Kisah Fajri Hidayatullah, Disabilitas Tuna Netra yang Jadi Tim Ahli Stafsus Mendikdasmen

692ab030af1a4 1
Fajri Hidayatullah menjadi pembicara di acara Coffee Morning Hari Disabilitas Internasional yang digelar Kemendikdasmen, (Foto: Kompas.com/Melvina Tionardus).

ZONALITERASI.ID – Perjuangan keras dilalui Fajri Hidayatullah, disabilitas tuna netra yang saat ini dipercaya menjadi Tim Ahli Staf Khusus Menteri Bidang Manajemen, Kelembagaan, dan Reformasi Birokrasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

Fajri lahir di Sumatera Selatan pada 1991. Dia besar dengan kultur dan budaya Sumatera yang khas. Masa kecilnya begitu indah. Tidak ada hambatan apa pun. Semua berjalan dengan baik bersama keluarga yang mencintai Fajri.

Perjalanan Fajri mulai berliku saat berusia 13 tahun. Saat itu, dia mengalami sakit tipes. Akibat mengalami panas tinggi, Fajri mengalami gangguan penglihatan. Hingga dia didiagnosa glaukoma, yang pada akhirnya menggerus sisa daya penglihatan.

Pada fase ini Fajri mengalami drop yang menggerus daya semangat. Di usia sekolah Fajri hanya berdiam diri di rumah selama tujuh tahun.

Radio menjadi teman yang setia menemani. Saluran politik menjadi topik yang digemari. Hingga pada suatu momen, Fajri mendengarkan siaran tafsir Alquran yang menjelaskan bahwa yang membuat manusia bernilai adalah kontribusi lewat ilmu, bukan semata kesempurnaan fisik.

Tahun 2011 Fajri bertekad pindah ke Jakarta. Dia sempat mendapat penolakan untuk bisa mengenyam pendidikan di daerah Jakarta Timur.

“Undang-undang penyandang disabilitas belum ada pada saat itu. Saya advokasi sendiri, saya bertekad untuk bisa diterima di sana. Alhamdulillah diterima. Saya mendapatkan ijazah program kejar paket SMP dan SMA pada tahun 2014,” tutur Fajri, dikutip dari Kompas.com, Rabu, 3 Juni 2026.

Semangat Fajri untuk menimba ilmu tak berhenti sampai di situ. Dia melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.

Sebagai disabilitas tuna netra Fajri melalui lika-liku di tahap pendidikan ini. Kendati sering diragukan, Fajri pantang menyerah. Dia kemudian kuliah di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) pada Prodi Ilmu Politik.

“Saat itu juga ada beberapa kali momen, memang karena belum ada sama sekali di dunia bahkan di Indonesia, seorang disabilitas yang tidak melihat mengambil Program Studi Ilmu Politik. Dan pada saat itu diragukan, benar-benar ditanya setiap hari ‘Mas, apakah mau pindah prodi?’,” ungkap Fajri.

Fajri mengaku dia tidak bisa menjawab dengan kata-kata.

“Tapi dengan pengujian semester awal IPK saya di atas 3,00. Baru berhenti pertanyaan itu,” tutur Fajri.

Fajri lulus dalam waktu tiga tahun dua bulan. Kemudian dia diminta oleh Rektor saat itu untuk lanjut kuliah S2 Administrasi UMJ.

Fajri juga pernah menjadi ketua Disabled Care Community (DCC), yaitu sebuah komunitas yang didirikan di UMJ sebagai wadah pengembangan mahasiswa disabilitas.

Hingga saat ini Fajri juga masih aktif berorganisasi.

“Kalau masih memiliki tekad saya kira tidak ada yang mustahil itu bisa dilalui sampai detik ini. Kita terus memotivasi adik-adik kita untuk terus melakukan advokasi di dunia pendidikan,” pesan Fajri. ***