Menag Nasaruddin Umar: Guru Agama Dilarang Ajarkan Kebencian dan Mengkafirkan Orang Lain

Ix3JWX2f5taWR0aJyikCI23H8STphfqUuLUEhCnw 1084436293
Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar (tengah), saat menghadiri kick-off Annual International Conference on Islamic Studies Plus (AICIS+), di Jakarta, 9 Juli 2025. (Foto: Jawa Pos/Hilmi)

ZONALITERASI.ID – Menjelang tahun ajaran baru 2025/2026 yang akan dimulai pada 14 Juli mendatang, Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar, memberikan sejumlah wejangan kepada para guru agama. Wejangan itu antara lain, guru agama tidak boleh mengajarkan kebencian dan takfiri (gampang mengkafirkan kelompok atau masyarakat lain).

“Kemenag menggagas adanya Kurikulum Cinta. Diharapkan bisa mulai dijalankan di madrasah maupun sekolah umum. Dengan Kurikulum Cinta, pembelajaran dijalankan secara ramah dan tidak boleh ada kekerasan maupun kebencian. Guru agama pun tidak boleh mengajarkan takfiri. Maksudnya gampang mengkafirkan kelompok atau masyarakat lain. Guru agama tidak boleh menajiskan orang lain. Termasuk juga gampang menyalahkan orang lain,” kata Menag, saat kick-off Annual International Conference on Islamic Studies Plus (AICIS+) di Jakarta, Rabu, 9 Juli 2025, dikutip dari JawaPos.com.

Menag menjelaskan, lewat Kurikulum Cinta, guru harus tampil sebagai sosok yang penuh cinta. Guru harus bisa menumbuhkan cinta dalam dirinya. Kemudian menumbuhkan cinta sesama kepada sesama manusia. Lalu juga cinta kepada alam atau lingkungan. Termasuk menjaga cinta kepada Tuhan.

Imam Besar Masjid Istiqlal itu juga mengatakan Kemenag berupaya membangun hubungan yang baik antara manusia, alam, dan Tuhan. Sebelumnya Kemenag menanamkan Trilogi Kerukunan. Yaitu kerukunan antara umat beragama, kerukunan internal umat beragama, dan kerukunan umat beragana dengan pemerintah.

“Itu trilogi kerukunan jilid pertama. Sekarang kita kembangkan trilogi kerukunan jilid dua. Yaitu kerukunan antara sesama umat manusia tanpa membedakan etnik, jenis kelamin, agama, bahkan kewarganegaraan. Kemudian,  hubungan harmonis antara manusia dengan alam semesta dan kerukunan manusia dengan Tuhan. Jika kerukunan itu bisa terwujud, maka dunia akan lestari. Pada akhirnya kiamat bisa ditunda,” ujarnya.

Lewat forum AICIS+ itu, Nasaruddin mengatakan Indonesia akan muncul di dunia dengan gagasan menjaga kelestarian alam dengan bahasa teologi.

“Tidak ada cara lain untuk menyelamatkan dunia ini, kecuali dengan bahasa spiritual,” tandasnya.

Persepsi Baru

Sebelumnya, Menag, Nasaruddin Umar, menuturkan, kurikulum cinta bertujuan menciptakan persepsi baru mengenai perbedaan ras, suku dan agama.

Menurutnya, kurikulum cinta hadir menciptakan rasa nasionalisme pada anak, dengan memberikan rasa cinta tanah air agar dapat menjadi warga negara Indonesia sejati.

“Sehingga nanti pada saat dia dewasa, dia bisa lebih solid lagi,” ujar Menag, usai Sarasehan Asta Cita dalam Perspektif Ulama Nahdlatul Ulama di Jakarta, 4 Februari 2025.

Menag menyebutkan, Kurikulum cinta akan diterapkan untuk 42 ribu madrasah dengan mempertimbangkan beberapa hal. Di antaranya menciptakan rasa nasionalisme, modernisasi agama, menjadikan kurung-kurung cinta untuk menenangkan perbedaan dan kebencian, serta lingkungan hidup.

Saat ini, lanjutnya, strategi kebudayaan nasional Indonesia berada pada posisi hilang. Karena itu, adanya kurikulum cinta dapat menumbuhkan kembali kebudayaan di Indonesia.

“Kalau kita enggak punya strategi kebudayaan masa depan yang lebih bagus, kita bisa kehilangan identitas. Padahal identitas itu penting,” tuturnya. (des)***