9 Tips bagi Orang Tua Saat Menghadapi Gen Alpha yang Asbun

generation alpha scaled 1
Ilustrasi Gen Alpha, (Foto: Istimewa).

ZONALITERASI.ID – Menghadapi Gen Alpha (anak-anak kelahiran setelah 2010) yang asbun (asal bunyi) kerap menjadi keluhan baru para orang tua masa kini. Tumbuh di tengah era digital, Gen Alpha terbiasa menyuarakan pendapat, dan tidak segan bertanya “kenapa?” pada aturan yang dianggap tak masuk akal. Bagi sebagian orang tua, sikap ini terasa seperti kurang ajar atau terlalu berani.

Ya, Gen Alpha adalah anak-anak para milenial dan menjadi generasi pertama yang sepenuhnya tumbuh bersama internet, gawai, dan kelas virtual. Tak heran jika mereka memiliki akses informasi luas dan cara berpikir yang lebih kritis sejak dini.

Sifat asbun yang dilekatkan pada mereka sering kali muncul karena keberanian berbicara, membantah, atau mengomentari sesuatu tanpa ragu.

Berikut 9 tips bagi orang tua saat menghadapi Gen Alpha.

9 Tips bagi Orang Tua Saat Menghadapi Gen Alpha.

1. Pahami bahwa Mereka Bukan tidak Sopan,

Mengutip Parents.com, psikolog Catherine Nobile’s, PsyD, menjelaskan, Gen Alpha tumbuh di dunia yang mendorong ekspresi diri, kecerdasan emosional, dan keberanian mempertanyakan norma.

Gen Alpha lebih mungkin berkata, “Kenapa harus begitu?” dibandingkan sekadar menjawab “Ya, Bu” atau “Baik, Pak.” Ini bukan selalu bentuk pembangkangan, melainkan tanda bahwa mereka nyaman berpikir kritis.

Dalam menghadapi Gen Alpha yang asbun, orang tua perlu membedakan antara sikap tidak sopan dan kemampuan asertif. Asertif berarti mampu menyampaikan pendapat dengan percaya diri tanpa merendahkan orang lain. Itu keterampilan hidup yang penting.

2. Ajarkan Batas antara Percaya Diri dan Kurang Ajar

Catherine Nobile’s, menekankan pentingnya membantu Gen Alpha menemukan keseimbangan antara percaya diri dan empati. Anak perlu tahu bahwa berbicara boleh, tetapi cara menyampaikannya tetap harus menghargai orang lain.

Alih-alih langsung memotong dengan, “Kamu kok melawan?”, cobalah, “Mama senang kamu punya pendapat. Tapi yuk kita sampaikan dengan cara yang lebih sopan.”

Dengan begitu, orang tua tidak mematikan keberanian anak, tetapi mengarahkannya.

3. Modelkan Komunikasi yang Respek

Profesor komunikasi Gail Fairhurst dari University of Cincinnati menjelaskan, bahasa membentuk identitas dan relasi. Anak belajar dari interaksi sehari-hari. Jika orang tua sering membentak, menyindir, atau meremehkan, anak pun akan meniru pola itu.

Tunjukkan bagaimana menyampaikan ketidaksetujuan tanpa merendahkan. Misalnya, “Mama kurang setuju, tapi boleh kamu jelaskan alasanmu?” Model komunikasi ini jauh lebih efektif dibandingkan ceramah panjang.

4. Jangan Terlalu Cepat “Menolong” Mereka

Menurut Ryan Jenkins di Psychology Today, Gen Alpha tumbuh dalam dunia penuh “mesin kepastian”: GPS, aplikasi jadwal, notifikasi instan. Semua serba jelas dan cepat. Akibatnya, mereka kurang terlatih menghadapi ketidakpastian.

Orang tua sering tanpa sadar menjadi SmartPlow Parent — orang tua yang menyingkirkan semua rintangan sebelum anak mengalaminya.

Cobalah sesekali menahan diri. Ketika anak bingung mencari lokasi latihan, jangan langsung buka aplikasi. Tanyakan, “Menurutmu harus bagaimana?” Ini melatih daya juang dan mengurangi kecemasan jangka panjang.

5. Latih Mereka Menghadapi Ketidakpastian

Kecemasan sering lahir dari ketidakmampuan menghadapi hal yang tidak pasti. Biasakan anak pada micro-challenges:

– Biarkan mereka memesan makanan sendiri.
– Suruh mereka menyiapkan tas sekolah.
– Minta mereka mencari informasi dengan bimbingan minimal.

Ketika mereka berhasil, rasa percaya diri tumbuh dari pengalaman, bukan sekadar pujian.

6. Pahami Bahasa dan Slang Mereka

Gen Alpha punya bahasa khas seperti no cap, rizz, atau slay. Bahasa ini adalah cara mereka membangun identitas kelompok.

Daripada mencibir, lebih baik pahami konteksnya. Bahasa selalu berkembang. Seperti dijelaskan Gail Fairhurst, setiap generasi menciptakan kosakatanya sendiri sebagai bentuk identitas budaya. Memahami bahasa mereka membuka pintu komunikasi yang lebih hangat.

7. Ubah Perspektif: dari “Anak Kurang Ajar” ke “Anak Kritis”

Salah satu perubahan besar yang perlu dilakukan orang tua dalam menghadapi gen alpha yang asbun adalah menggeser sudut pandang.

Jika dulu anak yang diam dianggap baik, kini anak yang aktif bertanya justru bisa menjadi pemimpin yang tangguh di masa depan. Keberanian menyampaikan pendapat adalah modal besar di dunia kerja modern yang menghargai kolaborasi dan inovasi.

Tugas orang tua bukan membungkam, tetapi membimbing.

8. Bangun Empati, bukan Hanya Aturan

Keberanian tanpa empati bisa berubah menjadi arogan. Karena itu, ajarkan anak untuk mendengar sebelum berbicara.

Biasakan kalimat seperti:

“Coba kamu bayangkan kalau kamu di posisi dia.”

“Menurutmu perasaan temanmu bagaimana?”

Empati membuat keberanian mereka tetap manusiawi.

9. Perkuat Koneksi, bukan Kontrol

Hubungan yang hangat lebih efektif daripada kontrol ketat. Anak yang merasa didengar cenderung lebih kooperatif.

Luangkan waktu tanpa distraksi gawai. Dengarkan cerita mereka, bahkan yang terdengar remeh. Koneksi emosional adalah fondasi disiplin yang sehat.

Demikian 9 tips bagi orang tua untuk menghadapi Gen Alpha. Semoga bermanfaat. (haf)***