Ketika Tuhan Dikira Sering Cuti

Screenshot 150
Ganjar Kurnia, (Foto: Istimewa).

Oleh Ganjar Kurnia

DI negeri syahdan, untuk mengaku ateis secara terang-terangan, banyak atau bahkan jarang ada yang berani. Kalau ada orang yang berani berkata: “Saya tidak percaya Tuhan!” warganet akan berkumpul lebih cepat, daripada petugas damkar menghadapi kebakaran gudang garmen. Tetapi anehnya, ada hal yang berkembang diam-diam, yaitu ateis kadang-kadang. Mereka bukan penganut ateis penuh waktu. Jam kerjanya fleksibel. Biasanya aktif setelah salam terakhir salat dan setelah azan berikutnya, atau kalau bulan puasa bisa dari waktu sahur sampai saat berbuka.

Dahinya hitam seperti aspal baru dihotmix. Tasbihnya berputar lebih cepat daripada kipas angin kossan. Kata “Masyaallah” meluncur mulus dari bibirnya, termasuk Ketika melihat hal-hal yang biasa saja-saja, seperti kalau ada diskon di mall, menatap lele jumbo, dsb. Tetapi sesudah itu, ia masuk kantor seperti baru saja memecat malaikat Rakib dan Atid. Tangannya bergerak lincah memindahkan angka. Dana bansos menguap seperti parfum murah di terminal. Proposal dimark-up sampai anggarannya tampak seperti roket NASA mau berangkat ke bulan. Di ruang rapat, ia bicara tentang amanah sambil menyelipkan kuitansi palsu ke dalam map.

Aneh sekali, ketika salat dan puasa, Tuhan dianggap ada. Kalau tidak melakukannya merasa dosa. Tetapi ketika menanda tangan proyek, mereka seperti yakin bahwa semesta, hanya dijaga CCTV yang kabelnya putus. Mungkin beginilah bentuk ateisme paling modern, percaya adanya Tuhan ketika di atas sajadah, tetapi di ruang tender – Tuhan dianggap tidak ada.

Ada orang yang takut makan babi karena haram, tetapi tidak takut memakan hak rakyat untuk kepentingan seantero negeri. Ia gemetar ketika lupa jumlah rakaat, tetapi akan marah kalau ada rekanan yang lupa mengisi rekening punyanya.

Di benaknya, Malaikat mungkin sudah kena “burnout” administratif. Setiap malam harus mencatat: “hari ini hamba-Mu kembali mengucapkan amin paling keras di saf depan, lalu menggelapkan anggaran pengadaan kursi plastik.” Kadang malaikat menatap sambil menghela napas: “ini manusia sebenarnya percaya Tuhan atau cuma takut pengeras suara masjid?”

Di negeri entah itu, iman sering dipakai seperti jas hujan. Dipakai saat langit berbunyi petir, dilipat kembali saat cuaca korupsi mulai cerah. Lalu lahirlah manusia-manusia ajaib. Hafal ayat tentang akhirat, tetapi lupa melakukan kejujuran. Rajin tahajud, tetapi doyan menawar nurani. Mulutnya penuh zikir, namun tangannya sibuk menghapus jejak transfer. Mereka pasti marah kalau disebut ateis. Tersinggung karena istilahnya, tadi dalam praktiknya mereka sering menganggap bahwa Tuhan kadang tidur (padahal hafal ayat qursi, yang salah satu artinya Alloh tidak pernah tidur dan ngantuk) atau menganggap Alloh itu suka cuti juga. ***

Ganjar Kurnia, Ketua Dewan Pembina Pusat Studi Sunda (PSS) Bandung.