BKSDA Temukan Tiga Spesies Tumbuhan dan Satwa Liar Baru di Indonesia

tiga spesies baru tumbuhan dan satwa liar diidenti tiga spesies baru tumbuhan dan satwa liar diidenti 4E6160CB28F8F96706A8FEF9AD60DE59
BKSDA menemukan tiga spesies tumbuhan dan satwa liar baru. Salah satunya yaitu satwa liar jenis burung Myzomela irianawidodoae, (Foto: Istimewa).

ZONALITERASI.ID – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menemukan tiga spesies tumbuhan dan satwa liar baru. Ketiga spesies tumbuhan itu ditemukan di Gunung Nyiut Kalimantan Barat, Taman Wisata Alam Sorong Papua Barat, dan Pulau Rote Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya Bakar, menyebutkan, untuk spesies yang pertama ditemukan yaitu di Gunung Nyiut Kalimantan Barat pada 2022 oleh Agusti Randi, peneliti di Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar. Spesies ini dipublikasikan secara resmi pada Juli 2023 di jurnal internasional dengan nama Hanguana sitinurbaya yang terinspirasi dari nama Menteri LHK.

Kemudian, spesies yang baru saja dipublikasikan berikutnya, yakni jenis anggrek dengan nama latin Bulbophyllum wiratnoi yang ditemukan di Taman Wisata Alam Sorong, Papua Barat, oleh peneliti spesialis anggrek BKSDA Papua, Reza Saputra.

“Spesies berikutnya satwa liar jenis burung yang sebenarnya telah ditemukan sejak 2018 di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan dinamai Myzomela irianawidodoae, yang terinspirasi nama Ibu Negara Iriana Widodo yang merupakan pencinta burung dan diharapkan terus mendukung konservasi burung langka di Indonesia,” kata Siti Nurbaya, di Jakarta, Senin, 21 Agustus 2023, dikutip dari Antara.

Dia mengungkapkan, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keragaman spesies burung, reptil, dan biota air tawar peringkat tertinggi di dunia, yang memiliki potensi genetik luar biasa untuk memenuhi kebutuhan dunia, seperti sandang, pangan, dan kosmetik.

Upaya konkret yang dilakukan untuk menjaga keanekaragaman hayati tersebut, lanjutnya, dengan menyusun dokumen Folu Net Sink 2030 yang selaras dengan target dan tujuan dunia internasional dalam kesepakatan kerangka biodiversitas global di Montreal, Kanada, di mana konservasi keanekaragaman hayati menjadi aksi mitigasi dalam mencegah perubahan iklim.

“Kalau mau berbicara Indonesia yang maju dan bersaing kan kita harus mengedepankan yang negara lain tidak punya dan di Indonesia ini kita punya empat flagship spesies yang ada di satu negara sekaligus, yakni badak, harimau, orang utan, dan gajah,” ujar Siti Nurbaya.

Saat ini, tambahnya, sudah ada 6.000 desa di bawah kawasan konservasi yang telah dirangkul oleh KLHK sebagai mitra untuk turut menjaga keanekaragaman hayati.

“Untuk melibatkan masyarakat ini memang perlu artikulasi kebijakan yang tepat, jadi ada proses yang berkembang, misalnya, berdasarkan instruksi presiden. Sekarang sudah tidak boleh ada lagi kita menyebut masyarakat di sekitar hutan konservasi itu sebagai penduduk liar, atau permukiman liar, kita perlu melibatkan mereka,” pungkas Siti Nurbaya. (des)***

 

Respon (23)

  1. The next time I read a blog, I hope that it doesnt disappoint me as much as this one. I mean, I know it was my choice to read, but I actually thought youd have something interesting to say. All I hear is a bunch of whining about something that you could fix if you werent too busy looking for attention.

  2. Very well written information. It will be supportive to everyone who employess it, as well as me. Keep doing what you are doing – looking forward to more posts.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *