Kisah Inspiratif dari Tania Septi Anggraini, Dosen UPI yang Jadi Lulusan Doktor Termuda ITB di Usia 25 Tahun

6831462f8ca56
Tania Septi Anggraini, dosen UPI yang jadi lulusan termuda program doktor ITB dalam Wisuda Kedua Tahun Akademik (TA) 2024/2025. (Foto: Dok. ITB)

ZONALITERASI.ID – Perjalanan penuh liku dijalani Tania Septi Anggraini, dosen Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) untuk menyelesaikan program doktoral di Institut Teknologi Bandung (ITB). Perjalanan akademik lulusan termuda program doktor dalam Wisuda Kedua Tahun Akademik (TA) 2024/2025, pada 26 April 2025 itu, bukanlah hal yang mudah.

Perempuan yang kini berusia 25 tahun ini mengungkapkan, dirinya suka fisika dan matematika sejak masa SMA. Namun, perjalanan akademiknya tidak lepas dari tantangan, termasuk perbedaan pendapat dengan keluarganya mengenai pilihan jurusan.

Setelah melewati berbagai diskusi, Tania akhirnya memperoleh izin untuk menempuh studi Teknik di ITB dengan syarat menyelesaikan hingga jenjang magister terlebih dahulu.

“Pada tahun 2017, saya diterima di ITB dan menuntaskan program sarjana sebelum melanjutkan program magister melalui jalur fast track dengan dukungan beasiswa. Saya memilih Progam Studi Teknik Geodesi dan Geomatika, bidang yang saya minati, karena menekankan perhitungan dan logika, bukan hafalan,” kata Tania dilansir dari laman ITB, Rabu, 28 Mei 2025.

Ikut Program Double Degree ITB dan Chiba University

Pilihan Tania membawanya pada kesempatan istimewa ketika program studi Teknik Geodesi dan Geomatika ITB menjalin kerja sama dengan Chiba University, Jepang, melalui program double degree.

Berkat rekomendasi profesornya dan dukungan kedua institusi, Tania diterima dalam program ini dan menjalani studi doktoralnya secara hybrid, menggabungkan pembelajaran di Jepang dan daring dari Indonesia. Hal ini memungkinkan ia tetap aktif mengajar sebagai dosen di Program Studi Sains Informasi Geografi (SaIG) dan Program Studi Survei Pemetaan Informasi Geografi (SPIG) di UPI.

Selama menempuh program doktoral, Tania menghadapi tantangan besar dalam menyeimbangkan aktivitas akademik dan profesional.

“Tantangan terbesar adalah menyelaraskan karier dan akademik,” ujar Tania.

Kuliah dengan Beasiswa dari ITB

Perannya sebagai dosen dan peneliti berjalan bersamaan. Ia harus memanfaatkan waktu malam untuk menyelesaikan kewajiban akademiknya.

Salah satu motivasi kuat untuk menyelesaikan studi dengan cepat ialah didukung oleh beasiswa ITB yang membebaskan biaya kuliah. Saat ini, selain aktif mengajar di UPI, Tania juga tengah menyelesaikan proses sidang doktoral di Chiba University. Ia berencana mengembangkan karier akademik dan riset lebih mendalam setelah menyelesaikan studi doktoralnya.

Dalam pesannya kepada para mahasiswa dan calon doktoral, Tania menekankan pentingnya kesabaran dan semangat.

“Sabar dan semangat. Pintar saja itu tidak cukup, kita juga perlu kekuatan mental karena perjalanan sampai S3 itu memang penuh tantangan,” terang Tania.

Tania menjadi bukti nyata bahwa batas usia bukanlah penghalang untuk mengejar mimpi besar. Dengan tekad, kerja keras, dan semangat pantang menyerah, ia membuktikan bahwa masa muda bisa menjadi waktu terbaik untuk mencetak sejarah, tak bagi diri sendiri, dan untuk dunia pendidikan Indonesia. (haf)***