Tujuh Wilayah Ini Capai Skor Tertinggi Kompetensi Matematika Siswa di Jabar, Pangandaran Teratas

attachment 1778046976575 1
Ketua Tim Pemetaan Kompetensi Matematika Siswa SMA se-Jabar dari FMIPA ITB, Prof. Edy Tri Baskoro, (Foto: Disdik Jabar).

ZONALITERASI.ID – Kesenjangan antarwilayah terlihat dalam “Pemetaan Kompetensi Matematika Siswa se-Jawa Barat”.

Dalam pemetaan yang dilakukan oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Barat pada 21–22 Oktober 2025, dari 27 kabupaten/kota, tujuh wilayah menunjukkan kinerja tinggi dan konsisten serta mencapai nilai rata-rata di atas rata-rata provinsi (500).

Ketujuh wilayah tersebut yaitu Kabupaten Pangandaran (542,06), Kabupaten Purwakarta (529,61), Kota Bekasi (532,83), Kota Sukabumi (531,06), Kabupaten Tasikmalaya (531,33), Kabupaten Bogor (528,64), dan Kota Bandung (527,16).

Sebaliknya, lima wilayah mencatat capaian terendah, yakni Kota Cirebon (443,07), Kota Tasikmalaya (450,49), Kabupaten Bandung Barat (461,44), Kabupaten Kuningan (464,44), dan Kabupaten Majalengka (467,45).

“Kesenjangan antarwilayah ini signifikan dan memerlukan strategi intervensi berbasis wilayah. Perlu program peningkatan kompetensi matematika siswa secara menyeluruh, mulai dari jenjang SD hingga SMA,” kata Ketua Tim Pemetaan Kompetensi Matematika Siswa SMA se-Jabar dari FMIPA ITB, Prof. Edy Tri Baskoro, dikutip dari laman Disdik Jabar, Jumat, 15 Mei 2026.

Prof. Edy menuturkan, hasil pemetaan ini sejalan dengan kondisi nasional yang telah lebih dulu tercermin dalam Tes Kemampuan Akademik (TKA).

“Kompetensi matematika di Indonesia masih sangat rendah. Hasil TKA menunjukkan itu dan temuan pemetaan kita meng-emphasize hal yang sama,” ucapnya.

“Matematika merupakan core competency yang harus dikuasai oleh semua siswa dari semua level. Matematika adalah fondasi untuk memahami perkembangan bidang-bidang lain, science, engineering, semuanya,” sambung Prof. Edy.

Data Pemetaan

Pemetaan yang dilakukan melalui platform online testing MathERA melibatkan 3.046 siswa dari 157 SMA negeri dan swasta di 27 kabupaten/kota se-Jawa Barat. Skor rata-rata provinsi berada di angka 500, setara rerata skala PISA internasional.

Distribusi kompetensi siswa terbagi dalam empat level. Sebanyak 39,40% siswa berada di level I (pemahaman konseptual dasar) dan 35,78% di level II (kemampuan prosedural). Sehingga, lebih dari 75% siswa masih berada pada kemampuan dasar dan baru mampu menyelesaikan soal-soal rutin.

Sementara itu, level III (penalaran dan argumentasi matematis) dicapai oleh 23,70% siswa dan hanya 1,12% atau 34 siswa yang berhasil menembus level IV (problem solving tingkat tinggi), standar minimum yang dituntut dalam UTBK maupun asesmen internasional seperti PISA dan TIMSS.

Dari sisi bidang studi, kekuatan siswa Jawa Barat relatif merata pada bilangan serta data dan peluang. Adapun aljabar, geometri dan pengukuran serta matematika lanjut dan kalkulus menjadi bidang dengan capaian paling lemah.

Guru Jadi Prioritas Utama

Prof. Edy menuturkan, dua aktor utama yang harus menjadi prioritas dalam upaya peningkatan kompetensi matematika, yakni siswa dan guru. Dia secara khusus menyoroti persoalan latar belakang akademik tenaga pengajar matematika di lapangan.

“Guru memegang kendali dalam pembelajaran. Tapi tidak sedikit guru matematika yang latar belakangnya bukan matematika. Ada yang dari sains, bahkan sosial. Ini yang perlu kita perbaiki, baik kemampuan mengajarnya maupun kemampuan matematikanya itu sendiri,” ujarnya.

Sebagai respons, tim pemetaan merekomendasikan pelaksanaan Assessment of Mathematical Competency for Teachers (AMCT-Jabar) bagi seluruh guru matematika SMA di Jawa Barat, dengan target 80% guru mencapai standar kompetensi baru pada 2028.

Guru dengan nilai rendah diwajibkan mengikuti program upskilling selama 6–12 bulan, mencakup penguatan aljabar, geometri, kalkulus, statistika, pemodelan matematika, dan praktik mengajar berbasis penalaran.

Langkah Lanjutan

Berdasarkan temuan pemetaan, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat bersama FMIPA ITB menyiapkan sejumlah program strategis. Di antaranya, transformasi metode pembelajaran dari berbasis hafalan menuju pembelajaran berbasis inquiry dan penalaran, kewajiban minimal 40% soal ujian berbasis penalaran dan argumentasi matematis, serta pendampingan intensif bagi 10 wilayah dengan capaian terendah melalui skema co-teaching antara guru sekolah dan dosen ITB.

Seluruh data hasil pemetaan akan diintegrasikan ke dalam Math Improvement Command Unit, unit strategis provinsi yang akan memantau perkembangan secara berkelanjutan bersama ITB.

“Saya optimis kita bisa lakukan itu. Tentu dengan kerja sama berbagai pihak, tidak hanya pemerintah, tapi juga universitas, masyarakat, dan industri,” pungkas Prof. Edy. (des)***