Historiografi Politik Olah Raga: Golf, Badminton, dan Pingpong Wajah Indonesia di Zamannya

WhatsApp Image 2026 06 03 at 08.37.59 1 1 1
Presiden era Orde Baru, Soeharto saat bermain golf dengan aktor Hollywood Sylvester "Rambo" Stallone, pada 21 Oktober 1994, (Foto: Istimewa).

Oleh Nunu A. Hamijaya

PEJABAT Indonesia di awal Orde Baru  Soeharto lebih mengenal golf daripada badminton atau bulu tangkis yang justru membawa harum nama Indonesia. Bahkan, ada lagunya yang terkenal di zaman itu liriknya masih penulis ingat “Badminton di mana mana, di kampung jeung di kota” . Sang penciptanya adalah  Koko Koswara alias Mang Koko (1917-1985) yang ditulisnya sekitar tahun 1943. Namun, lagu tersebut baru  popular pada 1955 melalui grup Kantja Indihiang. Dalam bahasa Indonesia, lagu ini dipopulerkan H. Benyamin  Syueb (Betawi).

Jadi, nampak jelas jenis olah raga itu membedakan kelas, antara pejabat dan rakyat. Hampir 30 tahun, olah raga kelas dunia di bidang badminton yang berubah namanya menjadi bulu tangkis dipakai oleh olah ragawan Indonesia di turnamen Piala Thomas dan Piala Dunia dan Olimpiade.

Pemain badminton Indonesia yang paling terkenal pada era tahun 1950-an adalah Tan Joe Hok dan Ferry Sonneville. Terselip di antaranya adalah Eddy Yusuf, yang merupakan cucu Dr. Snouck Hurgronje yang terkenal sebagai orientalis Belanda dari Siti Sadijah, istri kedua Snouck yang merupakan putri dari wakil penghulu Bandung, Muhammad Su’eb (dikenal sebagai Kalipah Apo). Raden Yusuf adalah ayahnya  adalah anak tunggal dari pernikahan Snouck Hurgronje dengan Siti Sadijah yang lahir pada tahun 1905.

Selain itu, kita ingat nama-nama legendaris, Ii Sumirat (Sunda), Rudi Hartono (China-Jawa), Liem Swie King (China-Jawa), Susi Susanti (China-Sunda), dan Taufik Hidayat (Sunda). Bulu tangkis dipertandingkan secara resmi dalam Olimpiade 1992 yang berlangsung di Barcelona, Spanyol. Dua emas lewat tunggal putra dan putri, Susi Susanti dan Alan Budi Kusuma.

Dalam sejarah olahraga,  badminton atau bulu tangkis pertama kali masuk ke Indonesia sekitar tahun 1930-an. Bandung, lagi-lagi menjadi tempat bersejarah bagi badminton ini. Pada tahun 1933, terbentuk dua organisasi bulu tangkis lokal pertama, yaitu Bataviase Badminton Bond dan Bataviase Badminton League yang akhirnya bergabung menjadi Bataviase Badminton Unie. Kejuaraan besar pertama kemudian diselenggarakan di Bandung pada tahun 1934.

Golf: Olah Raga Para Pejabat

Bagaimana dengan golf yang merupakan olah raganya para pejabat? Rupanya tak lepas dari sejarah golf masuk ke Hindia Belanda, yang sudah lebih dari 150  tahun.  Berdasarkan informasi teegolf.id , golf masuk pertama kali ke Hindia Belanda (1872). Elit mereka yang  gemar  golf membentuk Batavia Golf Club dirintis Mr. A. Gray dan Mr. T.C Wilson. Resminya diakui pemerintahan Hindia Belanda pada 28 Agustus 1932.  Saat pendudukan Jepang (1942) berganti nama menjadi Djakarta Golf Klub (DGK). Setelah penyerahan kedaulatan kepada Negara RIS (KMB), 1949 Mr. Senu Abdul Rahman menjadi presiden perkumpulan. Pada 1950, berubah menjadi Djakarta Golf Club Indonesia dengan presiden pertamanya Laksamana E. Martadinata. Pada 13 Desember 1970, Djakarta Golf Club Indonesia berubah ejaannya Jakarta Golf Club (JGC) yang kini dikenal hingga saat ini.

Golf sebagai olah raga pejabat tinggi, didukung oleh Soeharto kala itu. Sejak awal tahun 1960-an, Soeharto sudah berkenalan dengan olah raga golf. Adalah pengusaha Bob Hasan yang memperkenalkan sekaligus menemani belajar golf, saat Soeharto masih menjabat Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad). Sebenarnya, sosok  jenderal yang lebih dahulu tertarik pada golf, yakni Ahmad Yani. Saat itu Yani, baru saja kembali dari menempuh  pendidikan (setingkat Seskoad) di Fort Leavenworth, Kansas, Amerika Serikat. Selain dengan Bob Hasan, Soeharto kerap bermain golf dengan Sudono Salim, Eka Tjipta Widjaja ( Oei Ek Thong), dan Prajogo Pangestu. Dalam momen lain,  Soeharto  pernah bermain golf pada 21 Oktober 1994, dengan aktor Hollywood Sylvester “Rambo” Stallone.

Bagi masyarakat Tatar Sunda, sebuah lapangan golf berdiri di kawasan Dago Atas pada 1917. Dikelola oleh Bandoengsche Golf Club, komunitas pegolf yang terdiri atas orang-orang pemerintahan Belanda serta orang-orang Eropa lainnya. Pasca-kemerdekaan RI, nama Bandoengsche Golf Club berubah menjadi Bandoeng Golf Club, berganti menjadi Persatuan Golf Bandung (1967). Terakhir, pada 21 Januari 2016, Dago Heritage 1917 diperkenalkan sebagai identitas baru dari lapangan golf tua di Bandung.

Soal golf adalah olah raga para penguasa dan pengusaha, itu diakui dalam obrolan santai dengan mantan Gubernur BI  dengan penulis. Bahwa di lapangan golf itulah merupakan tempat paling efektif untuk  bertemu. Bahkan untuk urusan CSR dan proposal dana ratusan-miliaran terjadi dalam hitungan menit deal di arena golf. Jadi, golf ini juga adalah arena pertemuan informal para bankir kelas internasional, nasional hingga lokal, macam direktur bank level provinsi. Tragisnya di balik ‘cuan’ dan proyek itu pernah ada rumors, salah-seorang  direktur bank  meninggal akibat kena bola golf yang memang keras itu.

Ping-pong Olah Raga Cermin Birokrasi Kita

Bagaimana dengan ping-pong atau tenis meja?  Sebagian besar masyarakat masih menganggap tenis meja seringkali disebut dengan pingpong. Penyebutan tersebut tidak salah, hanya saja tidak tepat. Setelah  berkembang pesat pada awal 1900-an, James Gibb, seorang penggemar olah raga asal Inggris, menemukan bola berbahan seluloid yang memantul sangat baik. Kombinasi bola baru ini dan raket menghasilkan suara pantulan ping-pong yang khas. Perusahaan  mainan asal Inggris, J. Jaques & Son Ltd, mendaftarkan nama “Ping-Pong” sebagai merek dagang pada tahun 1901. Nama ini langsung meledak dan menjadi merek dagang yang sangat populer. Pingpong sebagai merek dagang setelah dibeli Parker Brothers , Amerika Serikat. Sejak menjadi merek dagang, penyebutan pingpong berganti menjadi tenis meja dan pada 1926 resmi berdiri International Table Tennis Federation atau ITTF.

Olah raga ini tidak begitu populer di kalangan pejabat. Tak identik dengan  klas elit, mungkin  lebih dekat dengan olah raga bulu tangkis itu. Namun ada kaitannya dengan hubungan antara pejabat dan rakyatnya, yaitu soal birokrasi. Di era Orde Baru, sebutan ‘Pingpong’ malah  identik dengan  perilaku birokrasi yang buruk tepatnya birokrat yang mempermainkan urusan administrasi orang dipersulit sehingga tidak selesai-selesai.

Kita sering mendengar ungkapan, urusannya “dipingpong” hingga tak pernah selesai. Ini semacam perilaku birokrasi nakal karena diskriminasi dengan berbagai sebab, biasanya karena kurang ‘sesajen amplop’ sebagai cikal-bakalnya sogok menyogok (gratifikasi) yang dikenal dalam kamus KPK.  Mungkin, banyak pejabat yang tidak begitu  suka pingpong , dan lebih memilih  tenis karena dianggap  lebih bergengsi.

Salah-satu tokoh publik pejabat akademisi yang hobinya sejak muda main ping-pong adalah Prof. Ganjar Kurnia, Rektor Unpad (2007-2015).  Tak banyak dosen yang minatnya sama dengan  sang rektor, tapi apakah ada yang  memaksakan diri ikut-ikutan berpingpong ria karena Sang Rektor? Belum ada penelitiannya sejauh yang penulis tahu. Yang menarik, soal pingpong ini justru mengilhami Kang Ganjar untuk membacanya dari perspektif Sufi lewat tulisannya.

Ganjar Kurnia dan Pingpong dalam Kacamata Sufi  

Penulis mencoba memparafrasekan beberapa paragraf yang ditulisnya. Ia mengeksplorasi tentang bola pingpong, net, jenis pukulan, gerakan putaran bolanya dalam persepektif sufistis yang begitu bermakna untuk direnungkan.

Ia mempersonifikasikan gerakan  bola pingpong yang bolak-balik seperti detak jantung yang belum selesai menanyakan arti hidup . Permainan yang paling sulit mengembalikan diri sendiri setelah dipukul waktu. Net itu kecil, tetapi sering lebih kejam daripada rapat yang tidak menghasilkan keputusan. Ia tidak banyak bicara, tetapi sanggup menghentikan cita-cita. Di seberang meja, lawan berganti-ganti. Sekali wajahnya adalah waktu. Ia memakai karet polos. Pukulannya licin seperti nasib. Bola datang biasa saja, tetapi tiba-tiba menukik ke sudut umur. Kita kira masih muda, padahal sudah melewati berset-set kalender.

Bola kecil itu terus memantul. Bolak-balik, seperti detak jantung yang belum selesai menanyakan arti hidup kepada meja pingpong tua di sudut gedung olahraga. Di atas meja itu, kehidupan tampak sederhana: ada net, ada bet, ada bola, ada lawan, ada papan skor dan kadang ada wasit. Tetapi makin lama bermain, makin terasa bahwa yang paling sulit bukan menghadapi “smash”, bukan membaca “chop”, bukan pula menebak bola “side” lawan, melainkan mengembalikan diri sendiri setelah dipukul waktu.

Kadang pukulanku terlalu keras. Bola melesat ke luar meja, menabrak tembok, lalu jatuh dekat sandal jepit yang diam seperti kiai kampung sedang membaca doa. Kadang aku merasa sudah melakukan “topspin” dengan indah, pinggang sedikit diputar, wajah dibuat serius seperti atlet nasional, tetapi bola justru nyangkut di net. Net itu kecil, tetapi sering lebih kejam daripada rapat yang tidak menghasilkan keputusan. Ia tidak banyak bicara, tetapi sanggup menghentikan cita-cita. Dalam permainan pingpong ada “Anti-spin”, tentang pelajaran pahit bahwa tidak semua ketulusan dibalas dengan getaran yang sama.

Selanjutnya, saya kutip  sebagian tulisan aslinya :

Dalam hidup, kita sering salah membaca putaran. Kita kira itu peluang, ternyata jebakan. Kita kira itu cinta, ternyata latihan sabar. Kita kira itu kekalahan, ternyata jalan memutar menuju pengertian. Kita kira lawan sedang menyerang, padahal ia hanya mengembalikan doa kita dalam bentuk yang belum kita pahami.

Kadang bola datang ke sisi “backhand”. Di situlah kelemahan kecil yang selalu disembunyikan. Semua orang punya “backhand” dalam dirinya: bagian yang tidak sekuat “forehand”, bagian yang canggung, bagian yang sering terlambat, bagian yang kalau diserang membuat wajah kita mendadak religius.

“Ya Allah, semoga masuk.” Dan ternyata keluar.

Hidup memang sering menyerang ke “backhand”. Bukan karena Tuhan tidak sayang, tetapi karena mungkin di sanalah latihan kita belum selesai. Kita terlalu bangga pada “forehand”, pada kelebihan, gelar, jabatan, tepuk tangan, dan foto profil yang tampak sukses. Padahal keselamatan sering diuji di “backhand”: saat kita lemah, saat kita tidak siap, saat bola datang mendadak dari arah yang tidak kita sangka. Setiap bola datang membawa pertanyaan: siapa sebenarnya yang memulai servis pertama? Dia? Aku? Atau takdir yang sedang bercanda sambil menggulung celana training?

Dalam pingpong batin, servis pertama selalu misterius. Kita merasa memulai, padahal mungkin hanya menerima pantulan dari sesuatu yang lebih jauh. Kita merasa memilih, padahal mungkin sedang dipilih oleh jalan yang diam-diam sudah menunggu. Kita merasa memukul bola, padahal jangan-jangan bola itulah yang sedang memukul kesombongan kita.

Kadang ingin membiarkan bola berhenti. Tidak usah dipukul. Tidak usah di-“smash”. Tidak usah didebatkan apakah itu “chop, side, spin gantung, bola kosong, bola isi, bola mati”, atau bola setengah hidup seperti proposal kegiatan untuk mencari sponsor. Kadang ingin memegang bola itu pelan-pelan. Mendengarkan napasnya. Barangkali di dalam bola kecil itu ada rahasia besar: mengapa manusia terus memantul antara ingin dan kehilangan, antara doa dan tagihan, antara rencana dan kenyataan yang suka datang tanpa undangan.

Bola pingpong itu kosong di dalamnya. Tetapi justru karena kosong, ia bisa memantul. Mungkin begitu juga manusia. Terlalu penuh oleh ego membuat kita berat. Terlalu penuh oleh dendam membuat kita tidak lentur. Terlalu penuh oleh merasa benar membuat kita sulit kembali setelah jatuh.

Kekosongan bukan kehampaan. Dalam bahasa sufistik, kosong adalah ruang agar rahmat bisa masuk. Bola yang padat tidak akan memantul; hati yang terlalu penuh tidak akan menerima cahaya. Maka jangan terlalu cepat menghina kekosongan. Banyak orang kelihatan kosong, padahal sedang menyediakan tempat untuk Tuhan. Banyak pula yang kelihatan penuh, padahal isinya hanya bunyi. (sumber: Tulisan “Pingpong dalam Kaca Mata Sufi”, Ganjar Kurnia, 2/6/2026 di WAG )

Penutup

Jadi, kembali ke fokus tulisan ini, realitas di negeri  kita , sangat  mungkin  bahwa wajah profil pejabat atau penguasa dan pengusaha dapat dilihat dari olah raganya.  Juga  rakyatnya  berbeda kesukaannya. Namun yang pasti Indonesia tak pernah juara dunia lewat golf dan pingpong kecuali  juara KKN (Korupsi, Kolusi Nepotisme). Sementara itu, wajah  birokrasinya seperti  pingpong yang membuat rakyatnya jadi kelas pelayan bukan seharusnya birokrasi yang melayani rakyatnya. Inilah nasib bangsa Indonesia hari ini sudah tercerminkan lewat pilihan olah raganya. Olahraga mana yang Anda pilih? Kembali keputusannya kepada  Anda. ***

Bandung, 3 Juni 2026

Nunu A. Hamijaya, Pusat Studi Sunda (PSS).