PUISI Nengsih dan Elisya Sovia

ilustrasi hijrah
Ilustrasi "Puisi Nengsih dan Elisya Sovia". (Foto: Shutterstock)

Puisi Karya Nengsih

RIHLAH HIJRAH

Dunia nyatanya penuh balada
Tak kuasa kutikam takdir takdir itu
aku hanya mampu meyakinkan lirihku
karena aku tahu, aku adalah hamba

KeniscayaanNya pasti nyata
tak kuanggap perih yang tersungging dari nyanyian nestapa
bahasa yang tak elok lantas hengkang dari gendang telingaku
buih-buih polutan itu terjerembab dalam wadah hitam
dan aku tak ingin mengenalinya

KeniscayaanNya pasti nyata
cerita kemarin telah terhempas tertiup angin dari barat
dan kini aku ada, nyata, berdiri ditemani panca indra hadiah dariNya
hatiku tak terbuat dari baja, namun jiwaku besar bak Samudra

KeniscayaanNya pasti nyata
Langkah ini ku titi dengan teliti,
Setiap titiannya menghadirkan syukur yang tak terukur
Karena aku tahu, jalan inilah yang kupilih
Inilah Rihlah Hijrahku

Ditulis pada pertengahan malam untuk seorang sahabat
Jum’at, 25 Februari 2022
23.23 WIB

***

AROMA TANAH KERING TERSIRAM HUJAN

Aroma tanah kering, menyingsing menyeruak masuk ke dalam rongga hidungku
Aroma itu khas, terdalam dan terpatri dalam penangkaran jiwa
Aroma itu merambat dan membangkitkan asa terdahulu
Ya… itulah aroma tanah kering tersiram air hujan

Hujannya adalah bermakna untukku
Hujan yang turun dengan sebuah tanda, yang lantas aku tak peka
Hujannya adalah rahmat bagi sekalian alam
Hujan yang turun atas perintah, yang lantas aku abaikan

Curahan air itu apa adanya, berseru tak menderu
Aku yang tak paham, kupikir hujan adalah kejadian alam
Aku yang tak paham, kupikir hujan adalah kebiasaan musiman
Ternyata hujan bukti kekuasaan sang Mahakarya

Ditulis pada jam istirahat dalam sebuah abdi
Jum’at, 04 Februari 2022
13.13 WIB

***

RINDU YANG TERBAYAR

Dulu aku malu, malu ku pada masa lalu
Aku tahu aku malu, malu pada sebuah hasrat
Rasa itu terdefisini sesuka hatiku
Lantas aku menyebutnya rasa rindu
Ya… rindu yang sebatas kata-kata saja
Namun, kini aku tahu dan tak lagi malu
Justru tanpa terpaku atau terbelenggu
Karena saat ini aku berani mengaku jika aku rindu
Rindu adalah suatu sore tanpa fatamorgana
Ada asa, ada cerita, ada rupa-rupa warna tanpa nestapa
Rindu adalah suatu pagi yang bertegur sapa melalui doa-doa
Energi yang merambat di kawat-kawat semangat
Rindu adalah suatu malam bercengkrama mengakhiri hari
Saling merelakan hati untuk menerima takdir
Ya… Kini aku dapat mendefinisikan rindu yang sesungguhnya
Rindu adalah sebuah siang yang penuh rasa
Rasa untuk orang-orang terkasih,
Rasa yang akan terbayar pada sore, malam dan pagi yang penuh cinta

Ditulis pada pagi hari menjelang kerja
Selasa, 08 Februari 2022
07.47 WIB

____________________________________

Puisi Karya Elisya Sovia

KEHILANGAN TANPA PERTEMUAN

Kebersamaan ini masih terlalu dini
Sedangkan denting waktu tak kenal kata menanti
Kenangan ini terpatri… jauh di dasar relung hati
Tentang kami yang berusaha memberi Arti

Bagaimana aku tak akan mengenangnya
Tentang aku yang kini lebih mengutamakan kata kita
Tentang penerimaan yang terkadang aku alpa
Semua diajarkan dengan sangat sederhana
Sesederhana beliau yang selalu mampu bersikap bijaksana

Terimakasih Bapak atas ilmu dan kebersamaan
Tugas menuntun telah terselesaikan
Proses ini menjadikan kami paham
Mengenal tanpa pertemuan bukan alasan untuk tidak merasa kehilangan

Tak Perlu kata perpisahan
Biarlah semua ini menjadi remah kenangan
Mari serahkan Kepada Tuhan
Dalam GenggamanNYA adalah kebaikan
Kehilangan tanpa Pertemuan

11/06/2022

Spesial untuk Bapak Misdar Fasi

***

Ingin Sepertimu, IBU

Malam semakin pekat
Sembari rinai hadirkan bau basah
Ku pandangi goresan kanvas Tuhan
Ringkih ditempa badai kehidupan

Aku bosan
Aku penat
Hardik ku di sore itu
Semua hanya puing-puing fatamorgana … utopia
Aku bukan engkau
Yang selalu patuh akan takdir
Terkalahkan oleh rasa yang terbungkuskan empati
pada semua yang tak pernah memberimu arti

Bathinmu terkoyak, bernanah
Engkau bilang itu cara Tuhan menggugurkan dosa
Entahlah … yang ku tahu hangat dalam dekapan doa di sepertiga malammu
Aku ingin berdamai dengan jiwa
Layaknya Engkau yang dunia terhanyut dalam kepasrahan mu
Aku mengagumimu dalam kebencianku tentang apa yang tak bisa kulakukan

Tuhan
Izinkan sekali saja jiwaku seperti dia
Tersenyum dalam simpul tangisnya
Diam dalam ribuan kata yang bisa terlontarkan dalam sesak dada nya
Izinkan … sekali saja

11 Juli 2020

***

KUATLAH

Kau lihat
senja itu kembali datang
Jingganya memerah
Menyamarkan kerutan langit
Menyapu deretan awan yang menjelma rintik hujan

Kau dengarkan
suara gemuruh guruh di ujung badai
Mengetuk labirin nelangsa
Meluluhlantakkan harapan di ujung asa
Resah dan prasangka muncul karena kehadirannya.

Kau rasakan,
hujan kembali membawa bau basah
Sejumput kenangan kembali menyelisik palung hati
Pucuk-pucuk cemara menyimpan rapi setiap kisah
Pada cakrawala malam, hati enggan beralih pergi

Dan kau
Masih nanar dengan lukamu
Yang merahnya tak sejingga langit senja
Yang runyamnya tak sebongkah gemuruh luluhkan asa
Bahkan rasanya tak sesakit kenangan selepas hujan

Berdirilah
Jangan menyerah
Bukankah senja hadirkan malam menidurkan lelah
Gemercik guruh isyaratkan kau dan aku mengingat keEsaanNya
Dan hujan alasan kau dan aku menjadi kita.

28 Agustus 2020

***

Nengsih, Dosen Tetap pada Prodi Kebidanan STIKES Muhammadiyah Cirebon.

Elisya Sovia, S.Pd., guru di SMA N 1 PASIE Raja, Nanggroe Aceh Darussalam.