Ensiklopedia Sastra Nusantara: Menuntaskan 20 Tahun Mengumpulkan dan Mendokumentasikan

WhatsApp Image 2026 05 14 at 20.46.47 1

Oleh Nunu A. Hamijaya

UNTUK kali  kedua, berlangsung diskusi panel ahli untuk menyempurnakan akan hadirnya sebuah ensiklopedia gaya baru bernama Ensiklopedia Sastra Nusantara. Dalam diskusi panel ahli yang digelar di Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut 2 Bandung, pada Rabu, 13 Mei 2026 itu, hadir Dr. Hawe Setiawan (Universitas Pasundan/Unpas), Dr. Safrina Noorman (Universitas Pendidikan Indonesia/UPI), Dr. Teddi Muhtadin, M.Hum. (Universitas Padjadjaran/Unpad), dan Prof. Dr. Susi Yuliawati ,  M.Hum. (Unpad). Adapun moderator diskusi yaitu Nunu A. Hamijaya (Pusat Studi Sunda/PSS).

Sebelumnya, pernah dilakukan hal yang serupa  pada 11 Februari 2026 dengan menghadirkan Prof. Dr. Maman S. Mahayana (Universitas Indonesia/UI),  Prof. Dr.  Mikihiro Moriyama (Nanzan University, Jepang), Prof. Dr. Retty Isnendes, M.Hum. (UPI), dan Dr. Ruhaliah, M.Pd. ( Perpustakaan Ajip Rosidi).

Dalam diskusi panel ahli kedua ini dikupas tentang pentingnya Ensiklopedia Sastra Nusantara sebagai karya master piece-nya Rachmat Taufiq Hidayat.  Hal ini  beralasan karena hampir dua puluh tahun (2006-2026), bahan-bahan dikumpulkan dan didokumentasi dengan apik, bahkan hingga tiga kali bolak-balik ke Universitas Leiden, Belanda. Yang menarik bahwa Ensiklopedia Sastra Nusantara yang rencananya terbit dalam 5 jilid eksklusif dengan jumlah halaman total lebih dari 2,500 halaman akan banyak memberikan kejutan-kejutan yang tak akan ditemukan dalam ensiklopedia sastra Indonesia manapun. Sebagai catatan, beberapa ensiklopedia sastra sejenis, diberi judul ‘Ensiklopedia Sastra Indonesia Modern’ atau Ensiklopedia Sastra Nasional.

Mendefinisikan Sastra Nusantara 

Sebelum berkenalan dengan kesusasteraan Barat, bangsa Indonesia telah mempunyai kesusasteraan sendiri yang mempunyai konvensi sendiri. Sastra itu adalah sastra Nusantara, yang coraknya bermacam-macam sesuai dengan daerahnya masing-masing, yang mempunyai bahasa sendiri-sendiri. Sastra Nusantara itu berbentuk (bergenre/berjenis) puisi maupun prosa, seperti pantun, syair, tembang, hikayat, dongeng, dan babad (Pradopo, Rachmat Djoko: 1981).

Nusantara yang menunjukkan kepada suatu kawasan yang terdiri dari berbagai pulau.Yang saat ini meliputi wilayah Republik Indonesia dan budaya Melayu sehingga mencakup Malaysia Barat & Timur serta Brunei, termasuk juga Filipina Selatan dan Muangthai Selatan serta Timor Leste.

Sedangkan dalam dunia sastra, istilah ini menunjukkan kepada karya-karya sastra yang  tidaklah sebatas karya-karya sastra yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Sastra berbahasa Indonesia hanyalah menjadi salah satu saja dari sastra Nusantara atau sastra Indonesia.

Jika kita sepakat dengan pengertian Nusantara seperti ini maka kita akan memasukkan karya-karya besar seperti I La Galigo dari Tanah Bugis, Sansana Bandar Bandar, Sansana Kayau Pulang dari Tanah Dayak, pantun-pantun, gurindam dan seloka Melayu, karya-karya yang ditulis oleh warga dari etnik Tionghoa atau Indo sebagai bagian dari sastra Nusantara dan bukan hanya membatasinya pada karya-karya yang ditulis dalam bahasa Indonesia “Modern” yang secara usia sangat pendek usianya dibandingkan dengan karya-karya tersebut dan yang kita sangat kurang indahkan.

Di Nusantara, budaya tulis menulis yang terekam sejarah dimulai sejak abad ke IV Masehi, dengan temuan pertama pada prasasti Yupa. Prasasti peninggalan Kerajaan Kutai ini ditulis dalam bentuk puisi anustub, isinya menjelaskan tentang Raja Mulawarman yang memberikan sumbangan Sapi yang banyak kepada kaum Brahmana.

Era Hindu/Budha sastra menjadi bagian terpenting yang merekam dan mengabadikan apa yang terjadi pada bangsa atau kerajaan masyur pada masanya, seperti Kitab Negara Kertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca yang menceritakan kerajaan Majapahit. Selain itu, epos Hindu terkenal Mahabarata juga digubah menjadi sebuah kitab epik Baratayudha dengan menggunakan bahasa Jawa oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh dengan tambahan tokoh yang baru.

Selesainya zaman Hindu/Budha tidak menjadikan sastra selesai juga. Saat Islam masuk ke Nusantara, sastra juga turut berkembang. Pada penyebarannya di Jawa oleh Wali Songo, pendekatan kebudayaan seperti wayangan dan sulukkan menjadi tren yang paling damai dalam mengajarkan Islam. Pada masa ini lahirlah Suluk Wujil, tembang Lir-ilir, Turi-turi Putih yang dibuat oleh Wali Songo. Sementara di wilayah lain, sastra seperti syair, gurindam, pantun, dan hikayat tumbuh subur di dataran Melayu. Contoh yang terkenal adalah Hikayat Bayan Budiman, Gurindam Cilaka Duabelas juga Syair Ken Tambunan.

Adakah yang Unik dari ESN?

Beberapa yang menarik dalam Ensiklopedia Sastra Nusantara seperti: foto-foto para sastrawan semasa mudanya; tanda tangan asli para sastrawan; tulisan-tulisan tangan dalam surat-surat pribadi para sastrawan terkenal di masanya. Rachmat Taufiq Hidayat  sebagai penyusun tunggal Ensiklopedia Sastra Nusantara oleh para panelis ahli sesi kedua disebutnya sebagai ‘duplikat Ajip Rosidi’ mendapatkan kesempatan menyelesaikan karyanya dengan dukungan program Danaindonesiana Kementerian Kebudayaan RI. Menurut  pihak penerbit Dunia Pustaka Jaya, rencananya Ensiklopedia Sastra Nusantara akan diberikan Kata Sambutan Presiden RI, Prabowo Soebianto dan Menteri Kebudayaan RI, Prof. Dr. Fadli Zon, M.Sc.. Selain itu, tentu saja akan ada ‘endorsement’ dari para  akademisi, seperti Dr. Suryadi (Universitas Leiden) dan Prof. Mikihiro  (Nanzan University, Jepang). Menurut rencana, Ensiklopedia Sastra Nusantara ini akan diluncurkan pada bulan Oktober 2026.

Pertanyaan yang menggelitik, apakah di era digital ini kehadiran Ensiklopedia Sastra Nusantara dalam wujud cetak akan berdampak signifikan bagi kalangan Generasi (Gen- Z)?

Dijawab Rachmat Taufiq Hidayat , bahwa Ensiklopedia Sastra Nusantara ini untuk perdana akan diposisikan sebagai ‘karya literasi cetak’ untuk kepentingan diplomasi literasi kebudayaan sebagai  cenderamata bagi pihak luar negeri, seperti duta besar, KBRI, dan perpustakaan terkenal di negara-negara ASEAN, Eropa, dan AS. Kedepan, ada rencana bahwa pada akhirnya digitalisasi dan platform IT akan digunakan untuk Ensiklopedia Sastra Nusantara ini sehingga akan  dengan cepat diakses generasi Gen Z tadi. Hal ini sudah dirintis oleh Pusat Studi Sunda (PSS) dengan meluncurkan platform digital seperti sundadigi.org dan gapura.org bekerja sama dengan Pusat Budaya Sunda Unpad, yang merupakan perubahan nama dari Pusat Digitaliasi dan Pengembangan Budaya Sunda (PDP-BS) pimpinan Prof. Ganjar Kurnia.

Kegiatan diskusi panel ahli ini  rencananya terakhir  akan digelar pada bulan Juni 2026. Setelah itu, proses editing hingga selesai  ‘dummy’ dan proses pencetakan sebanyak 3.000 set yang dilakukan hingga bulan September 2026 . Semoga karya ESN ini terbit sesuai rencana dan mendapatkan sambutan apresaisi.  yang layak dari  berbagai pihak. ***

Cianjur, Madrasah al I’anah, 14/5/2026

Nunu A. Hamijaya, Pusat Studi Sunda (PSS).