Kurikulum Pendidikan Ramadan, Menyongsong Kemenangan

Ilustrasi “Kurikulum Pendidikan Ramadan, Menyongsong Kemenangan”, (Foto: Istimewa).

Oleh Nunu A. Hamijaya

“Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian”. (H.R. Ali Bin Abi Thalib).

SAAT Ramadhan tahun ini Februari, 1447 H./2026 M., perang di wilayah Timur Tengah mulai pecah setelah pihak Israel-AS melakukan penyerangan terhadap Iran dan dibalas dengan serangan balik. Akibatnya, pemimpin tertinggi Iran, Ayatulloh Ali Khamanei  syahid akibat serangan pihak AS-Israel. Hal ini memicu eskalasi  perang yang semakin sengit dan meluas berdampak ke kawasan regional dan dunia.

Kejadian ini membuktikan, bahwa memang Ramadan adalah bulan yang diperbolehkan untuk berperang, sebagaimana pernah dialami di zaman Nabi SAW dan para sahabatnya.

Perintah Al-Quran ‘kutiba’ kewajiban saum Ramadan ditetapkan Otorita Madinah setelah 1,5 tahun pasca- hijrah di Madinah. Demikian pula peristiwa perang menghadapi Negara Mekkah berlangsung dalam suasana Ramadan. Perang Badar, Jumat, 17 Ramadan 2 Hijriah (13 Maret 624 M.). Perang ini dikenal sebagai Ghazwah Badr al-Kubra dan menjadi tonggak awal kejayaan kaum muslimin. Ramadan pula menyempurnakan kemenangan perjuangan Islam lewat Futuh Mekkah, pada 20 Ramadhan 8 H. (1 Januari 630 M.).

Pendidikan Rasululloh SAW sepanjang  23 tahun adalah pendidikan  sebagai  pejuang (mujahid) dan warga  negara Madinah“. Rosululloh SAW  mendidik  para  sahabat dan pengikutnya  menjadi sosok Muhajirin dan Mujahidin. Pada  era Madinah hingga Futuh Makkah, dan dilanjutkan hingga era Khalifah yang empat, ditambahkan yaitu pendidikan kewarganegaraan. Adapun softskill yang ditanamkan  sejak awal adalah ghiroh dan kecakapan membaca dan memahami Al-Quran .

Kita ketahui, bahwa sepanjang era perjuangan Nabi SAW, kondisi umat muslim dalam keadaan tertindas secara  ideologi, politik, dan ekonomi. Mereka disebut Al-Quran sebagai kaum mustadhafin. Bersama-sama Muhammad SAW dan para sahabat utama, para pengikut risalah Islam  yang kebanyakannya  dari kalangan bekas budak, miskin (rakyat biasa), berusaha berjuang dalam alam ‘perjuangan memerdekakan’  Islam sebagai sistem bernegara dan bermasyarakat, hingga mampu membangun wilayah kedaulatan Madinah dan mencapai kemenangan dengan Futhuh Makkah.

Yang paling menonjol sepanjang perjuangan Nabi SAW adalah Pendidikan Bela Islam (PBI) dan Pendidikan Bela Negara (PBN) Madinah hingga mencapai kemenangan Futuh Mekkah. Selanjutnya, pendidikan diarahkan kepada  kemampuan berdakwah dan berjihad secara diplomatik dan berperang jika terpaksa. Dalam masa era Makkiyah, pendidikan ala Rasululloh itu diarahkan pada kemampuan diplomasi memperoleh suaka politik, sedangkan pada era Madinah, diorientasikan  kepada kemampuan (kompetensi skill) negosiasi-diplomasi.

Pendidikan bela negara dalam Islam memiliki kedudukan yang sangat penting. Hal tersebut didasari dari banyaknya ayat yang mengisyaratkan bela negara, salah satunya terdapat dalam Al-Quran surat al-Nisâ’ ayat 84.

Fa qātil fī sabīlillāh, lā tukallafu illā nafsaka wa ḥarriḍil-mu`minīn, ‘asallāhu ay yakuffa ba`sallażīna kafarụ, wallāhu asyaddu ba`saw wa asyaddu tangkīlā.

Artinya: Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan (Nya).

Pada ayat tersebut terdapat dua perintah Allah kepada Nabi Muhammad, yaitu (a) perintah untuk berperang membela negara Madinah dari serangan dan ancaman musuh, serta (b) perintah untuk mengobarkan semangat kepada para sahabat untuk ikut berjihad bersama-sama di jalan Allah. Perang tersebut dilakukan dalam rangka mempertahankan kota Madinah dari serangan kaum kafir Quraisy. Jika musuh dibiarkan menyerang tanpa perlawanan, maka keberlangsungan kehidupan di Madinah pun akan terancam.

Selanjutnya, pendidikan bela negara diarahkan untuk memperoleh kemenangan memerdekaan Mekkah.

Dalam  historiografi  Islam Bernegara di Indonesia, pernah terjadi Resolusi Jihad ’45 yang difatwakan  Hadratus Syeikh K.H. Hasyim Asy’ari dalam melawan atas Sekutu-Inggris. Demikian pula, pada bulan Februari-Maret 1948 pasca-Perjanjian Renville,  telah  berlangsung konferensi  ulama dan  tokoh umat  islam di wilayah Priangan Timur, yang dikenal sebagai Konferensi Tjisajong, telah melahirkan 7 Roadmap Tjisajong:  Salah-satu diantaranya yang pertama adalah mendidik rakyat sehingga cakap menjadi warga negara Islam. Mereka yang disebut sebagai Umat Islam Bangsa Indonesia (UIBI).

Demikianlah, bahwa bagi Umat islam Bangsa Indonesia, amanat Konferensi Tjisajong’ pertama itu  merupakan pelaksanaan dari model pendidikan Ramadan (kurikulum)  yang diteladankan Nabi SAW saat diwajibkannya ibadah saum Ramadan dahulu, 1400 tahun yang lalu. ***

Madrasaah al I’anah, 1 Maret 2026.

Nunu A. Hamijaya, Pusat Studi Sunda (PSS) Bandung.