Ramadan, Idul Fitri, dan Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Oleh Catur Nurrochman Oktavian

ilustrasi idul fitri 2 169
(Foto: Hai Bunda/Annisa Shofia)

TAKBIR Idul Fitri menggema di seluruh penjuru dunia tidak terkecuali di seluruh penjuru nusantara. Takbir Idul Fitri sebagai penanda kemenangan umat muslim setelah menjalani ibadah puasa satu bulan penuh. Bulan Ramadan tidak hanya kental dengan nuansa spiritualitas, namun berdampak besar terhadap peningkatan ekonomi.

Ramadan seringkali dihubungkan dengan peningkatan kegiatan ekonomi di masyarakat. Selama Ramadan, kegiatan belanja bahan konsumsi masyarakat meningkat untuk memenuhi makan sahur, takjil berbuka puasa, hingga pembelian aneka rupa pakaian untuk menyambut hari raya. Bisnis ritel di pusat perbelanjaan modern, perdagangan online, maupun pasar tradisional meningkat pesat dan membuka peluang ekonomi bagi pengusaha kecil dan menengah untuk meningkatkan omsetnya.

Banyak pedagang meluncurkan promo Ramadan yang meningkatkan daya tarik masyarakat untuk memenuhi kebutuhan konsumsinya. Peningkatan konsumsi masyarakat dipengaruhi pula dengan pendapatan masyarakat yang meningkat dengan adanya kewajiban pemberian tunjangan hari raya bagi pegawai negeri maupun swasta. Produsen meningkatkan kapasitas produksinya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi yang bertambah tersebut.

Selain itu, fenomena mudik jutaan orang untuk merayakan Idul Fitri bersama sanak keluarga di kampung halaman turut menyumbangkan persebaran ekonomi di daerah. Miliaran bahkan triliunan rupiah mengalir ke daerah seiring pergerakan mudik karena aktivitas konsumsi masyarakat di perjalanan dan di daerah selama libur lebaran.

Bulan Ramadan juga dikenal sebagai bulan yang penuh dengan amal dan kebaikan. Selama bulan ini, praktik-praktik memberi zakat dan sadaqah meningkat secara signifikan. Zakat, yang merupakan kewajiban bagi umat Muslim yang mampu, dan sadaqah, sumbangan sukarela untuk membantu mereka yang membutuhkan, memberikan dorongan ekonomi bagi masyarakat yang kurang mampu dan menunjukkan kebersamaan dan solidaritas sosial. Dana yang terkumpul digunakan untuk membantu mereka yang membutuhkan dalam bentuk bantuan keuangan, makanan, dan bantuan lainnya, yang pada gilirannya dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang lebih luas.

Selama Ramadan, terjadi peningkatan kegiatan sosial dan komunitas seperti buka puasa bersama, penggalangan dana untuk amal jariyah, dan berbagai program kemanusiaan lainnya. Hal ini tidak hanya menciptakan kohesi sosial dan solidaritas yang lebih kuat di antara anggota masyarakat, tetapi juga menciptakan peluang untuk pertukaran ekonomi informal, seperti jual beli aneka produk makanan dan kreasi kerajinan tangan antarindividu dan komunitas.

Jadi, secara umum bulan Ramadan tidak hanya berdampak besar terhadap peningkatan spiritual umat Muslim, tetapi juga berdampak positif pada peningkatan ekonomi masyarakat melalui peningkatan konsumsi, aktivitas usaha, praktik-praktik amal, dan keterlibatan dalam kegiatan sosial dan komunitas.

Selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1445 H. Semoga kita dipertemukan kembali di Ramadhan tahun mendatang selalu dalam keadaan sehat.

Bogor, 10 April 2024
Salam literasi

***

Catur Nurrochman Oktavian, Wasekjen PB PGRI.

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *