Membaca dan Menulis: Dasar Literasi Pendidik Berpikiran Maju dan Transformatif

Oleh Erwan Juhara

FOTO ARTIKEL 16
Erwan Juhara, (Foto: Dok. Pribadi).

UPAYA untuk mencapai kesiapan pengembangan dan pemberdayaan kebijakan ilmu pengetahuan dan pendidikan personal menghadapi kompetisi global adalah mengubah pola berpikir standar ke pola berpikir yang lebih lateral/alternatif agar transformasi pengembangan dan pemberdayaan ilmu seorang pendidik bermanfaat bagi kehidupan lokalnya menuju ke arah kemandirian kehidupan globalnya.

Langkah dasar itu penting dilakukan agar alternatif-alternatif keilmuan dalam kehidupan bisa ditempuh secara lebih bijak dan kreatif.

Mengasah Gagasan

Alan Kay, seorang ahli riset di Palo Alto, mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk meramalkan masa depan adalah dengan menciptakannya. Ya. Itulah sebuah pendapat yang sangat optimis dalam menjalani kehidupan seorang guru saat melakukan pengembangan dan pemberdayaan keilmuannya. Meskipun demikian, dalam melaksanakan pembelajarannya, segi General Lifeskils dan Vocational Skills tetap harus saling komplementer/melengkapi satu dengan yang lainnya karena pembelajaran dengan prinsip learning to know, learning to do, learning to be, learning to live together adalah pembelajaran yang komprehensif bagi pembentukan jiwa kognitif, afektif, dan psikomotor para siswa yang harus didukung oleh guru yang tepat, sarana dan prasarana yang memadai, serta lingkungan pendidikan yang mendukung kelahiran para cendikiawan sekaligus enterpreunership-enterpreuneurship muda yang berani menghadapi masalah, mau mencari solusi masalah, dan mampu mengatasi masalah hidup dan kehidupan.

Mengemas Gagasan

Hal penting yang harus dilakukan dalam proses awal pembelajaran mengasah gagasan adalah membangun rasa percaya diri yang kuat menuju tempat yang kita inginkan. Percaya secara mendalam memang tidak mudah, tetapi ini masalah vital. Percaya akan datang secara mudah jika melibatkan kejadian biasa sehari-hari. Kita menekan tombol sambil percaya bahwa lampunya akan menyala. Kita memesan kamar sambil percaya bahwa kamar kita akan menunggu.

Sering kita mengalami kesulitan dengan hal-hal penting. Kamus mengatakan bahwa kita percaya berarti “mengakui atau yakin”. Misalnya, percaya kepada seseorang. Artinya yang benar-benar percaya kepada sesuatu pasti membuat perbedaan yang menentukan, sebagaimana yang diyakinkan F.W. Robertson: “Percaya berarti menjadi berbahagia; ragu berarti menjadi sedih”. Percaya adalah kekuatan. Sejauh seseorang percaya dengan kuat, dengan berani, barulah ia dapat bertindak dengan gembira atau melakukan apa pun yang layak dikerjakan.

Dalam pendidikan masa kini sikap positif semakin berkurang. Standar-standar lama kembali berulang. Seharusnya para pendidik sekarang menaikkan standar, mengajarkan tanggung jawab kepada murid-muridnya, menuntut kerja keras dan mendapatkan hasilnya. Sebagai misal, ada sebuah cerita guru sekolah luar biasa di Chicago-AS bernama Marva Collins, memungut beberapa anak kurang mampu dari daerah kumuh dan mengubah mereka menjadi orang-orang berprestasi dengan menghimbau harga diri mereka, dengan berkeras bahwa mereka dapat menangani tugas apa pun yang ditetapkan di depan mereka, dengan terus menerus mengatakan kepada mereka,” saya tidak akan membiarkan kalian gagal!”

Kepercayaan adalah kekuatan dari hidup yang positif. Kepercayaan menyelesaikan segala sesuatunya. Kepercayaan membalik kegagalan menjadi keberhasilan. Orang percaya adalah orang berprestasi.

Hal penting lainnya yang harus dilakukan adalah mengemas pola berpikirnya dari berpikir vertikal ke berpikir lateral karena:

  1. Berpikir lateral bersifat generatif, sedangkan berpikir vertikal bersifat selektif;
  2. Berpikir lateral dapat membuat lompatan, sedangkan berpikir vertikal harus berurutan;
  3. Berpikir lateral tidak harus benar pada setiap langkah, berpikir vertikal harus benar setiap langkah;
  4. Berpikir lateral tidak ada bentuk negatif, berpikir vertikal menggunakan bentuk negatif untuk menutup jalan tertentu;
  5. Berpikir lateral menjajagi jalan yang peling tidak mungkin, berpikir vertikal mengikuti jalan yang paling mungkin;
  6. Berpikir lateral merupakan proses yang serba mungkin, berpikir vertikal merupakan proses yang terbatas.

Artinya berpikir lateral adalah berpikir dengan logika induktif, berpikir lateral sama dengan berpikir orang kreatif, berpikir lateral kadang bisa juga saling melengkapi dengan berpikir vertikal.

Oleh karena itu, para guru dalam proses pengembangan, pemberdayaan, dan pembelajaran keilmuannya akan mengembangkan pula gaya bertindak secara PMI(Positif-Minus-Interest) yang juga dikembangkan Dr. Edward de Bono, pakar manajemen sumber daya manusia dari Malta, yang mengembangkan Lateral Thinking dan tindakan PMI dalam belajar dan memecahkan masalah secara brilian dalam sebuah masyarakat heterogen yang pendekatan PMI-nya dilakukakan dengan cara: 1. melihat sesuatu dari segala segi; 2. menemukan pola-pola dan potongan ilmu yang bermanfaat; 3. memperbaiki sesuatu sebelum rusak; 4. mengatakan apa maksudnya; 5. mendengarkan pendapat orang lain; 6. mengajukan pertanyaan yang tidak konvensional; 7. menempatkan diri pada posisi orang lain; 8. membahas humor, lelucon, anekdot secara kritis; 9. menulis, belajar, dan berpikir ke masa depan.

Jadi, lakukanlah apa yang paling baik bisa dilakukan karena kalau akhir mendatangkan kebaikan, maka apa yang menjadi kesulitan tidaklah menjadi penting. Yakinkanlah bahwa semua air di seluruh dunia tidak akan menenggelamkan perahu kalau air tidak masuk ke dalamnya, maka muncullah di atasnya dan pastikan tindakan kita benar, kemudian pertahankan keyakinan kita untuk keberhasilan itu.

Peran Membaca dan Menulis

Membaca dan menulis adalah dua sisi mata uang. Keduanya saling berkomplementer, saling melengkapi sisi satu dengan sisi lainnya. Makin banyak yang dibaca, makin banyak yang ingin ditulis; makin banyak yang ditulis, makin banyak yang ingin dibaca pula.

Keterampilan membaca dan menulis yang baik dan terlatih, memungkinkan para intelektual yang berpikiran maju dan transformatif seperti dalam pemaparan bagian awal tulisan ini menjadi lebih mudah dan terbuka menjalani berbagai profesi dalam kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan dan pembelajaran. Keterampilan membaca dan menulis adalah bagian vital dalam dunia pendidikan dan pembelajaran saat ini di Indonesia. Tanpa melatih keterampilan membaca dan menulis, dunia pendidikan dan pembelajaran akan berjalan lambat dan tertatih-tatih. Ingatlah, ayat pertama dalam Al Quran, sebagaimana firman Allah dalam surat Al Alaq 1-5 kepada Rasulullah Saw. adalah perintah membaca (Iqra),- – membaca dan membaca- – – dengan perantaraan kalam/pena.

Membaca dan Menulis Jembatan menuju Peradaban Besar

Apa guna membaca dan menulis bagi satu bangsa? Membaca dan menulis tidak hanya menjadi kekayaan ilmu belaka karena dari bacaan dann tulisan akan menjadi cermin kualitas satu bangsa. Kualitas satu bangsa bisa tercermin dalam bacaan dan karya-karya tulisnya. Ada nilai budaya dan berbagai persoalan bangsa dalam makna bacaan dan tulisan yang telah ditulis para penulis. Bacaan dan tulisan dengan demikian menjadi harkat dan martabat bangsa yang dipertaruhkan eksistensinya dalam percaturan kehidupan satu bangsa dengan bangsa lainnya. Lalu, apa guna bacaan dan tulisan untuk peradaban suatu bangsa? Ini bukan persoalan sederhana bagi pemilik peradaban, yakni manusia. Peradaban adalah segala bentuk fisik, gerak, dinamika, dan keyakinan akan suatu filosofi hidup manusia yang dapat ditingkatkan kualitasnya menjadi sesuatu yang agung, bernilai, dan bermakna.

Pada tataran fungsi seperti itulah kegiatan membaca dan menulis yang pada awalnya dikenal dalam bentuk yang lebih sederhana, baik berupa kayu, daun, atau kulit binatang/perkamen, kini telah mengalami revolusi bentuk yang lebih indah dan berkualitas. Pada akhirnya, bacaan dan tulisan itu maknanya lebih dari sekedar tempat menuliskan sesuatu, tetapi isi dan maknanya lebih mencuat sebagai salah satu bentuk filsafat kehidupan manusia untuk mengukuhkan statusnya sebagai makhluk paling mulia di atas bumi(khuntum khoiro ummatan).

Kehidupan manusia melalui perantaraan bacaan dan tulisan menjadi lebih tercatat dan beradab, tetapi selalu menjadi gelisah dan kreatif karena refleksi filosofisnya mampu membuat manusia untuk terus maju dan berkembang dalam gerak dan pemikiran akan kehidupan yang lebih berbudaya. Artinya, bacaan dan tulisan bisa menjadi alat kontrol sosial pula kepada manusia agar tidak berpuas diri dalam satu status quo. Hal ini mengindikasikan bahwa peradaban manusia melalui bacaan dan tulisan harus terus kreatif menjalankan peran kehidupan di alam nyata dan fana kelak.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kehidupan akhirnya mau tidak mau menjadi ciri penanda bahwa peran membaca dan menulis untuk peradaban memang ada dan sangat penting untuk terus menjadi sarana perubahan dan kreativitas menjalani kehidupan manusia. Idealnya, bacaan dan tulisan kemudian menjadi bagian tak terpisahkan dalam segala kegiatan fisik, aktivitas dinamis, dan perubahan pemikiran manusia ke arah kualitas peradaban positif. Dampaknya, sesuatu yang wajar apabila kegiatan membaca dan menulis mendapat tempat untuk selalu dilihat perkembangannya pula baik dalam skala kebutuhan akademis, bisnis, hingga desain kualitas melalui berbagai bentuk pendidikan dan pembelajaran.

Begitulah selayaknya bacaan dan tulisan diperlakukan sebagai benda adiluhung, tempat segala peradaban, harkat dan martabat suatu bangsa diletakkan; tempat inspiratif dan harapan suatu bangsa digambarkan. Membaca dan menulis menjadi kubu aktivitas bangsa berilmu. Membaca dan menulis menjadi khasanah budaya bangsa beradab. Bacaan dan tulisan menjadi cermin futuristik harapan dan masa depan suatu bangsa.

Bacaan dan Tulisan Melahirkan Peradaban Besar

Bacaan dan tulisan, saat ini berada di persimpangan jalan menghadapi gempuran teknologi. Teknologi seperti pisau bermata dua, dimana di satu sisi dapat meningkatkan kualitas hidup kita, tapi di sisi lain kita juga terikat dengan teknologi dalam segala gerak kehidupan. Pun demikian dalam dunia membaca dan menulis; bacaan, tulisan, dan teknologi saling mengisi menguatkan dan melemahkan, khususnya dalam pemenuhan informasi dan pengetahuan umat manusia.

Sebenarnya semua peradaban tinggi dunia dimulai dari kegiatan membaca dan menulis. Puncak kejayaan Islam di masa Dinasti Abbasiyah dimulai dari penerjemahan bacaan dan tulisan Yunani ke dalam Bahasa Arab. Pengaruh Helenesia ini sangat kentara sekali dalam pemikiran filsuf Islam seperti Al Kindi, Al Farabi, dan Ibnu Rusyd. Selanjutnya, gantian Eropa yang berhutang budi kepada Islam dengan penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan dari khazanah berbahasa arab kedalam bahasa-bahasa eropa. Dari sinilah zaman pencerahan Eropa (Renaissance) bermula. Maka tidak aneh, jika Ibnu Rusyd begitu dikenal oleh dunia Eropa dengan nama Averrous, dan Ibnu Sina dikenal dengan Avicena.

Setelah ditemukan mesin cetak oleh Johan Guttenberg di Jerman, maka dimulailah era buku bacaan dan tulisan cetak seperti yang kita nikmati saat ini. Bersama dengan itulah, kebudayaan Eropa berhasil mendominasi dunia hingga kini. Sejak saat itu pula peran bacaan dan tulisan mendapat tempat tak tergantikan dalam kehidupan manusia meskipun teknologi digital atau e- book mewabah di tahun 2000. Namun, walau bagaimana pun, nilai sensasi memiliki buku bacaan dan tulisan dalam bentuk cetakan belum bisa digantikan oleh e-book. Memang saat ini sudah mulai banyak buku yang beredar dalam bentuk e-book, bahkan via telepon selullar, tetapi panetrasinya memang sangat lambat selain nilai praktis yang sangat relatif.

Membaca dan Menulis Membangun Martabat Bangsa

Buku Jendela Ilmu. Sebuah pemeo yang sudah diakui publik di mana pun. Namun, buku juga tidak hanya menjadi kekayaan ilmu belaka karena buku juga akan menjadi cermin sebuah bangsa. Kualitas satu bangsa bisa tercermin dalam buku-buku bacaannya. Ada nilai budaya dan berbagai persoalan bangsa dalam makna buku-buku yang telah ditulis para penulis. Buku dengan demikian menjadi harkat dan martabat bangsa yang dipertaruhkan eksistensinya dalam percaturan kehidupan satu bangsa dengan bangsa lainnya.

Dr. Muhammad Adnan Salim, seorang pemikir Muslim mengatakan, “Bangsa yang tidak mau membaca tidak bisa mengenali dirinya sendiri dan tidak mengetahui orang lain. Bacaan akan berkata: di sinilah orang-orang terdahulu berhenti. Di sinilah dunia bergerak saat ini. Jangan mengulangi kegagalan orang lain, jangan mengulangi kesalahan yang pernah mereka lakukan.”

Pengarang Joni Ariadinata dengan nada humor malah mengumpamakan membaca dan menulis itu candu, seperti rokok. Pertama pahit, batuk-batuk, tak enak, lama-lama ketagihan. Bagi orang yang tak pernah memaksa diri untuk membaca dan menulis, tentu saja tidak akan tahu enaknya membaca dan menulis.

Melalui membaca dan menulis satu bangsa bisa mengubah stigma dan cara pandang bangsa lain melihat harkat martabat suatu bangsa. Jadi penerbitan buku memegang peranan penting bagi bangsa lain untuk saling mempelajari harkat dan martabat suatu bangsa.

Di Pameran Buku Frankfurt-Jerman, setiap tahun hadir 125 ribu judul buku fiksi dan 40 persen merupakan karya terjemahan. Sayang hingga tahun 2006 hanya ada 20 karya terjemahan dari Indonesia, 6 dari Thailand, 3 dari Malaysia, negara Asean lainnya tidak ada. Artinya, betapa lemahnya dialog dan martabat bangsa Asean di dunia karena sangat sedikit buku terjemahan yang bisa mereka pelajari tentang bangsa Asean, termasuk gambaran budaya membaca dan menulis masyarakatnya.

Contoh positif datang dari Jepang karena bangsa yang cerdas adalah bangsa pembelajar. Di Jepang dulu sehabis dibom Atom Amerika, sekelompok masyarakat dipaksa membaca bacaan-tulisan teknik oleh penguasa setempat, dan hasilnya 10 tahun berikutnya lahirlah para teknokrat di masyarakat itu. Jadi, bacaan dan tulisan memang menentukan masa depan. Contoh terdepan sebagai bangsa yang maju di Asia, kita tidak meragukan Cina dan Jepang yang sukses membangun martabat bangsanya melalui kegiatan membaca buku. Pada abad ke-21 ini, negara Korea tumbuh menjadi kekuatan Asia baru di berbagai sektor, termasuk di dalam dunia pendidikan dan hiburan. Menjamurnya para artis Korea bisa menjadi panutan dan teladan masyarakat Indonesia karena di Korea seorang artis harus mau membaca dan menulis; dan nilai pendidikannya tidak boleh “jeblok”. Jika “jeblok” maka agensinya akan menghentikan aktivitas kariernya sementara atau bahkan selamanya. Jadi, tidak mudah menjadi artis di Korea karena nilai pendidikan harus seimbang dengan karier keartisannya. Dunia membaca dan menulis berperan penting di dalam karier keartisan mereka.

Jadi, membaca dan menulis adalah tradisi positif yang harus dimiliki bangsa besar di dunia mana pun, sebab bacaan dan tulisan akan melahirkan peradaban dan kebudayaan besar. Semoga Indonesia sedang menuju ke sana!***

Erwan Juhara, Penulis, Pengarang, Guru SMAN 10 Bandung, Dosen ABA Internasional Bandung, Dosen Universitas Sangga Buana(USB)/YPKP Bandung, Pengurus Gerakan Pembinaan Peningkatan Minat Baca (GPMB) Kota Bandung dan IKAPI Jabar. Ketua Asosiasi Guru/ Dosen/ Tenaga Kependidikan Penulis/ Pengarang (Agupena) Jabar.

Respon (34)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *