Etika Berbahasa di Kampus Kritis, Mahasiswa Pascasarjana UPI pun Ciptakan Model Pembelajaran Ini

ahmad 2
Ilustrasi suasana kuliah di kampus, (Foto: UPI).

ZONALITERASI.ID Keluhan tentang minimnya etika berbahasa dalam komunikasi akademik mahasiswa kerap mengemuka. Dalam kegiatan akademik di kampus, mahasiswa terlihat sering mengabaikan etika berbahasa dalam berkomunikasi.

Di sisi lain, dalam banyak praktik pembelajaran bahasa di perguruan tinggi, aspek kebahasaan lebih dominan dibandingkan pembentukan karakter komunikasi yang santun.

Menyikapi kondisi itu, Ahmad Fuadin mahasiswa program S-3 Program Studi Pendidikan Umum dan Karakter, Sekolah Pascasarjana UPI membuat inovasi pembelajaran untuk memperkuat karakter kesantunan berbahasa mahasiswa.

Inovasi ini dikemas dalam penelitian bertajuk “Pengembangan Model Project Based Learning Berbasis Prinsip Konsiderasi untuk Penguatan Karakter Kesantunan Berbahasa Mahasiswa”.

Melalui riset untuk meraih gelar doktor ini, Ahmad menghasilkan produk model pembelajaran yang dilengkapi sintaks pembelajaran, perangkat ajar dan instrumen evaluasi karakter kesantunan berbahasa mahasiswa.

“Pengembangan model ini dilatarbelakangi oleh fenomena komunikasi akademik mahasiswa yang semakin kritis. Padahal, pembelajaran bahasa seharusnya tidak hanya melatih kemampuan menyampaikan gagasan, tetapi juga membangun kesadaran etis dalam berkomunikasi,” ujar Ahmad, saat mempresentasikan hasil penelitiannya.

Model yang dikembangkan Ahmad memadukan pendekatan Project Based Learning dengan Prinsip Konsiderasi yaitu nilai empati, penghargaan terhadap orang lain, dan kesadaran moral dalam praktik komunikasi.

Dalam implementasinya, mahasiswa tidak hanya menyelesaikan proyek akademik, tetapi juga dilatih merefleksikan cara mereka berdiskusi, menyampaikan argumen, dan merespons perbedaan pendapat secara santun.

Sebagai produk penelitian, model ini dirancang melalui tahapan penelitian dan pengembangan yang sistematis mulai dari analisis kebutuhan, perancangan model konseptual, pengembangan perangkat pembelajaran hingga uji coba implementasi dan evaluasi efektivitas model.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model tersebut mampu meningkatkan kualitas interaksi akademik mahasiswa yang lebih dialogis, reflektif dan beretika dalam penggunaan bahasa.

Tim promotor yang terdiri atas Prof. Dr. Syihabuddin, M.Pd. sebagai promotor, Prof. Dr. Mupid Hidayat, M.A. sebagai ko-promotor dan Prof. Dr. Yeti Mulyati, M.Pd. sebagai anggota menyampaikan, penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam pengembangan pembelajaran bahasa di perguruan tinggi khususnya dalam mengintegrasikan dimensi kognitif dengan pembentukan karakter komunikasi mahasiswa.

“Ke depan model pembelajaran ini diharapkan dapat menjadi rujukan dalam pengembangan pembelajaran bahasa di perguruan tinggi yang tidak hanya berorientasi pada kompetensi akademik, tetapi juga pada penguatan karakter kesantunan berbahasa dalam kehidupan akademik dan sosial,” ujarnya. (des)***