ZONALITERASI.ID – Komunitas Gada Membaca menggelar kegiatan literasi kebencanaan bertema “Kenali Bencananya, Kurangi Risikonya”, di Lantai 2 Komunitas Gada Membaca, Winduraja, Kawali, Kabupaten Ciamis, pada Rabu, 27 Mei 2026.
Dalam kegiatan ini hadir narasumber Kak Nandha Julistya dari Yayasan Pelangi Eka Nusa.
Kegiatan ini berlangsung dengan penuh semangat dan antusiasme dari para peserta, khususnya anak-anak. Tidak hanya berupa penyampaian materi, kegiatan juga dikemas secara interaktif dan menyenangkan. Anak-anak diajak belajar melalui lagu jingle “Kenali Bahayanya, Kurangi Risikonya” yang membuat suasana menjadi lebih hidup sekaligus membantu mereka mengingat pesan penting tentang kesiapsiagaan bencana.
Selain itu, peserta juga menyimak pembacaan buku Bola Tiwi yang membahas tentang gempa bumi, mulai dari cara berlindung hingga bagaimana bertahan saat terjadi bencana. Melalui cerita tersebut, anak-anak lebih mudah memahami situasi darurat dengan bahasa yang sederhana dan dekat dengan keseharian mereka.
Tidak hanya mendengarkan, anak-anak juga terlibat langsung dalam praktik. Mereka memperagakan langkah-langkah saat terjadi gempa, seperti merunduk dan berlindung di bawah meja. Kegiatan dilanjutkan dengan simulasi gempa yang memberikan pengalaman nyata tentang bagaimana merespons situasi darurat dengan tepat.
Setelah itu, peserta mengikuti simulasi evakuasi dengan berjalan cepat menuju titik aman. Dalam proses ini, anak-anak juga belajar pentingnya memastikan seluruh anggota sudah lengkap dengan melakukan pengecekan bersama. Kegiatan diakhiri dengan pemahaman mengenai tempat aman saat bencana, yaitu area terbuka yang jauh dari bangunan atau benda-benda yang berpotensi roboh.
Melalui kegiatan ini, diharapkan anak-anak tidak hanya memahami konsep kebencanaan, tetapi juga memiliki keterampilan dasar dan kesiapsiagaan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ghalib Anugrah, relawan Komunitas Gada Membaca yang mendampingi kegiatan, mengungkapkan, materi yang disampaikan narasumber Kak Nandha Julistya menarik dan informatif. Dengan pembawaan menyenangkan, narasumber menyampaikan materi dengan jelas.
“Saya baru tahu bahwa kejadian alam seperti gempa bumi, gunung meletus, banjir, dan lain-lain, tidak disebut bencana apabila tidak ada korban atau kerugian. Dan ternyata ada cara merunduk yang benar saat terjadi gempa bumi. Jadi ada tiga tahap saat terjadi gempa bumi, yaitu merunduk, berlindung, dan bertahan, setelah aman lakukan evakuasi,” ujarnya.
“Semoga peserta yang mengikuti kegiatan ini dapat mempraktikkan di kehidupannya. Selain itu, saya pun berharap Komunitas Gada Membaca bisa memiliki petunjuk lokasi titik kumpul evakuasi,” sambung Ghalib.
Sementara Irfan Setia, Ketua Komunitas Seni Lukis Galuh, yang mengikuti kegiatan ini mengatakan, pemateri mampu memberikan pemahaman bahwa bencana itu bukan ditimbulkan dan disebabkan oleh alam. Erupsi gunung dan gempa bumi merupakan fenomena alam yang wajar dan natural.
Mengutip paparan pemateri, Irfan menuturkan, fenomena alam dekat dengan kita. Jika kita tidak menyadari dan tanggap akan hal itu, mengakibatkan kerusakan dan korban jiwa. Kondisi itu baru bisa dikatakan bencana.
“Kak Nanda mampu memberikan pemahaman dan penanggulangan bencana kepada peserta secara sederhana dan menarik. Menggunakan bahasa anak, yang pada acara diikuti oleh anak-anak, narasumber mampu memberikan pemahaman secara sistematik,” ungkapnya.
“Pemanfaatan media buku cerita dengan ilustrasi, dalam pemaparan materi bencana alam, mampu memberikan wawasan dan pengetahuan bencana secara jelas dan asyik,” pungkas Irfan. (Naufalia Qisthi, relawan Komunitas Gada Membaca)***











