Konsistensi

FOTO ARTIKEL 7
Doddi Ahmad Fauji, (Foto: Dok. Pribadi).

Oleh Doddi Ahmad Fauji

SEBUAH puisi, bila hendak ditulis dengan kata-kata yang simbolik, atau dengan diksi-diksi yang melambangkan sesuatu, misalnya lambang tentang alam, ada baiknya ditulis dengan konsisten, dari awal sampai akhir. Hal itu kita tempuh, guna memudahkan pembaca dalam memahami puisi yang kita tulis. Apalagi untuk para guru, yang salah satu audiens puisinya adalah para siswa, maka selalulah naluri mengedukasi, itu lahir dari sanubari. Jika ingin menulis puisi yang liar dan bebas, berarti atmosfer sosialisasi puisinya harus berada di wilayah seniman murni. Tapi guru akan selalu berada pada dua kaki. Satu kaki, tetap berada di wilayah pendidikan, kaki satunya lagi, bisa jadi memang menjangkau wilayah kesenimanan.

Tentang konsistensi ini, kadang saya suka dikejutkan oleh hal kecil yang membuat saya merenung, perlukah diksi ini diganti, supaya lebih selaras, atau biarkan begitu, toh mungkin pembaca juga bisa memahami dan menikmatinya.

Ada frase “setangkai bulan” pada puisi Lilis Gustini di bawah ini, tepatnya di larik paling akhir:

Duduklah di sini, bersamaku
Hingga puisimu usai
dan sehelai daun kembali jatuh di pangkuan
Akan kutemani dirimu melukiskan senja
dengan ujung ilalang dan cinta peruang
pada kanvas malam
dan pada setangkai bulan

Logika indrawi dalam berpuisi, sungguh perlu diperlu dipertimbangkan dalam penulisan puisi. Lihat dalam dua larik terakhir: pada kanvas malam/ dan pada setangkai bulan.

Bila malam diibaratkan kanvas, apakah cocok bila bulan diibaratkan pohon, sehingga lahir frase setangkai bulan? Pada larik di atas, terasa ada dua aktivitas yang berbeda, yaitu menulis puisi dan melukiskan senja pada kanvas malam. Lahir pertanyaan, kenapa dari menulis puisi harus meloncat jadi melukiskan senja?

Duduklah di sini, bersamaku
Hingga puisimu usai (menulis)
dan sehelai daun kembali jatuh di pangkuan
Akan kutemani dirimu melukiskan senja (melukis)
dengan ujung ilalang dan cinta peruang
pada kanvas malam
dan pada setangkai bulan

Ketidakkonsistenan di atas, tidak bisa dibiarkan begitu saja. Seorang editor atau korektor puisi, perlu menyampaikan pemberitahuan kepada penulis puisi, bahwa ada yang tidak konsisten, dan itu bisa membingungkan pembaca. Karena itu, larik-larik di atas saya revisi menjadi seperti di bawah ini:

Duduklah di sini, di sampingku
Hingga puisi usai kau tulis
Akan kutemani dirimu menuliskan senja
dengan ujung ilalang dan cinta peruang
pada malam yang menjelma kertas
dan rembulan meneranginya
hingga kita bisa membaca

Lagi-lagi Masalah Logika

Logika indrawi dalam puisi, bagi saya, selalu mendapatkan penekanan agar puisi yang ditulis, lebih mudah terpahami. Logika indrawi itu maksudnya, kesaksian terhadap alam ini menurut panca-indra. Ada yang menulis seperti ini, “kudengar mawar merekah di pagi hari.” Bila dibaca sekilas, bisa saja tidak ada masalah. Namun benarkah mawar merekah itu terdengar?

Frase yang logis menurut panca-indra mestinya ditulis, “kulihat mawar merekah di pagi hari.”

Berdasarkan logika indrawi pula, kita bisa membongkar sebuah puisi, adakah sudah ajeg, atau masih melanggar logika indrawi? Mari kita cerna puisi yang ditulis Warsono, yang berjudul EMPAT EMPAT DELAPAN EMPAT.

Kubuka pintu berdingding papan
Kupijak lantai beralas tanah
Kupikir inikah harapan
Agar hidup tak terlalu payah

“Kubuka pintu berdinding papan,” apakah pintu itu akan disebut berdinding papan, atau terbuat dari papan? Pintu ya pintu, dan dinding adalah dinding. Kata yang paling padan untuk menyatakan pintu dari papan, bukanlah ‘pintu berdinding’, tapi ‘pintu terbuat dari’, atau langsung ditulis ‘pintu papan’ sebab ada ‘pintu besi’. Maka mestinya, Warsono menulisnya: Kubuka pintu papan.

Lalu pada larik ketiga, ditulis: Kupikir inikah harapan

Sekilas, larik tersebut juga seperti tidak bermasalah. Namun bila dikaji secara logika bahasa, terdapat kejanggalan, sebab kalimat tersebut terasa ambigu, yaitu antara kalimat pernyataan atau kalimat pertanyaan. Jika larik tersebut berupa pernyataan, maka mestinya ditulis: Kupikir inilah harapan (bukan menggunakan partikel ‘kah’ yang mengandung maksud bertanya), sedangkan bila larik tersebut maksudnya kalimat pertanyaan, maka mestinya ditulis: kubertanya inikah harapan?

Maka empat larik di atas, saya coba revisi menjadi:

Kubuka pintu papan
Kupijak lantai beralas tanah
Kupikir inilah harapan
Agar hidup tak terlalu payah

Puisi

Saya ingin menegaskan, puisi adalah bidang yang paling sederhana sekaligus paling kompleks dalam bidang kepenulisan. Jadikanalah puisi sebagai sarana untuk berlatih menulis, aliran apapun tulisan Anda (artikel, prosa, puisi).

Puisi telah berkembang pesat, namun di era milenial ini, justru jenis-jenis puisi klasik pun tetap ditulis dalam praktik keseharian.

Puisi klasik macam Pantun, Gurindam, Talibun, Wawangsalan, Paparikan, Haiku, dan lain-lain, memiliki keterbatasan, karena terdapat sekian peraturan yang harus dijalankan dengan ketat. Dalam keterbatasannya itu, justru di situ terdapat kelebihan dari puisi klasik.

Disebut keterbatasan, karena aturan bisa mengerangkeng. Bayangkan, tiap kali kita menulis pantun, gurindam, atau haiku, otak kita bukan dipaksa mencari diksi yang memiliki pola rima, tapi sekaligus dipaksa berhitung dengan jumlah sukubunyi (fonemik). Bila kita tidak kreatif dan rada masal, maka puisi klasik yang kita cipta, akan terbaca begitu kaku. Namun, bila kita mau berpikir kreatif dan rajin mencari persamaan kata (sinonim), ini justru yang diam-diam memperkaya pengetahuan kita akan kosakata. Ingatlah, makin kaya kosakata penulis, makin menarik tulisannya.

Kebalikan dari puisi klasik, adalah puisi yang bukan klasik, yang salah satunya disebut dengan puisi modern. Puisi modern mengajaki kita untuk menjelajahkan pikiran, perasaan, dan imajinasi. Puisi yang kita tulis menjadi begitu bebas. Nikmat rasanya berada di alam kebebasan. Namun, bila kita tidak pernah punya dasar dan kuda-kuda yang kukuh akan kekuatan rima dan ritma dalam puisi, kebebasan yang kita miliki itu justru akan melahirkan puisi yang kaku. Karena itu, penulis puisi modern pun, ada baiknya belajar membangun pola rima dan ritma pada puisi klasik.

Puisi kontemporer artinya puisi yang selalu kekinian, yang bisa jadi merupakan daur ulang atau pengembangan dari puisi klasik. Puisi-puisi kontemporer yang dinukil dari puisi klasik itu, antara lain dapat disebutkan puisi Sonian, Anama, Akrosmidanian, dan lain-lain adalah puisi kontemporer yang dinukil dari pola puisi klasik. Adalah bagus juga untuk menjelajah di puisi kontemporer.

Puisi kontemporer yang merupakan pengembangan dari puisi modern, dalam khasanah sastra Indonesia barangkali bisa disebut karya Afrizal Malna, Nirwan Dewanto, Arif Bagus Prasetya, Dorothea Rosa Herliani, Ahmad Faisal Imron (untuk menyebut beberapa nama).

Para penulis puisi yang terus mengembangkan keterampilan berpuisi, biasanya bukan hanya pandai menulis puisi, namun juga selalu diiringi dengan kemampuan menulis esai yang lincah dan menggugah. Esai adalah salah satu jenis artikel, dan disebut sebagai artikel bebas.

Akhirul kalam, mari kita berpuisi.***

Doddi Ahmad Fauji, belajar sastra sejak kuliah di UPI Bandung. Salah satu pendiri UKM Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) UPI. Pernah menjadi wartawan koran Media Indonesia (1998 – 2005), wartawan senior di Koran Jurnal Nasional (2006 – 2011), serta Dewan Redaksi pada majalah Tapal Batas (2011 – 2013).

 

 

Respon (87)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *