Menyusuri Jalan Raya Pos bersama Pram

231ab8ad 8075 ba4965 655752ec 52ec623309 6233091c
Cover buku “Jalan Raya Pos, Jalan Daendels”, (Foto: Istimewa).

Judul buku: Jalan Raya Pos, Jalan Daendels

Penulis: Pramoedya Ananta Toer

Penerbit: Lentera Dipantara

Tahun terbit: 2010 (Cetakan ke-8)

Jumlah halaman: 148 halaman

JALAN Raya Pos dibangun pada masa pemerintahan Herman Willem Daendels, seorang gubernur jenderal pada masa jeda kekuasaan Prancis, yaitu masa di mana Belanda sedang dikuasai oleh Napoleon sehingga koloninya termasuk Hindia Belanda secara tidak langsung berada di bawah kendali Prancis. Jalan Raya Pos dibangun memanjang dari Anyer di ujung barat Pulau Jawa hingga Panarukan di ujung timur Pulau Jawa.

Jalan tersebut dibangun sebagai cara bagi Daendels untuk mempertahankan Jawa dari serangan Inggris. Ketika itu, Prancis sedang berperang dengan Inggris. Pembangunan jalan sendiri memiliki panjang sekitar 1.000 km dan rampung hanya dalam satu tahun, dari tahun 1808-1809. Lantas bagaimana cerita mengenai kota-kota yang dilalui jalan tersebut?

Melalui buku esai berjudul “Jalan Raya Pos, Jalan Daendels” ini, Pramoedya Ananta Toer membawa kita untuk jalan-jalan mengunjungi setiap kota dan daerah yang dilalui oleh jalan ini. Ia menjelaskan detail setiap kotanya, mulai dari bagaimana sejarah singkatnya, apa saja komoditas dagangnya, hingga bagaimana kondisi masyarakatnya. Tidak lupa, ia juga membahas bagaimana sistem kerja rodi atau kerja paksa dalam pembangunan jalan ini telah memakan banyak korban yang berasal dari rakyat pribumi.

Buku ini diawali dengan cerita Pram mengenai lingkungannya sendiri yaitu Blora dan Rembang, di mana Blora merupakan tempat kelahirannya dan Rembang adalah kota di mana ibunya pernah tinggal. Jalan Raya Pos sendiri melewati Rembang. Pram menceritakan bahwa ia mendengar Jalan Raya Pos atau Jalan Daendels dari gurunya di Institut Boedi Oetomo (IBO), tempatnya mengenyam sekolah dasar.

Selain itu, dalam pembahasan beberapa kota, Pram juga menuliskan ingatan-ingatannya tentang kota-kota yang dilalui oleh Jalan Raya Pos, baik yang ia alami langsung atau yang ia ketahui dari berbagai informasi yang didapat. Seperti ketika ia mengunjungi Bandung, dalam buku ini ia menceritakan bagaimana pengalamannya ketika menjadi salah satu pembicara dalam Konferensi Nasional Komite Nasional Komite Perdamaian Indonesia di Bandung, di mana Bung Karno saat itu menjadi pembicara utamanya. Ada juga cerita, di mana menjelang akhir 1945, ketika itu Pram yang sempat bergabung dengan militer, dengan pangkat sersan mayor ditugaskan menjadi kurir rahasia untuk menghubungi seorang Mayor bernama Duyeh yang bermarkas di Padalarang.

Ada sebuah informasi menarik, dalam buku ini Pram mengatakan bahwa sebenarnya Daendels bukanlah orang yang membangun jalan ini, tetapi memerintahkan pelebaran jalan hingga 7 meter. Karena jalan tersebut sudah ada sejak dulu. Informasi tersebut cukup penting, sehingga kita tak perlu terlalu memuji dan menganggap bahwa kaum kolonialisme baratlah yang paling berjasa dalam pembangunan infrastruktur yang masih kita gunakan hingga saat ini.

Jangankan untuk dipuji, pembangunan jalan ini justru membuat banyak kaum pribumi menderita hingga kehilangan nyawanya, seperti yang diceritakan oleh Pram, di mana pembangunan jalan ini seolah menjadi ‘genosida tak langsung’ bagi pribumi sebagai akibat dari sistem kerja rodi dalam pembangunan jalan. Tidak jelas berapa orang yang menjadi korban, namun dalam buku ini Pram menulis bahwa, berdasarkan laporan Inggris pada tahun 1815, dikatakan bahwa sebanyak 12.000 orang menjadi korban tewas.

Buku ini juga membahas bagaimana praktik korupsi sudah tertanam sejak lama, di mana saat itu para pejabat-pejabat pribumi nilep upah yang harus diterima para pekerja pribumi. Memang, banyak yang mengatakan bahwa para pekerja yang membangun jalan raya pos mendapatkan upah, namun hal itu tak mengurangi kekejian pemerintah kolonial yang telah melakukan penghinaan lewat kerja rodi. (Nabil Haqqillah)***