BUDAYA  

Cerpen Syal Biru

FOTO SASTRA 70
Ilustrasi, (Foto: realring.blogspot.com).

Karya Julia Yasmin

HONEY … pleace come with me. I really need your love. I can’t live without you … Please. I really want you to be my wife … to spend out time together, forever …”

Tak kuasa aku menatap wajah itu, lelaki itu. Dia memohon dengan penuh harap, sambil mengggenggam kedua tanganku. Tidak ada kata-kata yang dapat aku ucapkan untuk menjawab permohonannya. Tenggorokanku serasa tercekat. Ada rasa bahagia, ada rasa haru, ada rasa sedih. Entahlah, saat itu aku hanya bisa meneteskan air mata tanpa alasan yang jelas. Wajahnya mulai menyendu. Karena dari tadi tak kunjung kujawab permohonannya. Aku larut dalam suasana malam itu. Mengingatkanku pada awal-awal masa kami berkenalan dahulu.

“Rin, aku kedinginan. Kita beli minuman hangat dulu yuk di toko itu” ajakku pada temanku, Rini, ketika kami sedang menunggu Tram yang akan membawa kami ke EDC. “Oke, tapi entar aku bagi ya,” begitu jawab Rini. Seperti biasanya dia selalu mengiyakan apa pun yang aku minta. Aku benar-benar bersyukur bisa satu HF dengan Rini, dia guru SD dari sebuah Kota di Tasikmalaya. Kami sama-sama tergabung dalam Grup 1 untuk program West Java Training Managenet for Teacher di Adelaide selama 21 hari. Dia teman yang baik, aku dapat berbagi segala hal dengannya. Aku sudah mengganggapnya seperti adikku sendiri, karena usia kami terpaut cukup jauh 10 tahun. Rini orangnya periang dan Easy Going. Satu lagi dia belum menikah. Aku tidak mengerti kenapa orang seramah dan seceria Rini masih belum mendapatkan jodoh. Dunia benar-benar tidak adil pikirku. Akhirnya kami pun berjalan menuju toko di sudut jalan di depan Stasiun Railway.

“Eh mending kita duduk di sana, sambil menunggu teman-teman yang lain. Tuh ada bangku yang lucu sekalian kita foto-foto di sana ya,” pintanya. “ Oke,” jawabku sambil memegang secangkir capucino.

Berrrzzzz udara saat itu memang dingin mungkin sekitar 7 derajat. Benar-benar di luar dugaan kami. Kami tidak memperkirakan cuaca yang ekstrem seperti ini sebelumnya. Untung rumah HFku dekat Salvos, sehingga kami bisa mendapatkan keperluan apapun di sana dengan harga yang jauh lebih murah. Heemmm Salvos tiba-tiba menjadi tempat favorit untuk dikunjungi setelah pulang dari EDC. Setiap harinya ada saja yang kami beli dari Salvos.

Belum lima langkah kakiku beranjak, tiba-tiba terdengar ada suara. “Hai, it’s your’s?” suara yang berat tapi terdengar jelas. Kutengok ke belakang, kulihat seorang laki-laki, menggunakan jaket tebal berwarna coklat menggunakan topi hitam memegang syalku berwarna biru. Deg, jantungku berdetak keras. Di hadapanku berdiri sesosok laki-laki bertubuh tegap, wajahnya bersih, berkumis tipis, dan senyumnya bersahaja. Aku tidak bisa menebak berapa usia lelaki itu. Walaupun sudah dua minggu aku berada di Adelaide, aku tidak pernah berani untuk bercakap-cakap dengan orang lain selain HFku. Entahlah mungkin karena aku sadar bahasa Inggrisku pas-pasan. Jadi aku tidak pernah berani untuk membuka percakapan dengan orang asing.

Oh ya, that’s mine,” jawabku. Oh rupanya tanpa sadar syalku jatuh ketika aku sibuk mencari uang untuk membayar capucino dan secup mie instan.

Oke, I put this from there.” Katanya lagi sambil menunjuk ke lantai di belakangnya.

Be careful.” Kemudian diberikannya syal itu kepadaku. Entah kenapa syal itu dikalungkannya ke pundakku. Memang saat itu kedua tanganku tidak bisa menerima syal yang dia berikan. Tangan kanan memegang capucino dan tangan kiri memegang mie instan. Ada rasa hangat menjalar ke tubuhku ketika tidak sengaja tangannya menyentuh pipiku. Aku pun tersenyum merasakan hangat yang tiba-tiba hadir di saat semuanya terasa begitu dingin.

Oooh, thanks for your kind,” tertegun aku melihat sikapnya. Ahhh segera kutepis pikiran yang tidak jelas. Seperti yang aku tahu mungkin ini adalah salah satu bukti kebaikan orang-orang bule terhadap pendatang baru atau orang lain.

It’s oke, hai you aren’t from here? Where you from?” Sesaat dia memandangku dengan penuh selidik. Rupanya dia baru menyadari kalau aku bukan asli orang Adelaide. Tentu saja selintas siapapun akan dengan mudah menebak kami bukan orang Adelaide. Kami adalah orang Asia, dengan ciri yang khas baik perawakan maupun jenis kulit kami. “Yes, we are from Indonesia’” jawabku. “Indonesia? Hai, aku juga berasal dari Indonesia, Surabaya tepatnya,” lanjutnya. “Senang rasanya bisa bertemu dengan sesama orang Indonesia di negeri orang. Oh ya, ini kartu namaku jika kalian membutuhkan sesuatu, aku akan dengan senang hati membantu kalian. Please call me.” Jelasnya sambil menyimpan kartu namanya di atas cup indomieku. “Baik, terima kasih,” jawabku sambil tersenyum. “But sorry, I must going now, I have something to do. See you next.” Kemudian dia pun bergegas pergi meninggalkan kami berdua yang tertegun memandangnya. Dia pun pergi berjalan menyusuri lorong di sepanjang jalan di sebelah kanan stasiun Railwey.

“Hai, jangan bengong! Terpesona ya?“ Teriak Rina di telingaku. Ups kaget aku mendengar teriakannya. Hampir saja minumanku tumpah. “Enak aja, tak usah ya,” jawabku. “Hahahahaha.” Akhirnya, kami pun tertawa bersama sambil berjalan mendekati tempat pemberhentian tram karena kami lihat dari jauh tram itu sudah datang.

“Yas, mana kartu nama itu? Sini kita telepon yuk cowok yang kemarin.” Kata Rini padaku sambil duduk di lantai berusaha membuka sepatu boot yang sudah 2 minggu ini menemani hari-hari kami menyusuri sepanjang jalan Adelaide. “Ah, ngapain?” jawabku tak acuh. Tapi kenapa hatiku berdebar-debar ketika Rini mengingatkan aku pada laki-laki kemarin itu. “Sudahlah, biar aku yang bicara, waktu kita kan tinggal 5 hari lagi di Adelaide. Sayang kalau kita lewatkan hanya dengan kegiatan yang itu-itu juga. Ini kesempatan Yas, untuk mengeksplor tempat yang tinggal beberapa hari lagi akan kita tinggalkan. Ayo, daripada besok kita hanya di rumah saja, ini Sabtu terakhir Yas,” lanjutnya. “Aku gak tanggung jawab loh ya, kalau ada apa-apa.” Timpalku sambil membuka jaket tebal yang menutupi tubuhku seharian ini. “Tenang saja, serahkan padaku. Aku juga gak akan berani kalau dia hanya orang bule seperti yang lainnya. Ternyata dia kan orang Indonesia juga. Dan kelihatannya dia orang baik. Pastinya dia sama aja kayak kita,” jelas Rini.

“Hemmm. Oke terserah kamu. Aku ngikut aja. Tapi jangan salahkan aku ya. Kalau ada apa-apa.” Jawabku sambil memberikan kartu nama yang dari kemarin aku simpan di jaketku. Aku bersikeras untuk tidak menuruti keinginannya. Tapi jauh di lubuk hatiku ada sedikit rasa bahagia ketika Rini mengajukan rencananya yang gila itu. Aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba dadaku berdebar. Ahhhhh apa ini? Segera kutepis perasaanku itu.

“Ayo Yas, cepatlah. Dia sudah menunggu di depan Stasiun Railway. Nanti bule Indo itu keburu pergi.” Begitu dia sebut Samy Bangun Prasetya sejak hari kemarin setelah berhasil menelpon Samy. Entah jurus apa yang Rini keluarkan sampai dia berhasil mengajak Samy untuk menemani kami seharian di hari Sabtu ini. Bahkan keesokan harinya kami menghabiskan waktu bersama seharian, membuka tenda di tepi pantai, membakar jagung, menyiapkan barbeque sambil tertawa bersama, bernyayi bersama. Ternyata ada kebahagiaan yang akhirnya dapat kami rasakan setelah 2 minggu full kami berkutat dengan pemberian materi di EDC.

Itu adalah saat pertama aku berjumpa denganmu. Aku tidak akan lupa syal itu. Syal biru itu yang sudah membawamu padaku. Membawa harapan-harapan yang sudah lama tidak kurasakan, sejak kepergiannya. Membawa bunga-bunga yang bermekaran, setelah lama layu dan tak berkembang. Pertemuanku yang pertama itu membawaku kepada pertemuan-pertemuanku selanjutnya, padahal waktuku di Adelaide tinggal beberapa hari lagi. Tapi ternyata justru di saat minggu terakhir itu aku menemukan sesuatu yang indah, yang membuatku enggan untuk kembali ke Tanah Air. Heemmmm ada apa dengan diriku? Apakah aku jatuh cinta lagi? Padahal sebelumnya aku sudah jenuh dengan keadaan di Adelaide. Jenuh dengan segala keindahan dan kedisiplinan karena harus terus membandingkan dengan ketidakedisiplinan dan ketidakindahan kotaku di Tanah Air.

Samy, saat itu dia adalah seorang mahasiswa Program Doktoral di Adelaide University. Sudah 2 tahun dia tinggal di Adelaide, dan ini tahun ketiga di mana dia harus segera menyelesaikan program doktoralnya karena terikat dengan beasiswa yang diperolehnya. Usianya 5 tahun lebih muda dariku. Tapi entahlah, aku merasa dia terlihat dewasa. Lebih dewasa dari usianya. Bersamanya aku merasa tenang. Bersamanya aku merasa nyaman. Wawasannya luas. Itu yang membuatku betah berlama-lama berdiskusi membicarakan masalah pendidikan yang mendera negeriku.

Tapi ternyata kedekatan kami mendatangkan rasa yang lain. Pertama kukira dia mendekati aku untuk mendapatkan perhatian Rini yang memang masih lajang. Tapi ternyata semua di luar dugaanku. Aku juga tahu dari Rini ternyata Samy menaruh hati padaku dan bukan padanya setelah Rini berterus terang bahwa Rini suka pada Samy. Hemmm awal yang sulit, yang membuat posisiku sulit. Tapi karena perhatiannya, ketekunannya, dan keseriusannya, hatiku mulai mencair. Dia selalu menyempatkan datang ke kotaku, bila dia pulang ke Indonesia. Kami habiskan waktu bersama untuk mengobrol banyak hal. Dia sangat perhatian padaku. Segala perhatiannya membuahkan rasa di hatiku, yang selama ini sudah kututup rapat untuk siapapun.

Hari ini, setelah 2 tahun berlalu sejak pertemuanku dengannya adalah kali yang ketiga dia bersimpuh di hadapanku, meminangku untuk menjadi istrinya. Dan juga hari terakhir aku akan berjumpa dengannya bila aku tidak segera memberikan jawaban atas pinangannya.

Ya Allah ujian ini begitu berat. Jauh di lubuk hatiku yang terdalam aku juga mencintainya. Aku juga membutuhkannya. Dia yang telah mengisi hari-hariku selama 2 tahun ini dengan penuh harapan. Menjadikan hariku lebih bersemangat, menjadikan aku lebih ceria dan optimis menatap masa depan. Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus menerima pinangannya ataukah aku harus menolaknya dan mengingkari kata hatiku.

Duh Gusti kedua-duanya adalah keputusan yang sulit. Kemudian kukeluarkan sepucuk surat yang sudah aku siapkan dari tiga hari ini. Tanganku bergetar ketika memberikan suratku itu padanya.

“Bacalah!” kataku lirih.

“Jawabanku ada di situ,” aku menatapnya dengan penuh harap.

“Dan, sebaiknya kau antar aku pulang sekarang, ini sudah terlalu larut.” Akhirnya kami pun pulang tanpa berucap sepatah kata pun di sepanjang perjalanan. Hanya hening, alam benar-benar telah mempermainkan perasaan kami.

Kurebahkan tubuhku di atas kasur memandang langit-langit kamar, tatapanku kosong, hanya ada bayanganmu di sana. Ingatanku menerawang mengingat dirimu. Apa yang akan kamu lakukan dengan surat itu? Bagaimana perasaanmu setelah membaca surat itu? Ahhhh aku menghela nafas panjang. Semuanya sudah kuputuskan, apapun resikonya harus aku terima.

Kemudian kuambil buku di atas meja di pinggir tempat tidurku. Di dalamnya terselip sepucuk surat salinan suratku yang telah kuberikan padamu. Perlahan kubuka dan kubaca.

Dear Samy …

Maafkan aku bila tidak bisa bersamamu. Maafkan aku bila tidak bisa memenuhi keinginanmu untuk menemanimu, menjalani hari-hari kita di sepanjang sisa hidup kita berdua, seperti katamu. Kamu tahu dengan benar, bagaimana perasaanku padamu. Kamu tahu dengan benar bagaimana harapanku padamu.

Tapi Samy … rupanya besarnya cintamu padaku, besarnya cintaku padamu, tidak bisa mengalahkan besarnya cintanya padaku dan ketiga anakku. Aku tidak punya cukup kekuatan untuk menepiskan kenyataan yang terbentang lebar di antara kita berdua. Jarak usia kita, keadaanku dan keadaanmu, baik secara sosial dan status. Walaupun telah berjuta kali kau katakan itu tidak mengapa. Dan, kamu bisa menerima aku apa adanya. Tapi Samy … aku tidak bisa menutup kedua mataku dan mengingkari kenyataan hidup yang ada. Aku tidak sanggup memilih untuk menjalani hidup bersamamu, dan melupakan dirinya yang selama ini telah dahulu hadir di kehidupanku, bahkan setelah kepergiannya.

Dear Samy … maafkan aku, bila kau anggap aku telah mempermainkan perasaanmu. Tidak Samy … aku tidak pernah bermain-main dengan apa yang aku rasakan. Aku benar-benar mencintaimu. Tapi seperti katamu aku hanya mencoba untuk berpikir realistis dan menuruti kata hatiku. Walaupun pada akhirnya keputusan yang aku buat ini sangat menyakitkanmu. Tidak masuk akal katamu, dan aku berbohong pada diriku dan dirimu, juga pada perasaanku dan perasaanmu. Percayalah Samy … keputusanku ini juga sangat menyakiti hatiku.

Tapi Samy … aku yakin, keputusanku ini adalah keputusan yang tepat, saat ini. Tidak saja terbaik untuk diriku dan ketiga anakku. Tentu juga terbaik untukmu, keluargamu, dan masa depanmu.

Samy … dengan surat ini, dengan berat hati, aku melepaskanmu. Untuk melupakanku. Untuk melupakan harapan-harapan kita. Terimalah dia gadis yang disiapkan keluargamu untuk mendampingi hidupmu. Dia berjuta kali lebih baik dariku. Aku rela melepaskanmu demi kebahagiaanmu.

Samy … maafkan aku, yang tak bisa membuat janji untukmu. Karena aku sudah terikat dengan janjiku terdahulu, kepada mendiang Suamiku. Bahwa aku akan menjadi bidadarinya kelak, di sana. Di tempat yang abadi. Maafkan aku, atas janjiku padanya yang tak bisa kuingkari, seumur hidupku.

Aku yang akan selalu mendoakan kebahagiaan untukmu.

Yasmin

Kriiiiiinggg … kriiingggg … kuabaikan bunyi HP di tasku. Karena aku tahu, telepon itu pasti darimu. Berulang kali aku ganti nomor HPku, tapi kamu selalu menemukan aku. Dan hari ini genap 1 tahun setelah kukirimkan suratku padamu. Sejak saat itu kita tak pernah bertemu. Tapi smsmu selalu sampai padaku, bahwa kamu masih tetap mencintaiku dan mengharapkan aku. Selamanya. Kamu akan selalu menungguku di Kota itu. Di Adelaide.

Ahhhh aku capek, aku lelah. Suamiku, di saat seperti ini, aku sangat merindukanmu. Merindukan belaian tanganmu sambil membelai rambutku. Merindukan dadamu sebagai tempatku bersandar, di kala kelelahan menerpa jiwaku. Merindukan dekapanmu yang dapat menenangkan hatiku yang gundah. Dan, merindukan kecupan mesramu di keningku sambil berkata “Aku cinta padamu.”

“Sayang, andai kau ada di sini, aku membutuhkanmu, aku merindukanmu.” Lirihku berkata sambil kupandang dan kuusap pusaramu. Kutahu kamu mendengarkan rintihan hatiku. Kutahu kau selalu ada untukku. Suamiku, maafkan aku, sesaat aku pernah mengabaikanmu. Tapi hati ini, jiwa ini hanya milikmu. Allah hanya menguji cintaku padamu dengan kehadirannya. Dan, aku tak sanggup menggantikan dirimu dengan kehadirannya. Betapa pun besar cintanya padaku. Tidak ada yang sanggup, sampai detik ini.

Kupandangi pusara itu dengan penuh cinta. Kudekap fotomu yang selalu menemaniku ke mana pun kakiku melangkah. Kutaburkan bunga di atas pusaramu dan kutuangkan air mawar ini disertai doa.

“Suamiku, tunggu aku di sana. Semoga ibadahku menjaga dan membesarkan buah hati kita serta mengantarkan mereka ke pintu kebahagiaan cukup menjadikanku menjadi bidadarimu kelak. Sebagaimana janjiku padamu. Tunggu aku.” ***

Julia Yasmin, guru dan penyuka sastra, tinggal di Kota Bandung.

Respon (38)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *