Catatan Pensiunan 51: tidak Cukup hanya Contoh

518323951 24875853445336413 840718603318972926 n 1
Ilustrasi Catatan Pensiunan 51: tidak Cukup hanya Contoh, (Foto: Dok. Pribadi).

Oleh Suheryana Bae

ORANG TUA dahulu percaya bahwa memberi contoh melalui perbuatan adalah cara paling mulia untuk mengajak orang lain berbuat atau berubah. Kita menyapu halaman kantor sambil berharap tetangga ikut membersihkan lingkungan. Kita datang tepat waktu ke rapat dengan harapan rekan kerja mulai menghargai waktu. Kita menjaga sikap sopan dan tertib, berharap orang di sekitar pun melakukannya. Namun, kenyataannya sekarang berbeda. Alih-alih diikuti, memberi contoh justru membuat kita lelah sendiri. Energi habis, hati kecewa, dan hasil yang diharapkan tidak terwujud.

Saya masih ingat ketika masih dinas, bersama rekan sekantor dan komunitas mengadakan gerakan kebersihan di lokasi pertokoan dan kawasan wisata. Kami bermaksud mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan. Kami turun menyapu sampah, membersihkan selokan, dan merapikan trotoar. Gerakan itu terlihat dan dilandasi semangat kebersamaan. Harapannya sederhana, warga dan pedagang sekitar akan tergerak untuk ikut serta membersihkan lingkungan.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Banyak orang berdiri menonton. Ada yang melanjutkan obrolan santai, bermain media sosial, melayani pembeli, atau lewat begitu saja. Seolah-olah mereka sedang menikmati pertunjukan, bukan merasa terpanggil untuk bergotong royong.

Akhirnya, strategi pun diubah. Memberi contoh tetap dilakukan, tetapi langsung diikuti dengan perintah dan arahan yang jelas. Baru saat itu muncul gerakan nyata. Sampah dikumpulkan, selokan dibersihkan, dan taman ditata. Kejadian seperti ini bukan sekali dua kali. Di banyak tempat, pola yang sama kerap terulang.

Hal ini terjadi karena pesan tersirat semakin sulit dipahami saat ini. Dulu, nilai-nilai seperti malu, sungkan, atau rasa memiliki cukup kuat untuk mendorong orang bergerak hanya dengan melihat contoh. Sekarang, kesibukan, media sosial, dan budaya individualisme membuat orang lebih fokus pada urusan masing-masing. Contoh tanpa penjelasan yang tegas menjadi kurang efektif. Rasa tidak lagi cukup. Empati yang diharapkan sering tenggelam oleh prioritas kepentingan pribadi.

Fenomena ini tidak hanya terjadi dalam urusan kebersihan lingkungan. Di dunia kerja, atasan yang hanya memberi contoh kerja keras tanpa arahan jelas sering mendapati stafnya kurang produktif. Di keluarga, orang tua yang rajin beribadah, tetapi jarang menegaskan pentingnya ketaatan kepada Mahapencipta, kerap kecewa melihat anak lebih sibuk dengan gadget. Di komunitas, relawan yang membersihkan sungai setiap minggu tanpa mengajak warga secara langsung akhirnya bekerja sendirian. Semua ini menunjukkan bahwa di zaman sekarang, kepemimpinan tidak cukup hanya dengan cara implisit. Diperlukan kombinasi yang tepat antara teladan dan komunikasi eksplisit.

Memberi contoh tetap sangat penting. Perbuatan yang baik adalah fondasi kepercayaan. Ketika orang melihat kita melakukan apa yang kita ajarkan, kredibilitas kita meningkat. Namun fondasi saja tidak cukup. Setelah memberi contoh, kita perlu menyampaikan harapan dengan bahasa yang gamblang, mudah dimengerti, dan tegas — bukan dengan emosi, melainkan dengan arahan yang jelas dan konsisten.

Dalam kasus kebersihan tadi, setelah menyapu bersama, pemimpin bisa langsung berkata: “Mulai minggu depan, setiap Sabtu pagi pukul 07.00, kita bersih-bersih bersama. Setiap kios wajib membersihkan area depannya masing-masing. Saya akan ikut memantau. Bagi yang tidak ikut, akan kita tegur secara pribadi.” Pesan ini eksplisit, ada waktu, ada tugas, ada konsekuensi, sekaligus ada komitmen dari pemimpin sendiri. Orang lebih mudah merespons karena tidak perlu menebak-nebak.

Pendekatan ini berlaku luas. Seorang guru yang ingin siswa rajin membaca bisa mulai dengan membaca di depan kelas, lalu menambahkan: “Setiap minggu kalian harus membaca satu buku dan menuliskan ringkasan satu halaman. Saya akan periksa setiap Jumat.” Seorang manajer yang ingin staf disiplin waktu dapat menyusun aturan absensi dan deadline yang jelas beserta konsekuensinya. Orang tua yang ingin anak mandiri dapat memberi contoh rutinitas tertib, lalu memberikan tugas harian dengan batas waktu yang tegas.

Tentu saja, perubahan tidak terjadi secara instan. Ada yang cuek, ada yang protes, dan ada pula yang baru bergerak setelah beberapa kali pengingat. Itulah realitas kehidupan. Namun, dengan kombinasi teladan dan arahan eksplisit, peluang keberhasilan jauh lebih besar daripada hanya mengandalkan pesan tersirat. Kita tidak perlu kelelahan batin karena berharap orang lain “mengerti sendiri”.

Pada akhirnya, kondisi kekinian bukanlah tentang kehilangan nilai-nilai luhur seperti kesopanan dan kehalusan budi, melainkan tentang penyesuaian dengan realitas zaman. Di masa di mana perhatian orang terbagi-bagi dan informasi melimpah, pesan yang samar-samar mudah hilang. Yang dibutuhkan adalah kejelasan. Teladan yang kuat ditambah kata-kata yang tegas dan mudah dipahami akan jauh lebih efektif menggerakkan orang.

Kita semua bisa menerapkan ini dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari hal kecil di rumah, kantor, maupun lingkungan sekitar. Berikan contoh yang baik, kemudian sampaikan harapan dengan bahasa yang lugas. Jangan biarkan kelelahan batin karena harapan yang tidak tersampaikan. Dengan cara ini, bukan hanya lingkungan yang bersih, tetapi juga hubungan antarmanusia menjadi lebih efektif dan saling menguatkan. Zaman memang berubah, tetapi tujuan kita tetap sama: menciptakan perubahan positif yang nyata. ***

Suheryana Bae, Kolumnis.