ZONALITERASI.ID – Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Ditjen Bimas Islam) Kementerian Agama (Kemenag) kembali memanfaatkan momentum Car Free Day (CFD) sebagai ruang edukasi publik.
Direktur Jenderal Bimas Islam, Abu Rokhmad, mengatakan, ada banyak informasi yang bisa didapat warga yang datang di kawasan CFD Kuningan.
Pertama, sosialisasi Gerakan Jum’ah (Gemah) KUA ASRI. Ini adalah upaya pembiasaan menjaga kebersihan mulai dari lingkungan kerja, lalu diperluas ke ruang publik di sekitar masyarakat.
“Kami mengajak setiap hari Jumat untuk meluangkan waktu setengah jam sampai satu jam membersihkan lingkungan kerja. Jika sudah terbiasa, bisa dilanjutkan ke masjid, musala, dan lingkungan sekitar. Ini sumbangan kecil, tetapi berdampak besar, terutama dalam pengelolaan sampah,” ujar Abu Rokhmad, di kawasan CFD Kuningan, Minggu 26 April 2026, dilansir dari laman Kemenag.
Dia mengungkapkan, persoalan sampah merupakan tantangan bersama yang harus direspons secara kolektif. Karena itu, gerakan Gemah KUA ASRI yang terhubung dengan konsep ekoteologi begitu penting untuk membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan juga bagian dari nilai keagamaan.
Kedua, edukasi layanan pencatatan nikah. Layanan pencatatan nikah di KUA tidak dipungut biaya jika dilaksanakan di kantor KUA. Sementara, pelaksanaan akad nikah di luar kantor dikenai biaya sesuai ketentuan yang berlaku.
“Mari kita persiapkan masa depan yang lebih baik. Bagi yang sudah memenuhi syarat, jangan ragu datang ke KUA untuk menikah secara resmi,” katanya.
Ketiga, sosialisasi Gas Nikah Corner. Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah, Ahmad Zayadi, menjelaskan, Gas Nikah Corner menjadi titik utama pelayanan publik saat CFD di kawasan Kuningan. Melalui layanan itu, masyarakat dapat memperoleh informasi teknis terkait pencatatan nikah, mulai dari syarat dan prosedur pernikahan hingga edukasi tentang pentingnya pencatatan nikah dan bimbingan perkawinan.
“Melalui Gas Nikah Corner, masyarakat bisa langsung berkonsultasi, memahami prosedur, sekaligus mendapatkan edukasi tentang risiko pernikahan yang tidak tercatat,” tuturnya.
Zayadi menambahkan, pendekatan edukasi dikemas secara interaktif melalui poster, kuis, dan komunikasi santai bersama penghulu. Kehadiran penghulu dengan Pakaian Dinas Penghulu di ruang publik juga menjadi strategi pendekatan yang lebih humanis agar masyarakat merasa dekat dan mudah berinteraksi.
“Kami ingin masyarakat tidak hanya mendapatkan informasi, tetapi juga mengalami langsung, sehingga dari situ tumbuh kesadaran untuk mencatatkan pernikahan sekaligus menjaga lingkungan,” pungkasnya. (des)***











