Prof. Emil Salim Dukung Gerakan Wakaf Hijau, Kolaborasi Lembaga Wakaf MUI dan Mitra Strategis

b29ccaa0cd2b4f6de9cdcb425b0707e0
Silaturahim Tim Kerja Green Waqf Lembaga Wakaf MUI yang dipimpin Guntur Subagja Mahardika, di kediaman Prof Emil Salim, Patra Kuningan Jakarta, (Foto: MUI).

ZONALITERASI.ID – Bapak Lingkungan Hidup Indonesia Prof. Emil Salim menyambut baik program Gerakan Wakaf Hijau (Green Waqf) yang dilaksanakan Lembaga Wakaf Majelis Ulama Indonesia (LWMUI) bersama mitra strategis.

Program wakaf untuk pemuliaan lingkungan dan sumber daya alam ini dapat menjadi gerakan masyarakat yang dimotori ulama dan pemimpin agama.

“Ulama dan pesantren harus menjadi motor gerakan kepedulian pada lingkungan,” ungkap Prof Emil Salim, saat menerima silaturahim Tim Kerja Green Waqf Lembaga Wakaf MUI yang dipimpin Guntur Subagja Mahardika, di kediamannya, Patra Kuningan Jakarta, pekan lalu.

Lembaga Wakaf MUI berkolaborasi dengan Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam (LPLHSDA MUI), Islamic Dakwah Fund MUI (IsDF MUI), Emil Salim Istitute (ESI), Yayasan Mitra Mikro, Insan Tani dan Nelayan Indonesia (Intani), dan Arus Baru Indonesia (ARBI) menyelenggarakan program bersama Gerakan Wakaf Hijau (Green Waqf). LWMUI menjadi koordinator program ini, yang implementasinya dapat dilakukan oleh masing-masing lembaga dalam kolaborasi.

Hadir dalam pertemuan tersebut Tim Green Waqf, antara lain E. Kurniawan Padma (Direktur ESI), Subagio (ESI), Sugijanto Soewandi (LPLH SDA MUI), Agus Syabarudin (Intani), Akbar Hasyemi, Deris, Amilia (LWMUI), Neng Fitria (Mitra Mikro), Ibrahim Hamdani (CSGS UI), dan Riena Zee praktisi green fashion yang berkolaborasi dalam program Green Waqf.

Mantan Menteri Lingkungan Hidup RI itu mengapresiasi program lingkungan yang melibatkan tokoh agama dan masyarakat karena kondisi lingkungan di Indonesia ini sangat memprihatinkan.

Kerusakan lingkungan mengakibatkan bencana alam seperti banjir dan longsor yang merengut ribuan korban jiwa. Krisis lingkungan juga berdampak terhadap perubahan iklim.

Ketua Tim Kerja Wakaf Hijau (Green Waqf) LWMUI, Guntur Subagja Mahardika, menjelaskan, program Green Waqf merupakan gerakan yang melibatkan partisipasi masyarakat untuk peduli dalam menjaga dan memulihkan lingkungan.

Ada tiga program utama yaitu Wakaf Hutan, Wakaf Hijau Konservasi, dan Wakaf Hijau Produktif.

Program Wakaf Hutan akan melibatkan masyarakat untuk berwakaf melalui donasi untuk membeli tanah yang akan ditanami pohon-pohon endemik yang dapat menjadi penyangga dan penyerap air, menyerap karbon, dan memproduksi oksigen untuk kehidupan.

Program ini akan diimplementasikan bertahap di daerah yang menjadi prioritas. Wakaf Hijau Konservasi merupakan program pemulihan lahan kritis di kawasan kosnervasi, bantaran sungai, dan lahan kritis lainnya.

“Kami juga membuka kerja sama dan kolaborasi dengan pemerintah dan pihak korporasi untuk reforestasi hutan lindung dan pemulihan lahan konservasi serta penanggulangan lahan kritis,” ungkap Guntur.

Menurut Guntur, selain kedua program tersebut dikembangkan juga Wakaf Hijau Produktif melalui program wakaf produktif pertanian, peternakan, perikanan, dan industri hilirnya.

“Kami berharap buruh-buruh tani dan keluarga miskin bisa menggarap lahan-lahan wakaf yang masih menganggur dan juga lahan negara yang tidak produktif menjadi pertanian dan perkebunan produktif berbasis wakaf,” ujar Guntur.

Melalui program wakaf, lanjut Guntur, hasil produktivitas tersebut dapat disalurkan untuk maukuf alaih (penerima manfaat) untuk pengentasan kemiskinan, pendidikan, dakwah, dan pemuliaan lingkungan.

Green Waqf dikembangkan melalui wakaf harta benda wakaf tidak bergerak (tanah) dan harta benda bergerak seperti uang dan instrumen keuangan seperti deposito syariah, reksadana syariah, sukuk, dan emas.

Aset ini akan dikelola yang diharapkan terus menerus menberikan manfaat.

“Untuk implementasi program ini selain menerima wakaf aset tanah juga wakaf uang dan wakaf melalui uang,” jelasnya.

Sebagai informasi, program Green Waqf sudah dimulai sejak tahun lalu dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup 2025.

Lembaga Wakaf MUI bersama Sahabat Wakaf MUI, Yayasan Mitra Mikro, dan Center for Strategic and Global Studies (CSGS) Universitas Indonesia, melaksanakan Gerakan Wakaf Pohon menanam 300 pohon bambu di bantaran Sungai Ciliwung, di perbatasan Jakarta Selatan dan Kota Depok Jawa Barat. (des)***

Sumber: MUI.or.id