BUDAYA  

Cerpen Pisang dari Kampung

51250 kue barongko adalah nagasarinya masyarakat makassar
Ilustrasi cerpen Pisang dari Kampung, (Foto: Suara.com).

Karya Ramli Lahaping

“Saat ini, aku dan Ibu sedang di tengah perjalanan. Nanti, Ibu ingin menginap di rumahmu,” kata kakakku, melalui sambungan telepon.

Mendengar informasi itu, aku jadi kelabakan. Tetapi aku tak bisa apa-apa selain menyambutnya sebaik mungkin. “Oke. Aku pasti sudah berada di rumah sebelum kalian sampai.”

“Baiklah.”

Aku lantas memutuskan sambungan telepon.

Seketika pula, pikiranku dihantui dua tandan buah pisang di rumahku. Pisang kepok dan pisang barangan itu, kubawa dari kampung kelahiranku seminggu yang lalu. Kini, buah pisang yang lebih dari dua puluh sisir tersebut, sudah sangat masak, bahkan beberapa hampir membusuk. Aku dan istriku kurang mengonsumsinya, sebab kami sama-sama tak doyan memakannya secara langsung. Kami hanya menggemarinya dalam bentuk olahan, semisal pisang nugget, pisang ijo, atau keripik pisang, sebagaimana yang biasa kubeli.

Tetapi sayang, istriku bukanlah orang yang pandai tata boga. Ia tak cakap membuat kue, bahkan tampak tidak tertarik untuk belajar. Karena itulah, aku maklum saja untuk tidak menyuruhnya membuat penganan dengan bahan pisang dari kampung tersebut. Aku takut ia malah ogah-ogahan, hingga hasilnya buruk. Dan tentu, menjelang kedatangan ibuku yang ahli dalam soal masak-memasak, aku tak ingin hidangan buruk menyambutnya.

Akhirnya, aku menyesal telah memperturut keinginan ibuku untuk membawa semua buah pisang yang kupanen dari kebun kami. Aku menyesal karena tidak berkeras untuk hanya membawa lima atau enam sisir saja. Tetapi kalau kupikir-pikir lagi, memang begitulah yang akan terjadi, meski waktu diputar dan aku kembali bernegosiasi. Pasalnya, sebagaimana kebiasaannya sejak aku mulai kuliah di kota, ia memang selalu memaksaku membawa banyak buah-buahan dari kampung.

Sebenarnya, aku senang saja membawa oleh-oleh dari kebun. Yang tak kusuka adalah jumlahnya yang selalu berlebihan. Sejak masa-masa kuliah dahulu, itu sangatlah merepotkan. Selain karena akan mengambil banyak tempat pada mobil sewa yang kutumpangi, sampai para sopir ogah-ogahan, juga karena aku mesti membayar tagihan lebih. Tetapi alasan itu tidak bisa lagi kupakai pada kepulanganku seminggu yang lalu, sebab aku dan istriku menumpang mobil kakakku yang cukup lowong dengan hanya berisi tiga orang penumpang. Karena itu, sampailah buah pisang yang banyak itu di rumahku, dan entah harus diapakan.

Atas perkara pisang itu, juga atas perkara rumah tangga yang lain, pikiranku pun disesaki bayangan-bayangan menakutkan. Ibuku akan tinggal di rumahku, dan istriku akan terkungkung dalam suasana yang tidak menyenangkannya atas hubungan mereka yang dingin. Meski mereka tak pernah berkonfrontasi, tetapi dari sisi mereka masing-masing, aku tahu kalau mereka memiliki prasangka buruk dan sentimen miring satu sama lain. Ibuku senantiasa menyampaikan komentar kepadaku kalau istriku tidak pandai mengurus pekerjaan rumah tangga, sedangkan istriku menilai kalau ibuku terlalu kaku dan cerewet.

Ketidakcocokan di antara mereka, kubaca makin jelas saat dua minggu yang lalu, kala aku dan istriku berada di kampung, di tengah cuti kerjaku. Selama tujuh hari, aku bisa menyaksikan kalau istriku yang pertama kalinya bermalam lama di rumah kampungku, tidak bisa larut dalam komunikasi yang cair dengan ibuku. Sikap mereka yang tampak bertolak belakang, membuat mereka tidak bisa bercakap-cakap dengan hangat. Mereka sama-sama tidak pandai memancing obrolan, apalagi candaan. Mereka hanya saling berbagi kata yang seperlunya dan sekenanya sepanjang latar suara tayangan televisi atau musik dari ponsel.

Pada hari-hari itu pula, kuterka kalau tercipta pergolakan batin di antara keduanya dalam soal urusan pekerjaan domestik. Ibuku yang enggan memerintah dan berharap orang lain sadar untuk bekerja, berharap istriku yang tak cekatan akan menunaikan pekerjaan rumah tanpa perlu arahannya. Tetapi nyatanya, yang terjadi, ibuku yang berinisiatif tinggi, kerap menyapu rumah, mencuci piring, dan memasak sebelum istriku terpikir untuk melakukannya. Lalu, ketika istriku mulai sadar akan kelambanannya dan menawarkan diri untuk menggantikan ibuku dalam bekerja, ibuku malah menolak dengan senyuman yang dibuat-buat karena telanjur kecewa.

Atas keadaan itulah, aku mulai mendengar penilaian ibuku terhadap istriku secara jelas. Menurut ibuku, istriku adalah orang yang pemalas. Katanya, istriku tidak lihai dalam mengurus pekerjaan rumah tangga. Sebaliknya, istriku menilai kalau ibuku adalah orang yang judes dan sentimental. Katanya, ibuku tidak ramah dan tidak bisa merangkulnya sebagai seorang menantu yang lahir dan besar dengan didikan lingkungan perkotaan.

Aku tak tahu siapa di antara mereka yang benar atau salah. Yang bisa kupahami, mereka sama-sama memiliki sisi sifat yang buruk dan ogah saling memaklumi. Karena itu, setiap kali mendengar penilaian negatif di antara mereka dari sisi mereka masing-masing, aku hanya terus berusaha menegaskan kalau mereka sebenarnya sama-sama berhati baik, dan mereka hanya butuh waktu kebersamaan yang lebih lama untuk saling mengerti.

Namun setelah baru seminggu kepulangan aku dan istriku dari kampung, kurasa, belum waktunya mereka kembali seatap. Kupikir, perlu jeda yang lebih lama lagi untuk mereka bisa saling memahami atas ketegangan yang telah terjadi. Aku takut kalau kebersamaan mereka di tengah sentimen mereka yang masih menggunung, malah akan memicu konflik terbuka, sampai mereka bertengkar karena persoalan sepele yang mereka besar-besarkan.

Akhirnya, demi menghindari keadaan yang membahayakan, tiga jam yang lalu, aku menghubungi istriku dan memintanya untuk mempersiapkan apa pun demi menyambut kedatangan ibuku.

“Tenanglah. Ibuku hanya akan tinggal sebentar di rumah kita. Bersabarlah,” pintaku, setelah menyampaikan kabar tersebut dan mendengarkan kekalutannya. “Aku mohon, bersikap manislah selama dia ada. Jangan membuat dia kesal. Karena itu, sigaplah dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Buktikanlah kalau kau benar-benar menantu yang baik.”

“Baiklah. Akan aku upayakan. Mau bagaimana lagi,” tanggapnya, penuh kepasrahan. “Tetapi aku minta, kau cerdas-cerdaslah juga mencairkan suasana dan obrolan di antara kami. Kau harus menjadi penengah yang baik.”

Seketika, aku senang mendengar kesediaannya. “Tentu. Aku akan berusaha memantik tawa kalian dengan candaan dan guyonan yang ampuh,” tuturku, meyakinkannya, lantas tertawa pendek.

Ia terdengar mendengkus saja.

“Oh, ya, demi menjaga perasaan Ibu, aku minta kau membereskan pisang yang kita bawa dari kampung. Aku ingin bagian buah yang sudah terlalu masak atau sudah membusuk, lenyap dari rumah. Terserah kau saja, mau membagikannya lagi kepada tentangga atau membuangnya. Yang pasti, aku tak ingin Ibu datang dan melihat. Ia bisa kecewa karena kita tidak menghargai pemberiannya. Ia bahkan bisa marah karena itu,” pintaku lagi.

“Baiklah,” balasnya, dengan suara lemah.

“Terima kasih, Sayang, karena kau sudah mau mengerti,” ucapku.

“Iya,” pungkasnya, lantas memutuskan sambungan telepon.

Kini, hari sudah sore. Jam kantorku telah berakhir. Kuperkirakan, sekitar satu jam lagi, ibuku akan sampai di rumah.

Demi menyambut kedatangan ibuku secara baik, aku pun bergegas pulang. Tetapi sebagaimana yang kupahami, pulang tepat di jam tutup kantor adalah sebuah keputusan untuk memasrahkan diri ke dalam kemacetan. Kenyataan itu akhirnya kualami. Bahkan kesesakan jalan raya lebih parah daripada biasanya. Kendaraan berjejalan di badan jalan, hingga meluber ke trotoar. Sama sekali tak ada celah untuk menyelinap cepat, meskipun aku mengendarai sepeda motor.

Mau tak mau, aku harus bersabar. Bagaimanapun, meluapkan emosi di tengah kemacetan adalah sikap yang tak berguna dan malah membahayakan. Tak ada cara untuk meloloskan diri selain menunggu kendaraan terurai secara alami. Dan akhirnya, setelah sekian lama bergerak maju dengan sangat lambat, aku pun sampai di dekat titik kemacetan. Sebuah lokasi, tempat sejumlah mahasiswa berdemonstrasi dengan membakar ban dan menutup sebagian badan jalan.

Kutilik lagi penunjuk waktu di ponselku. Sudah 25 menit berlalu dari jam 4 sore. Kutaksir kalau tidak lama lagi, ibuku akan sampai di rumahku, sedangkan aku masih juga terjebak kemacetan di tengah perjalanan yang semestinya bisa kutempuh dalam waktu kurang dari setengah jam. Dan benar saja. Sesaat kemudian, kakakku mengirimkan pesan singkat kepadaku bahwa ia dan ibuku telah tiba.

Dengan rasa gerah dan perasaan kesal, aku pun berusaha cekatan untuk bebas dari kemacetan. Setiap kali ada celah, aku akan menyusup demi melewati batas akhir kemacetan sesegera mungkin. Aku sungguh tak tega membiarkan istriku terjebak di tengah suasana dingin dengan seseorang yang jelas menyungkankan baginya. Karena itu, aku ingin cepat-cepat sampai dan menjadi pencair kebekuan situasi di antara mereka.

Hingga akhirnya, setelah beberapa saat, aku berhasil melewati titik kumpul para demonstran. Jalan di depanku jadi sangat lowong. Aku lantas melajukan sepeda motorku dengan kecepatan tinggi. Dalam waktu sekitar sepuluh menit, aku pun berhasil sampai di rumahku.

Aku kemudian bergegas masuk dan menjumpai ibuku dan istriku yang tengah duduk di lantai ruang keluarga, di depan layar televisi.

“Ibu bawa kue ini dari kampung?”  tanyaku, heran, setelah melihat sejumlah kue di depan mereka.

Ibuku menggeleng, lalu menelan kunyahan kue di mulutnya.

“Bukan. Ini buatan istrimu,” katanya kemudian.

Sontak saja, aku terkejut heran. Aku benar-benar tak menyangka kalau istriku bisa mengolah pisang menjadi penganan berupa barongko dan pisang ijo.

“Ternyata, diam-diam, istrimu ini jago masak juga. Ia bisa membuat hidangan yang enak dengan bahan baku pisang yang kalian bawa dari kampung,” puji ibuku, dengan raut yang tampak tulus.

Aku pun tersenyum senang. “Itulah sebabnya aku memilih dia menjadi menantu Ibu,” tanggapku, menggoda, untuk mencairkan suasana.

Seketika, istriku tampak tersipu malu.

“Kalau begitu, kapan-kapan, kalau kalian ke kampung lagi, ambilah pisang lebih banyak lagi di kebun,” saran ibuku.

Aku menyengir saja dan mengangguk tanggung.

Ibuku tersenyum senang.

Dengan rasa penasaran, aku kemudian turut menyantap kudapan buatan istriku tersebut. Dan seketika, aku bersaksi kalau sajiannya itu cukup enak.

Diam-diam, aku pun memendam pertanyaan besar untuk istriku, perihal bagaimana bisa ia membuat hidangan yang nikmat dengan bahan baku pisang. Aku tak sabar untuk segera menanyakan itu kepadanya.***

Ramli Lahaping, kelahiran Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Menulis di blog pribadi (sarubanglahaping.blogspot.com). Bisa dihubungi melalui Twitter (@ramli_eksepsi) atau Facebook (Ramli Lahaping).

 

 

 

Respon (43)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *