NEWS  

Rindunya Menampilkan Gelaran Seni Budaya di Jatinangor

FOTO PERSIB 149
Penampilan seni tardug dalam dalam Panggung Budaya, di Saung Budaya Sumedang, Jatinangor, baru-baru ini, (Foto: Gina Maulida Kurniadi/Zonaliterasi.id).

JATINANGOR, Kabupaten Sumedang kaya dengan beragam seni Sunda. Namun, di tengah begitu kayanya karya kreatif seniman Sunda di kawasan ini, masyarakat kerap tak memiliki referensi yang lengkap untuk mengenal budaya sendiri.

Jika di kawasan Cirebon terdapat kesenian yang memadukan antara alat musik gitar dengan suling atau biasa disingkat tarling, di Jatinangor juga ada kesenian yang menggunakan alat musik petik ini. Namun, di kawasan yang menjadi pintu gerbang masuk ke Kabupaten Sumedang ini, gitar dipadukan dengan bedug. Perpaduan itu kemudian diberi nama seni tardug.

Ya, perpaduan antara gitar dan bedug itu terlihat saat mereka tampil dalam Panggung Budaya, di Saung Budaya Sumedang, Jatinangor, yang digelar Forum Sumedang Wilayah Barat (FSWB), baru-baru ini. Ketika group seni tardug Sinar Rahayu, dari Desa Cisempur, Kecamatan Jatinangor, tampil di depan ratusan penonton, mampu menunjukkan permainan memukau.

Selain menggunakan alat musik gitar dan bedug, dalam seni tardug juga terdapat alat musik elektone, kendang, dan gong. Selain itu, tak ketinggalan vokalis yang melantunkan tembang, mulai kawih Sunda hingga dangdut.

Menonton penampilan seni tardug Sinar Rahayu yang unik, penonton seolah terbius. Saat penembang tardug melantunkan kawih Mawar Bodas, penonton terdiam mengikuti alunan musik dan kawih yang terdengar klop. Tak heran, saat lagu usai didendangkan, tepuk tangan penonton sontak terdengar.

Tak hanya itu, pada malam panggung budaya itu, juga tampil lingkung seni pencak silat Putra Panglipur dan seni kacapian. Kedua karya seni ini juga menyedot perhatian penonton.

Menyikapi kayanya Jatinangor dengan beragam seni Sunda, membuat salah satu warga Jatinangor, Azis Abdullah, optimis kawasan ini bisa menunjukkan peranannya dalam ngamumule beragam seni warisan karuhun itu.

“Saat saya kecil, ada seni Sunda di Jatinangor bernama cikeruhan. Entah ke mana seni itu sekarang? Kita harus terus melestarikan seni warisan karuhun kepada anak dan cucu. Jika tidak begitu, ancaman punahnya seni itu bisa saja terjadi,” ujarnya.

Anggota Komisi D DPRD Kabupaten Sumedang, Dadang Hermawan, mengatakan, orang Sunda wajib ngamumule budaya Sunda.

“Jika tidak oleh orang Sunda, oleh siapa lagi?” ujar Dadang.(gina maulida kurniadi)***

Respon (139)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *