Refleksi Hari Kartini: Puluhan Guru, Siswa, Mahasiswa, dan Pegiat Literasi Hadir di Saung YRBK

WhatsApp Image 2026 04 24 at 21.45.10
Yayasan Ruang Baca Komunitas (YRBK) bekerja sama dengan Bidang Perpustakaan, DKP Kota Banjar menggelar kegiatan “Refleksi Hari Kartini”, di Sekretariat YRBK, pada Jumat 24 April 2026, (Foto: Dok. YRBK).

ZONALITERASI.ID Yayasan Ruang Baca Komunitas (YRBK) bekerja sama dengan Bidang Perpustakaan, DKP Kota Banjar menggelar kegiatan “Refleksi Hari Kartini”, di Sekretariat YRBK, pada Jumat 24 April 2026.

Acara yang bertujuan untuk merefleksikan semangat dan inspirasi Hari Kartini ini dihadiri puluhan peserta mulai dari guru, siswa, mahasiswa, pegiat literasi, hingga masyarakat umum.

“Ini merupakan momentum yang baik bukan saja untuk mengenang perjuangan R.A. Kartini, tapi bagaimana kita merefleksikan semangat Kartini di masa kini,” ucap Ivan Mahendrawanto, mewakili YRBK, saat menyampaikan prakata pembuka.

Pernyataan senada disampaikan Kepala Bidang Perpustakaan DKP Kota Banjar, Aep Saepudin, S.H., M.M.

“Saya bangga kepada para kawula muda yang bersemangat melanjutkan perjuangan Ibu Kita Kartini, salah satunya melalui kegiatan literasi,” ujarnya.

Peluncuran Buku

Acara utama diisi dengan peluncuran dan bedah buku berjudul “Kubalut Lukaku dengan Air Mata Kasih-Mu” karya Ina Indriyani, S.Pd., Gr., guru SMKN 1 Banjar. Simbolik peluncuran ditandai penyerahan buku dari penulis kepada Kabid Perpustakaan DKP Kota Banjar, Aep Saepudin dan pendiri YRBK, Sofian Munawar.

“Buku bukan saja jendela dunia, tapi juga lentera dunia,” ucap Sofian Munawar, pendiri YRBK yang juga merupakan dosen Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya.

Sofian menuturkan, dirinya bersama YRBK saat ini “terlanjur” sudah disebut sebagai Duta Lentera, yang merupakan akronim dari: Literasi, Enumerasi, Nalar, Teknologi, Etika, Rasional, dan Aman.

“Saya berharap bukan saja YRBK dan Bu Ina yang menjadi Lentera, tapi semua yang hadir di sini, terutama kawula muda dapat menjadi Duta Lentera, pelanjut semangat api literasi R.A. Kartini,” tambahnya.

Mengenai isi buku, dibedah langsung oleh penulisnya, Ina Indriyani, guru berprestasi yang telah melahirkan 6 buku.

Dalam buku ini, Ina menyebutkan bahwa setiap manusia pada dasarnya memiliki luka, baik yang berasal dari pengalaman hidup, trauma masa lalu, maupun pola pengasuhan. Luka-luka tersebut diibaratkan seperti sampah yang menumpuk. Apabila tidak dikelola dengan baik, maka luka dapat menjadi beban berat dan bahkan merusak kondisi batin kita.

Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk mengenali, menerima, dan mengelola emosinya dengan baik sehingga luka batin tersebut tidak berkembang menjadi sesuatu yang merugikan.

Ina menekankan bahwa luka tidak selalu menjadi sesuatu yang negatif, melainkan dapat menjadi guru kehidupan.

“Melalui luka, seseorang dapat belajar tentang kesabaran, keikhlasan, serta proses pendewasaan diri. Proses menuju keikhlasan sendiri tidak terjadi secara instan, melainkan melalui tahapan, dimulai dari penerimaan hingga akhirnya mencapai ketenangan batin,” tambahnya.

Puluhan peserta yang hadir sangat antusias mengikuti acara dari awal hingga akhir. Salah seorang peserta, Arindi Putri Azain, menuturkan, kegiatan seperti ini penting sebagai sarana refleksi diri, terutama bagi kalangan perempuan.

Ini menjadi pengingat bahwa menjadi perempuan tangguh tidak berarti harus selalu terlihat kuat secara lahir, tetapi mampu mengelola luka, menerima emosi, dan menjadikannya sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

“Kegiatan ini memberikan pengalaman yang inspiratif dan bermakna. Nilai-nilai yang disampaikan sangat relevan dengan kehidupan saat ini. Luka bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari proses penyembuhan dan penguatan diri menuju pribadi yang lebih baik,” ucap mahasiswa Prodi PAI-FKIP UMTAS ini. (Dody Achadiyat)***