ZONALITERASI.ID – Sosok Dr. Grandprix Thomryes Marth Kadja, M.Si. menjadi salah satu representasi ilmuwan muda Institut Teknologi Bandung (ITB) yang menorehkan berbagai capaian di tingkat nasional maupun internasional.
Selain sebagai dosen di Sekolah/Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITB, Grandprix juga mengemban amanah sebagai Deputi Direktur Bidang Pengembangan Pusat-Pusat Penelitian dan Pusat Unggulan IPTEK (PUI) di Direktorat Riset dan Inovasi ITB.
Perjalanan akademik Grandprix sangat cemerlang. Dia meraih gelar doktor di ITB saat berusia 24 tahun pada 2017. Prestasi pemuda kelahiran 31 Maret 1993 asal Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini dicatat MURI sebagai doktor termuda Indonesia.
Deretan prestasi akademisi yang menempuh pendidikan jenjang S-1 di Universitas Indonesia (UI/diraih dalam usia 19 tahun ) dan S-2 di ITB ini berlanjut. Dia mendapat pengakuan sebagai salah satu ilmuwan dalam daftar Top 2% dunia versi Elsevier dan Stanford University berkat risetnya di bidang nanomaterial.
Selain itu, Grandprix juga menerima Penghargaan Achmad Bakrie ke-20 kategori Ilmuwan Muda, serta berbagai apresiasi lain seperti dosen muda dengan publikasi Q1 terbanyak di ITB dan dosen berprestasi di tingkat fakultas.
Hargai Buku
Bagi Grandprix, penghargaan yang diperolehnya selama ini merupakan buah dari konsistensinya dalam meneliti dan menulis.
“Sebenarnya, ini hanyalah bonus dari ikhtiar saya untuk terus meneliti dan menulis,” ujarnya, dikutip dari laman ITB, Sabtu, 25 April 2026.
Grandprix pun menekankan pentingnya membaca bagi penulis dan peneliti. Kata dia, buku merupakan fondasi utama dalam membangun kapasitas intelektual. Dia menegaskan, kemampuan menulis dan memublikasikan hasil riset tidak dapat dilepaskan dari kebiasaan membaca.
“Menulis itu manifestasi dari membaca. Kita tidak bisa menyusun gagasan tanpa terlebih dahulu memahami berbagai pemikiran dari apa yang kita baca,” katanya.
Sejak muda, Grandprix terbiasa membaca berbagai jenis buku, mulai dari buku pelajaran, sains populer, hingga komik. Kebiasaan ini secara perlahan membentuk rasa ingin tahu serta memperkaya cara berpikirnya.
Menurutnya, membaca merupakan proses menyelami cara berpikir penulis. Dari sana, pembaca dapat memahami alur logika, hubungan sebab-akibat, hingga membedakan antara argumen dan opini.
“Semakin banyak kita membaca, semakin kita sadar bahwa pengetahuan itu selalu membuka ruang untuk pertanyaan dan pengembangan baru,” ungkapnya.
“Proses ini memungkinkan seseorang untuk mengolah dan mensintesis berbagai gagasan menjadi pemahaman baru, sekaligus memperkuat kemampuan analitis yang menjadi ciri utama seorang ilmuwan,” sambung Grandprix.
Tantangan di Era Informasi Singkat
Di tengah maraknya informasi singkat di era digital, Grandprix mengungkapkan, buku tetap memiliki peran yang tidak tergantikan dalam membangun pemahaman yang utuh. Informasi singkat cenderung hanya memberikan gambaran permukaan, sementara buku menghadirkan kedalaman pemikiran.
“Buku mengajak kita masuk ke kedalaman pemikiran penulis, sementara informasi singkat sering kali hanya bersifat permukaan. Membaca buku juga melatih fokus dan kesabaran dalam memahami suatu persoalan secara menyeluruh,” ujarnya.
Terkait upaya untuk menumbuhkan minat baca di perguruan tinggi, Grandprix menekankan pentingnya kesadaran dari dalam diri mahasiswa, serta dukungan lingkungan kampus yang mendorong aktivitas literasi. Dia pun mengajak mahasiswa untuk terus menjaga kebiasaan membaca di tengah derasnya arus informasi.
“Teruslah membaca secara mendalam. Kemampuan untuk fokus dan berpikir dalam justru menjadi kekuatan yang langka dan berharga,” pesannya. (des)***











