PUISI Endah Mayasari dan Tuti Susilawati

images 1
Ilustrasi "Puisi Endah Mayasari dan Tuti Susilawati". (Foto: Sumberpost.com)

Puisi Karya Endah Mayasari

AKU TAK BISA MENULIS PUISI 

Aku tak bisa menulis puisi
Kumpulan kata yang sarat isi
Menggunakan aneka diksi
Dikemas penuh imajinasi

Aku tak bisa menulis puisi
Awalnya enggan aku turuti
Demi tuntutan institusi
Dalam sebuah program literasi

Aku tak bisa menulis puisi
Pekerjaan orang yang sedang jatuh hati
Atau merana ditinggal pergi
Kekasih pujaan hati

Aku tak bisa menulis puisi
Diamlah kamu jangan memaksa
Karena aku bisa mati rasa
Bebanku bukan kamu yang rasa

Aku tak bisa menulis puisi
Terpaksa kutuliskan dengan hati-hati
Teorinya kupelajari dengan teliti
Tapi puisiku tak jadi-jadi

Aku tak bisa menulis puisi
Kucoba sekali lagi
Kalau orang lain bisa
Kenapa kok aku tidak

Aku tak bisa menulis puisi
Berdenging kata-kata itu di kepala
Lalu bersemayam merasuk sukma
Enyahkan itu sekuat tenaga

Aku tak bisa menulis puisi
Kali ini kucoba sekali lagi
Kurangkai kata demi kata sepenuh hati
Yang mengalir dan menari di atas jemari

Aku tak bisa menulis puisi
Kali ini aku tak percaya kata-kataku sendiri
Satu dua tiga puisi terealisasi
Aku pun senang tiada terperi

Aku kini menulis puisi
Tak perlu menunggu patah hati
Sepuluh puisi bisa kuberi
Tentang aku kamu dan situasi

Aku bahagia menulis puisi
Walaupun sederhana tanpa rima
Tak apa tak menginspirasi
Karena ini curahan hati

Aku akan terus menulis puisi
Janjiku pada diri sendiri
Walau hanya aku yang menikmati
Puisiku hiburan berarti

Bandung, 31 Oktober 2020

________________________

Puisi Karya Tuti Susilawati

PEJUANG RUPIAH

Embun pagi menyelimuti bumi
Mentari masih enggan menampakan sinarnya
Seorang pejuang rupiah siap berpetualang
Menjemput rezeki

Dinginnya semilir angin tak membuatnya patah semangat
Etos meraih bintang membara bagai bara api
Mantel teman setianya menemani perjalanan menuju ladang tempat memetik rupiah
Membanting tulang demi keluarga

Tanggal muda tanggal yang dinantikan
Saatnya memetik buah hasil jerih payahnya
Niscaya lengkung bibir tersenyum tatkala rupiah di tangan
Kalbu berbunga-bunga bagai taman di dalam lautan

Doa dan kesungguhan meraih sejuta harapan ditanamkan
Harapan disandarkan pada Ilahi
Niat yang lurus awal kesuksesan
Rida-Nya dambaan insan taqwa

Cianjur, 01 Mei 2023

***

LUKAMU KAN SIRNA

Luka memang pedih jika dinikmati
Umpama tertusuk sembilu
Kan tiba saatnya luka itu sirna
Apabila kita mengobatinya dengan penuh cinta dan doa
Malam kan berganti siang
Usah gelisah mentari masih bersinar memberikan sebuah harapan

Kan berakhir rasa pedih dan berganti kebahagiaan
Ada hikmah di balik peristiwa
Niscaya terdapat pelajaran di dalamnya

Setelah kesulitan kan hadir kemudahan
Ilmu, iman dan keikhlasan modal kesuksesan dalam kehidupan
Rona kehidupan kan terasa indah bila berpola pikir positif
Nestapa bagai badai yang menguatkan langkah
Allah sandaran meraih keberkahan hidup

Cianjur 08 Mei 2023

***

ILMU KUNCI KESUKSESAN

Ilmu jalan menuju kecerdasan
Lenyapkan kebodohan dan keterbelakangan
Melalui pendidikan tercipta kebermanfaatan ilmu
Umpama menelan sebuah pil pahit

Kunci pembuka sebuah pintu
Untuk memasuki sebuah ruangan
Niat dan tekad kuat menuntut ilmu layak ditanamkan
Cinta ilmu wajib dipupuk
Ilmu kunci kebahagiaan

Kesuksesan di masa datang
Esok penuh harapan
Sukses di dunia dan akhirat
Umpama meraih bintang di langit
Kunci ilmu telah membuka cakrawala
Singkirkan kemalasan
Engkaulah sang pelaku sejarah
Siapkan generasi tangguh berakhlak mulia
Agar teraih kehidupan penuh harmonisasi
Niscaya lengkung bibir ibu pertiwi tersenyum manis.

Cianjur, 06 Mei 2022

***

CURHAT KAUM JELATA

Kehidupan di dunia penuh warna warni laksana pelangi di langit biru
Suka dan duka mewarnai kehidupan
Kini semakin berat tantangan melukis pelangi di negeri tercinta
Laksana duri-duri tajam menghalangi jalan yang akan kita lalui

Kaum jelata semakin tersingkirkan oleh kaum pendatang
Mereka laksana budak pesuruh kaum pendatang
Merasa asing di rumah sendiri
Salah siapakah ini?

Sejarah kelam kembali lagi
Laksana roda yang berputar
Lambat laun namun pasti Ibu Pertiwi menangis
Di manakah para pembela negeri?

Si jelata kalbunya teriris
Tak sanggup lagi memenuhi kebutuhan hidup
Para pekerja serabutan di perkebunan sawit miris
Tak dapat menikmati minyak sawit

Kaum jelata lengkung bibirnya tersenyum sinis
Dia pikir ironis, negeri agraris kini tak menjamin kesejahtraan dan kebahagiaan rakyat
Di ujung netranya terlihat genangan air
Luka hatinya terlihat jelas

Di manakah para penebar janji manis?
Janji membela rakyat jelata
Janji sebuah hutang yang harus dilunasi
Jangan lari dari amanah

Problematika kehidupan semakin meruncing
Melukai Ibu Pertiwi
Hutang semakin menggunung
Siapakah yang akan membayarnya?

Akankan Ibu Pertiwi dijual?
Kita tak pernah tahu jawabannya
Kaum jelata tak berdaya
Berharap cahaya Ilahi menerangi penghuni bumi pertiwi

Cianjur, 05 Juni 2022

***

Endah Mayasari, lulusan Pendidikan Matematika FPMIPA IKIP Bandung (UPI). Kini Kepala SMPN 17 Bandung.

Tuti Susilawati, guru di MTsS Ats-Tsuur di Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur. Lebih dari 30 buku antologi bersama yang ia ikuti. Buku tunggal puisi karya penyair ini berjudul “Hitam Putih Kehidupan”.