BUDAYA  

Cerpen Jejak Cinta dari Kereta

Karya Mas Djie

(Ilustrasi: Tea and Lead)

GADIS itu begitu cantik nan lugu memeluk erat tas bawaannya, seolah sebagai penghangat dari dingin angin yang masuk lewat jendela kereta yang terbuka.

Rambutnya yang tergerai panjang dipermainkan angin bergelombang laksana ombak. Binar matanya mengambarkan kebahagiaan sesekali senyuman menghiasi bibir tipisnya. Seperti sedang mereka-reka bayangan keindahan dalam hidupnya. Penuh penumpang kereta tak mampu sekedar menggoda kekhusyukan lamunannya.

Beberapa kali pedagang asongan menawarkan makanan dan minum tak jua dihiraukan.

Gadis itu terus asik dengan dunia lamunannya. Di bangku lain mata seorang prajurit tak berkedip memandang gadis itu, matanya laksana elang memantau mangsanya dari kejauhan.

Legam kulitnya menambah kesan angker baginya. Perawakan yang kekar di balut seragam militer menambah wibawa tampilannya.

Ransel di bawah dekat kakinya penuh dengan barang bawaan seperti habis dari pulang tugas negara.

Sesekali bercengkrama dengan penumpang sebelahnya dengan suara tinggi, sekedar mencari perhatian.

***

Kereta melaju dengan kencang sesekali berhenti di stasiun. Satu persatu penumpang turun menyisakan sedikit orang dalam rangkaian gerbong.

Nampak lengang suasananya. Gadis itu tertidur mungkin telah berada jauh di mimpinya.

Tampak prajurit itu memandangi isi gerbong yang makin lengang. Tatapannya tajam menelusuri setiap bangku kosong entah apa yang dicarinya.

Tak lama kemudian prajurit itu duduk di samping gadis itu yang kebetulan sendirian ditinggal penumpang sebelahnya yang sudah turun di stasiun tujuannya. Sorot matanya makin liar memandangi gadis itu dari ujung kaki hingga ke rambutnya.

Tampak ada kekaguman di mukanya. Sesekali menoleh ke kanan kiri mungkin takut ada yang memperhatikan.

***

Kereta melambat dan berhenti. Terdengar suara pengumuman bahwa kereta sudah tiba di Stasiun Purwokerto.

Gadis itu mengucek-ucek matanya terbangun dari tidurnya mungkin karena suara pengumuman yang memekakan telinganya. Begitu matanya terbuka dia terperanjat kaget ada sosok lelaki tegap berseragam militer di sampingnya.

Mulutnya terkatup tanpa kata sambil badan bergeser membenahi duduknya mencoba menjauh dari prajurit itu.

Dengan cueknya prajurit itu memandangi liar gadis itu seolah-olah mangsa yang hendak diterkamnya. Ada ketakutan di wajah gadis itu.

***

“Turun di mana Mbak?”

Si gadis masih terdiam ketakutan, terlihat tidak nyaman berada di sampingnya.

Prajurit itu tampak cuek menyalakan rokok di tangannya. Begitu dalam dia menghisap rokoknya.

Tiba-tiba asap rokok itu diarahkan ke wajah sang gadis. Huk-huk gadis itu terbatuk-batuk. Tangannya digerak-gerakan mengusir asap rokok di depan wajahnya.

Sementara mata si prajurit liar memandangi si gadis tanpa merasa bersalah.

“Turun di mana Mbak?” si prajurit mengulangi pertanyaannya.

“Di Stasiun Kutoarjo Mas.”

Tiba-tiba gadis itu menjawab dengan suara lembutnya.

“Mas turun di mana?”

“Stasiun Gombong.”

“Dari mana Mbak?”

“Dari Jakarta Mas.”

“Mas dari mana?”

“Habis pulang dinas di Irian Barat.”

Tak tampak lagi ketakutan di wajah gadis itu dan begitu nurutnya menjawab pertanyaannya. Aneh seperti terhipnotis oleh asap rokok si prajurit.

“Lagi liburan Mbak?”

“Enggak Mas mau minta izin Simbok buat menikah.”

Wah makin aneh sampai urusan pribadi berani diceritakan orang yang baru kenal.

“Calonnya mana?”

“Masih kerja di Jakarta.”

“Oo…”

***

Laju kereta makin melambat dan akhirnya berhenti. Terdengar suara pengumuman bahwa kereta sudah tiba di stasiun gombong.

Gadis itu menoleh prajurit di sebelahnya. Tampak olehnya tidak ada tanda-tanda mau turun.

“Mas sudah sampai di Stasiun Gombong, kok tidak turun…?”

Mau turun di Stasiun Kutoarjo aja,” jawabnya cuek.

Ada rona kebingungan di wajah gadis itu.

Kemudian dia memejamkan matanya mencoba untuk menutupi kebingungannya.

Mata si prajurit makin leluasa memandangi gadis di sebelahnya.

***

“Kereta telah tiba di Stasiun Akhir Kutoarjo, jangan lupa periksa bawaan.” Terdengar suara petugas kereta mengingatkan.

Gadis cantik itu pun turun. Dengan sigap sang tentara mengambil koper yang dibawa sang gadis.

“Inilah perjumpaan singkat menjadi awal dari cerita cinta sampai kini beranak cucu,” ujar Mamak. Bola matanya memancarkan bahagia sambil menatap aku dan Bapak bergantian.

***

Mas Djie, mahasiswa IKIP Siliwangi.

Respon (3)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *