Oleh Anto Ramadhan
Piala Dunia sudah sampai babak yang paling berbahaya.
Bukan karena tekel.
Bukan karena kartu merah.
Tapi karena mulai banyak orang yang mendadak jadi analis sepak bola.
Di Cicadas, orang yang kemarin sore masih debat harga bala-bala, malam ini sudah bicara high pressing, low block, dan expected goals.
“Argentina kudu maen compact!”
Padahal ditanya compact itu apa, jawabnya:
“Nu sok dipake ku emak… bedak!”
Begitulah Piala Dunia.
Ilmu sepak bola datang lebih cepat daripada paket COD.
Empat tim tersisa: Prancis, Spanyol, Inggris, dan Argentina.
Prancis vs Spanyol: Ulah Loba Oper, Engké Balna Lieur
Spanyol itu romantis terhadap bola.
Bola dioper ke kiri.
Ka katuhu.
Ka tengah.
Balik deui.
Penonton Cicadas mulai kesel.
“Euy! Tembak atuh! Eta bal lain surat tanah, teu kudu dipariksa terus!”
Kalau Lurah Cicadas Dadang jadi komentator mungkin bilang:
“Spanyol menguasai bola karena kalau tidak menguasai bola, berarti bolanya dikuasai yang lain.”
Hening.
Penonton mikir.
Lima menit kemudian baru ketawa.
Lurah Dadang cenah leuwih resep Golf batan “Mengbal”
Prancis beda.
Mereka seperti angkot Cicadas–Cicaheum.
Kelihatannya santai.
Begitu ada ruang…
NGABRET!
Kordinator PKL Cicadas, Amang Herman sigana langsung komen nurutan Komeng:
“UHUUUY! Itu pemain apa ojol ngejar bonus?”
Menurut saya Prancis menang tipis.
Bukan karena Spanyol jelek.
Spanyol bagus.
Terlalu bagus malah.
Kadang sepak bola memang begitu.
Kita sibuk membuat lukisan.
Lawan datang membawa palu.
Inggris vs Argentina: Football is Coming Home, Imahna di Mana?
Nah, ieu nu matak lieur.
Inggris melawan Argentina.
Baru jadwal keluar, netizen langsung bicara sejarah.
Falkland.
Malvinas.
Kolonialisme.
Politik internasional.
Padahal Kang Messi mah meureun keur mikiran:
“Bek Inggris nu jangkung ieu kumaha ngaliwatanna?”
Inggris selalu datang membawa slogan:
Football is coming home.
Orang Cicadas bertanya:
“Home-na di mana?”
“Inggris.”
“Geus dikirim ti iraha?”
“Ti taun 1966.”
“Waduh… cek resi atuh. Bisi paketna nyangkut di gudang.”
Kang Joe P. Project sebagai lulusan Sejarah Unpad mungkin nyeletuk:
“Kalau dari 1966 belum sampai, itu bukan ekspedisi. Itu jalan kaki.”
Argentina berbeda.
Mereka senang pertandingan panas.
Pemain ribut.
Pelatih protes.
Wasit dikerubungi.
Penonton deg-degan.
Argentina malah seperti orang baru datang ke hajatan.
“Wah, rame… asyik!”
Kang Joe sigana ngomong deui :
“Argentina mah mun pertandingan tenang sok hariwang. Kudu aya nu pasea saeutik, kakara sumanget.”
Prediksi saya:
Argentina menang 2-1.
Tapi jangan percaya seratus persen.
Saya pengamat budaya.
Bukan dukun bola.
Walaupun kalau prediksi ini benar, kartu nama saya akan direvisi.
Final: Prancis vs Argentina
Ini final pilihan saya.
Prancis ingin balas dendam.
Argentina ingin mempertahankan gelar.
Penonton Indonesia ingin satu hal:
besok jangan ada rapat pagi.
Final dimainkan.
Menit pertama tegang.
Menit 20 mulai teriak.
Menit 70 kopi ketiga.
Menit 90 mulai berjanji:
“Duuh Gusti, mun Argentina juara, abdi rek rajin olahraga.”
Besoknya?
Olahraganya mindahkeun motor supaya tukang sayur bisa lewat.
Prediksi saya Argentina menang 2-1.
Kalau benar, tulisan ini harap disimpan.
Sebagai bukti bahwa dari sebuah lorong di Cicadas, pernah lahir analisis sepak bola kelas dunia.
Kalau salah?
Tong disebarkeun.
Urang bahas “meming “deui weh.
Begitulah Piala Dunia.
Bolanya di Amerika.
Pemainnya dari seluruh dunia.
Yang paling ribut…
tetap grup WhatsApp urang.
Dan setelah juara ditemukan, selalu ada satu orang berkata:
“Tah… ti baheula gé ceuk aing naon!”
Padahal sebelum pertandingan dia menjagokan Brasil. ***
Anto Ramadhan, pengamat budaya, tinggal di Cicadas, alumni Fakultas Ilmu Budaya Unpad.










