yang di Cimahi, di kedai punya kakak. Di Jalan Cidahu, Kedai Kaktus,” ujar Iyank.

Iyank mengaku bangga dengan bandros. Ia tak ubahnya seorang puritan yang memegang teguh warisan sakral nenek moyangnya. Soal resep, tak ada kompromi bagi Iyank. Namun demikian, Iyank menyadari, dunia berubah. Hanya ada dua pilihan: keras kepala lalu mati atau kompromi.

Pilihan kedua diambil, penyesuaian dan penambahan rasa ia lakukan seperlunya. Beberapa yang lain tetap dipertahankan, termasuk bahan baku, takaran, proses pengolahan, hingga cetakan bandros. Pasalnya, cetakan turun temurun itu dipastikan Iyank tidak akan ditemukan di tempat-tempat lain.

Beberapa waktu lalu, Kementerian Perdagangan (Kemendag) memilih Bandros Bandoeng sebagai salah satu produk kuliner yang berpotensi diwaralabakan dan turut berpartisipasi dalam penghargaan waralaba terbaik se-Indonesia yang diselenggarakan Kemendag pada 2016.

Soal rasa, Bandros Bandoeng terasa lebih gurih. Bentuk dan ukuran bandros juga tampak lebih besar dan berisi. Sambal oncomnya, mantap! “Harganya pun terjangkau. Bagi kami, yang penting pelanggan puas atas layanan kami,” ujar Iyank.

Kedai Bandros Bandoeng juga menyediakan tiga paket sajian, Seubeuh, Meujeuh, dan Baseuh. Paket Seubeuh, berisi satu baris bandros rasa orisinal berisi delapan potong, plus dua gelas bandrek atau bajigur dengan harga Rp. 20.000.

Paket Meujeuh, berisi empat potong bandros rasa coklat atau keju, plus softdrink dengan banderol harga Rp. 15.000. Sementara Paket Baseuh, berisi dua potong bandros asin (non-orisinal), beserta minuman aneka rasa dengan total harga Rp. 8.000. (wisma/des)***

Respon (90)

  1. Hi there, You have done a fantastic job. I’ll definitely digg it and personally suggest to my friends. I’m confident they’ll be benefited from this web site.

  2. Fantastic web site. A lot of helpful info here. I am sending it to some pals ans additionally sharing in delicious. And certainly, thanks in your sweat!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *