BUDAYA  

Puisi Elisya Sovia

FOTO SASTRA 51
Ilustrasi, (Foto: Islamidia.com).

ZONALITERASI.ID Kali ini Redaksi Zonaliterasi.id menerima kiriman dua puisi dari Elisya Sovia, guru di SMAN 1 PASIE Raja, Nanggroe Aceh Darussalam.

Puisi pertama, “Ingin Sepertimu, IBU“, bertutur tentang keinginan kuat si “Aku” untuk bisa sama seperti sosok ibunya. Demikian tegar dan kokohnya sosok ibu diterpa berbagai deraan hidup. Sementara, si “Aku” sudah berteriak bosan, penat, terkoyak, dan bernanah. Layaknya sebuah cerpen, puisi ini seperti mempunyai alur. Pada bait kedua dan ketiga tampak gambaran klimaks dari perasaan penulis. Akhirnya diakhiri dengan antiklimaks (selesaian) pada bait terakhir.

Hanya ada beberapa penulisan yang perlu diperbaiki, terutama penulisan -nya yang harus disatukan dengan kata sebelumnya, dan penulisan klitika ku. Apakah penulisannya ku pandangi atau kupandangi?

Sementara pada puisi kedua, “Kuatlah“, kaya dengan metafor, seperti senja, jingga, kerutan langit, dll. Hal ini menyiratkan bahwa penulis mencoba memperkuat pendeskripsian rasanya dengan citraan visual berbagai gaya bahaya, seperti dalam larik: “//Bukankah senja hadirkan malam/ menidurkan lelah//. (saepul komar)***

_______________

Ingin Sepertimu, IBU

Malam semakin pekat
Sembari rinai hadirkan bau basah
Ku pandangi goresan kanvas Tuhan
Ringkih ditempa badai kehidupan

Aku bosan
Aku penat
Hardik ku di sore itu
Semua hanya puing-puing fatamorgana … utopia
Aku bukan engkau
Yang selalu patuh akan takdir
Terkalahkan oleh rasa yang terbungkuskan empati
pada semua yang tak pernah memberimu arti

Bathinmu terkoyak, bernanah
Engkau bilang itu cara Tuhan menggugurkan dosa
Entahlah … yang ku tahu hangat dalam dekapan doa di sepertiga malammu
Aku ingin berdamai dengan jiwa
Layaknya Engkau yang dunia terhanyut dalam kepasrahan mu
Aku mengagumimu dalam kebencianku tentang apa yang tak bisa kulakukan

Tuhan
Izinkan sekali saja jiwaku seperti dia
Tersenyum dalam simpul tangisnya
Diam dalam ribuan kata yang bisa terlontarkan dalam sesak dada nya
Izinkan … sekali saja

11 Juli 2020

_______________

KUATLAH

Kau lihat
senja itu kembali datang
Jingganya memerah
Menyamarkan kerutan langit
Menyapu deretan awan yang menjelma rintik hujan

Kau dengarkan
suara gemuruh guruh di ujung badai
Mengetuk labirin nelangsa
Meluluhlantakkan harapan di ujung asa
Resah dan prasangka muncul karena kehadirannya.

Kau rasakan,
hujan kembali membawa bau basah
Sejumput kenangan kembali menyelisik palung hati
Pucuk-pucuk cemara menyimpan rapi setiap kisah
Pada cakrawala malam, hati enggan beralih pergi

Dan kau
Masih nanar dengan lukamu
Yang merahnya tak sejingga langit senja
Yang runyamnya tak sebongkah gemuruh luluhkan asa
Bahkan rasanya tak sesakit kenangan selepas hujan

Berdirilah
Jangan menyerah
Bukankah senja hadirkan malam menidurkan lelah
Gemercik guruh isyaratkan kau dan aku mengingat keEsaanNya
Dan hujan alasan kau dan aku menjadi kita.

28 Agustus 2020

_______________

Elisya Sovia, S.Pd., guru di SMAN 1 PASIE Raja, Nanggroe Aceh Darussalam.

Respon (47)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *