“Darah dan Doa”: Film Nasionalis Pertama

Darah dan Doa 980x400 1
Film "Darah dan Doa", sebuah film nasionalis karya Usmar Ismail, (Foto: Wikipedia.org).

ZONALITERASI.ID – Tanggal 30 Maret 1950 diperingati sebagai  Hari Film Nasional. Peringatan itu untuk mengenang momen bersejarah, perilisan film “Darah dan Doa” atau disebut juga “Long March of Siliwangi”, sebuah film nasionalis karya Usmar Ismail, 73 tahun lalu.

Mengutip Tirto.id, Senin, 17 Juli 2023, sebenarnya, kancah perfilman Indonesia dimulai sejak masa kolonialisme Belanda yang ditandai dengan berdirinya bioskop pertama di daerah Tanah Abang, Batavia, pada 5 Desember 1900.

Pada era itu, bioskop tersebut baru menampilkan film bisu atau silent movie.

Tahukah Anda, apakah film pertama yang diproduksi oleh Indonesia? Film tersebut adalah “Loetoeng Kasaroeng” yang diproduksi pada 1926. Film ini merupakan film bisu yang disutradarai oleh sutradara asal Belanda, G. Kruger dan L. Heuveldorp karena saat itu Indonesia masih dijajah Belanda.

Sedangkan pembuatan film ini melibatkan aktor lokal yang dinaungi perusahaan film JAWA NV di Bandung. Loetoeng Kasaroeng dirilis untuk masyarakat luas pada 31 Desember 1926 dan diputar pertama kalinya di teater Elite and Majestic, Bandung.

Dua tahun kemudian, sekitar tahun 1928, para pekerja film dari Shanghai datang ke Indonesia untuk memproduksi film “Lily van Shanghai”. Meski Loetoeng Kasaroeng dan Lily van Shanghai banyak melibatkan aktor lokal, namun kedua film pertama tersebut lebih merepresentasikan dominasi Belanda dan Cina.

Saat Jepang merebut kekuasaan Belanda, produksi film Indonesia masih terus berjalan. Jepang pun memanfaatkan hal tersebut sebagai alat propaganda politiknya dengan tidak mengeluarkan izin produksi. Sehingga, bioskop hanya memutarkan film propaganda Jepang dan film Indonesa yang sudah ada sebelumnya.

Masa kekuasaan Jepang di Indonesia dapat dikatakan sebagai era surutnya produksi film nasional. Di tahun 1942, perusahaan film Jepang di Indonesia, Nippon Eigha Sha pun hanya memproduksi tiga film, yaitu “Pulo Inten”, “Bunga Semboja”, dan “1001 Malam”.

Hingga kemudian setelah kemerdekaan dan pemerintahan stabil, industri perfilman Indonesia kembali dengan dirilisnya film Darah dan Doa pada 1950. Produksi film tersebut dinaungi oleh Perusahaan film Nasional Indonesia (Perfini), di mana sang sutradara Usmar Ismail menjadi salah satu pendirinya. Inilah sebabnya mengapa Hari Film Nasional dirayakan setiap tanggal 30 Maret.

Darah dan Doa menceritakan perjalanan panjang atau long march prajurit Indonesia dan keluarganya dari Yogyakarta menuju pangkalan utama mereka di Jawa Barat yang dipimpin oleh Kapten Sudarto. Perjalanan mereka dimulai setelah Yogyakarta diserang dan diduduki oleh Belanda. Dalam perjalanan, Kapten Sudarto bertemu seorang pengungsi wanita berdarah Indo-Belanda. Kapten Sudarto pun menaruh hati kepadanya, walaupun ia telah mempunyai istri.

Meski terdapat bumbu romansa, namun film ini sukses menggambarkan ideologi yang dimiliki rakyat Indonesia untuk memperjuangkan kemerdekaan. Oleh karena itu, Darah dan Doa dianggap sebagai film pertama yang menggambarkan ciri khas Indonesia dan dinilai titik bangkitnya perfilman tanah air. (des)***

 

Respon (29)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *