BUDAYA  

Kiprah Dalang Cilik Dani Yusuf, Mutiara dari Tambaksari Ciamis

IMG 20230107 190928 9fNXxuDS7M anblkSu20r 696x392 1
Dani Yusuf Edi Putra, dalang cilik dari Desa Kaso, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, (Foto: Istimewa).

ZONALITERASI.ID – Ada mutiara dari Desa Kaso, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Ya, dari desa di kawasan utara Ciamis ini lahir dalang cilik berusia 13 tahun, Dani Yusuf Edi Putra.

Cerita unik hadir seiring perjalanan putra pasangan Edi dan Ai ini dalam mencintai wayang golek.  Saat Dani berusia 4 bulan dalam kandungan, ibunda Dani, Ai, begitu menyukai cerita-cerita wayang golek. Padahal, sebelumnya, Ai biasa-biasa saja mencintai cerita wayang golek.

Lalu, Dani pun menyukai wayang golek sejak usia balita. Dalam usia dini ini dia kerap mendengar dan menonton karya seni warisan leluhur ini.

“Anak saya selalu ngadangong dan mencrong (diam dan melihat) televisi jika ada acara wayang golek. Bahkan, jika ada yang nanggap wayang golek di kampung, Dani selalu menjadi penonton setia. Mungkin berawal dari sinilah anak saya tertarik menjadi seorang dalang,” papar Ai.

“Kami sebagai orang tua, selalu mensuport minat Dani untuk berkiprah dalam seni wayang golek. Selain tak pernah melarang menonton wayang, saat Dani mulai latihan mendalang, kami pun selalu mendorong dan menyemangati,” tambahnya.

Selanjutnya, Dani pertama kali tampil pada acara Hari Jadi Desa Kaso pada tahun 2020. Penampilan perdana ini disaksikan langsung oleh Bupati Ciamis, Herdiat Sunarya.

Walau tampil masih dalam usia 13 tahun, namun Dani terlihat percaya diri. Dia tak sungkan menyelipkan kritikan dengan nada ringan dan lucu. Saat tampil dalam peresmian Leuwi Keris, di Cimaragas, Kabupaten Ciamis, misalnya, Dani mengkritisi Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Ciamis Budi Kurnia yang kurang intens dalam melestarikan budaya.

Menanggapi kiprah Dani, Kepala Desa Kaso, Edi Kurnadi, mengungkapkan, dia merasa bangga atas kemunculan Dani sebagai salah satu penerus seni wayang golek.

“Pada era modern ini anak-anak muda kurang begitu menyukai wayang golek. Secara teori jadi dalang itu mudah karena dapat mempelajarinya. Namun tidak semua orang bisa jadi dalang. Ada aura tersendiri pada diri Dani untuk menjadi dalang,” ungkapnya.

Edi menilai, materi yang dibawakan oleh Dani saat mendalang, begitu hidup dan meriah. Padahal, Dani kadang-kadang terlihat malas-malasan saat latihan.

“Ketika tampil di panggung, kemahiran Dani dalam mendalang luar biasa. Dia begitu menguasai panggung. Ceritera wayang golek pun mengalir di tangan Dani. Bahkan, banyolan-banyolan yang ditampilkan Dani saat mendalang begitu segar dan menghibur,” tutur Edi.

Ia menambahkan, untuk mempertahankan eksistensi Dani di dunia wayang golek, berbagai upaya akan dilakukan. Selain tampil di panggung, Dani juga akan melakukannya melalui media sosial.

“Salah satunya melalui live tiktok setiap minggu secara online. Semoga ke depan Dani lebih dikenal dan dicintai masyarakat,” pungkas Edi. (des/berbagai sumber)***

 

Respon (51)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *