Mengungkap Paradigma Rahmatan Lil Alamin sebagai Pilar Integrasi Ilmu dan Agama di UIN Bandung

887c9e28 78b4 4211 946e 6cd45f707077
Konsorsium Wahyu Memandu Ilmu (WMI) menggelar Forum Group Discussion (FGD) di Ruang Rapat Pimpinan (Rapim) lantai 2 Gedung Pascasarjana UIN Bandung, Selasa, 29 April 2025. (Foto: Dok. UIN Bandung)

ZONALITERASI.ID – Konsorsium Wahyu Memandu Ilmu (WMI) kembali menggelar Forum Group Discussion (FGD) sebagai bagian dari rangkaian diskusi ilmiah dalam rangka memperkuat arah dan prinsip keilmuan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Rapat Pimpinan (Rapim) lantai 2 Gedung Pascasarjana UIN Bandung, Selasa, 29 April 2025.

Forum yang mengangkat tema “Paradigma Rahmatan Lil Alamin” ini menegaskan pentingnya pendekatan keilmuan yang transformatif, aplikatif, serta berakar pada nilai-nilai Islam. Acara dibuka oleh Ketua Konsorsium WMI, Prof. Dr. Supiana, M.Ag., yang menyampaikan apresiasi kepada Pascasarjana UIN Bandung sebagai tuan rumah.

Wakil Direktur I Pascasarjana, Prof. Dr. Adjid Thohir, M.Ag., dalam sambutannya menekankan pentingnya kesinambungan diskusi akademik guna membentuk paradigma keilmuan yang responsif terhadap tantangan zaman.

Diskusi dipandu oleh Prof. M. Taufiq Rahman, MA., Ph.D., dan menghadirkan dua narasumber utama Prof. Dr. H. Ija Suntana, M.Ag. dan Prof. Dr. Adjid Thohir, M.Ag.

Rektor UIN Bandung, Prof. Dr. Rosihon Anwar, M.Ag., dalam pengantar pemikiran strategisnya menegaskan bahwa konsep rahmatan lil alamin harus menjadi landasan dalam membangun ilmu yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

“Paradigma WMI tetap relevan, tetapi harus menyentuh isu-isu konkret seperti tingkat perceraian, pengembangan spiritualitas, hingga penyerapan tenaga kerja,” ujarnya.

Ia mengatakan, konsep rahmatan lil alamin tidak boleh berhenti pada tataran wacana, melainkan harus diterjemahkan dalam indikator konkret.

“Al-Qur’an adalah grand theory, tapi harus bisa hadir dalam realitas,” ujarnya, seraya mengingatkan perlunya efisiensi kegiatan akademik yang tidak melupakan esensi keilmuan.

Prof. Dr. H. Ija Suntana, M.Ag., menyoroti ketimpangan antara impact factor dan real impact dalam riset. Menurutnya, riset seharusnya menyentuh akar persoalan masyarakat, bukan sekadar memenuhi tuntutan sitasi akademik.

“Ilmu dan agama berasal dari Tuhan, maka tidak semestinya dipisahkan,” tegasnya.

Pernyataan senada disampaikan, Prof. Dr. Adjid Thohir, M.Ag.. Ia menekankan pentingnya keberanian dalam menerjemahkan ajaran keagamaan ke dalam bahasa ilmu pengetahuan.

“Mukjizat, karomah, Isra Mi’raj bisa dikaji secara rasional dan saintifik,” ungkapnya.

Ia juga mengajak agar karya akademik seperti skripsi dan disertasi memiliki novelty yang aplikatif, serta mendorong suasana akademik yang humanis dan spiritual.

Tanggapan Kritis

Beberapa tanggapan kritis turut memperkaya diskusi “Paradigma Rahmatan Lil Alamin”. Berikut tanggapan yang disampaikan peserta diskusi.

Prof. Dr. Dody S. Truna, M.Ag.
Kebijakan riset terlalu terpusat pada jurnal bereputasi, tanpa memperhatikan pembaca utama: masyarakat. Dosen harus lebih aktif dalam pengabdian masyarakat yang berdampak langsung.

Prof. Dr. H. Asep Saeful Muhtadi, M.A.
Perlu dimensi aksiologi dalam paradigma rahmatan lil alamin dan pentingnya riset yang dapat diimplementasikan.

Prof. Dr. H. Idzam Fautanu, M.Ag.
Urgensi penguatan nilai kebangsaan dan Pancasila dalam penerapan paradigma rahmatan lil alamin.

Dr. Dadang Darmawan, M.A.
Rahmatan lil alamin harus mengandung etika, tidak hanya manfaat.

Prof. Dr. M. Yusuf Wibisono, M.Ag.,
Pentingnya pendidikan moral dan pembentukan kebiasaan. Pendidikan kita perlu mengintegrasikan nilai dan habitus.

Dr. H. Dudi Imaduddin, M.Ag.
Manfaat ilmu terletak pada amal dan tanggung jawab moral yang konsisten.

Dr. Drs. Nur Arifin, M.Pd.
Pentingnya indikator keberhasilan paradigma rahmatan lil alamin yang konkret dan terukur. Perlu penyusunan roadmap implementasi agar lebih terarah.

Dekan Fakultas Adab dan Humaniora, Dr. H. Dedi Supriadi, M.Hum.
Implementasi nilai rahmatan lil alamin dimulai dari penyediaan fasilitas kampus yang mendukung suasana kerja dan pembelajaran yang kondusif.

Wakil Rektor I, Prof. Dr. Dadan Rusmana, M.Ag.
Perlu perhatian terhadap persoalan riil di masyarakat, termasuk regenerasi mahasiswa PTKIN yang berdaya saing.

Diskusi ditutup oleh Rektor UIN Bandung, Prof. Rosihon Anwar, yang meminta agar naskah paradigma rahmatan lil alamin segera dirampungkan sebagai panduan akademik ke depan.

“Seluruh proses di kampus harus merujuk pada naskah ini,” tegasnya. (des)***