Puisi Karya Fiqih Mulia Akasah
HITAM PUTIH
Hitam putih adalah aku
Yakni manusia pasca-tradisional
Flamboyan bukanlah aku
Akulah hollyhock yang tumbuh di iklim pneunoia
Akulah generasi hitam putih
Mengikuti arus peradaban
Yang teronggok pada dongeng masa depan
Akulah kaki bangsa, yang masih gugup untuk berjalan
Akulah hitam putih
Gambaran tatanan zaman yang semrawut
Langit bukanlah aku
Akulah tanah yang menyerap segala bentuk kepedihan dan penderitaan
Akulah hitam putih
Bayangan gelap masa lalu
Cahaya terang masa depan
Menjadi penengah dari segala macam warna warni dunia
***
FENOMENA
Fenomena despotisme marak memang
Dari dulu hingga sekarang
Perundingan di meja sidang hanya menghasilkan genderang perang.
Benteng Feodal semakin angkuh mengekang.
Rakyat tenggelam dalam mimpi demagogi
Memberontak hanya akan mengundang mati.
Kelaparan sudah menjadi tradisi.
Pemerintah tak pernah menggunakan hati,
mereka lebih sering menggunakan belati.
Suara jerit penderitaan tak jemu-jemu berkumandang
Hasil panen petani dirampas demi kebutuhan perang
Penindas dan Penjajah sama saja,
tak pernah membuat tenang.
Ambisi kekuasaan selalu menghadirkan penderitaan panjang.
Kamarku, 25 Juni 2019.
***
KULTURALISME PEMUDA
Teramat apatis tingkah laku kita
Buta terhadap segala macam warisan budaya
Pasif untuk menerobos cakrawala sejarah
Malu tenggelam dalam samudera keambiguan adat istiadat
Palung kulturalisme budaya enggan kita pelajari
Sedang beribu budaya modernitas kita junjung tinggi
Segala bentuk kebudayaan dikomersialisasi
Sebab seni sekarang ini, hanya memperhitungkan untung rugi
Menangis nenek moyangku
Melihat sang pewaris menjual harta warisannya
Lemah langkah pemuda
Kena tampar ruh moyangnya
***
Puisi Karya Doni Hamdani
RELA
Setelah engkau pergi jauh meninggalkanku
Masih ada luka yang tidak akan pernah sembuh
Masih ada rasa sakit yang tidak akan pernah terobati
Masih ada rasa rindu yang tidak akan pernah terpenuhi
Duhai, Ibu!
Jika memang takdir adalah cara kita untuk bertemu
Lantas mengapa takdir juga adalah cara paling kejam untuk kita berpisah
Terpisah oleh ruang dan waktu.
Jika rela adalah jalan terbaik untuk melepasmu
Maka sampai akhir hayat ini aku takkan pernah rela
Rela adalah cara yang paling muskil untuk melepaskanmu
Jika memang aku harus belajar rela, aku tidak akan pernah bisa.
Majalengka, 2020
***
HUJAN SORE ITU
Suara rintik hujan sore itu
Terdengar sangar karena petir
Daun-daun di pohon mangga itu basah kuyup
Burung-burung mengibaskan sayapnya
Lalu terbangun dari tidurnya yang pulas.
Mendung menghalangi pancaran wajah langit
Senyuman langit terlihat ambigu
Penghuni bumi tergesa-gesa ketika langit menangis
Terkadang tangis itu takut menjadi banjir.
Hujan sore itu mulai reda
Awan berhamburan resah
Meninggalkan pertemuannya dengan air laut
Sesudah hujan sore yang gemilang itu
Langit yang muram kembali ceria seperti sedia kala.
Majalengka, 2020
***
SAJADAH
Aku menitipkan air mata kepada sajadah
Di sela-sela kain yang basah
Tuhan membilas air mata ini
Karena luka tidak untuk ditangisi
Luka yang menganga harus sembuh
Walau menahan rasa sakit yang entah batasnya.
Aku mendekatkan kening kepada sajadah
Memohon pertolongan kepada Sang Maha Kuasa
Supaya dibebaskan dari belenggu nestapa
Ingin kudapati rahmatNya
Melekat di sekujur tubuhku penuh seluruh.
Tuhan,
Hanya kepada sajadah aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling
Sampai Engkau memanggilku pulang.
Majalengka, 2020
***
Fiqih Mulia Akasah, alumni SMKN 1 Kadipaten, Kabupaten Majalengka. Tinggal di Desa Heuleut, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.
Doni Hamdani, alumni SMKN 1 Kadipaten. Tinggal di Blok Cangkore Desa Kasokandel, Kecamatan Kasokandel, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Beberapa puisi karyanya pernah dimuat di media massa.






