Oleh Suheryana Bae
MANUSIA sering terjebak dalam dua kutub yang tampak bertolak belakang. Di satu sisi, manusia ingin segala sesuatunya terencana dan pasti; di sisi lain, takut jika takdir telah digariskan tidak memberi ruang pada ikhtiar. Maka Mohammad Iqbal mengatakan: “Binalah pribadimu demikian hebatnya, sehingga sebelum Tuhan menentukan takdirmu, Ia sendiri akan mengarahkan tanya padamu, apa yang kau kehendaki sebenarnya.”
Kalimat ini mendorong kita untuk memahami relasi antara ikhtiar dan ketetapan Ilahi secara lebih dewasa.
Pandangan umum tentang takdir seringkali dipahami secara pasif. Takdir dianggap sebagai skenario yang sudah selesai, dan manusia hanya menjalani takdir. Jika begitu, lalu untuk apa kerja keras? Untuk apa perjuangan?
Di sinilah letak kekeliruan yang paling mendasar. Takdir bukanlah rangkaian peristiwa yang kaku, melainkan skenario yang di dalamnya manusia diberi keleluasaan untuk improvisasi. Kita tidak pernah tahu persis bagaimana garis hidup kita, dan justru karena ketidaktahuan itulah usaha menjadi bermakna. Sebab, jika kita sudah mengetahui masa depan, hidup akan kehilangan tantangan, kehilangan elemen kejut yang sering kali menjadi tempat tumbuhnya kebijaksanaan.
Kewajiban manusia dalam kerangka ini adalah berusaha dengan sungguh-sungguh. Bukan karena usaha dapat mengubah takdir, tetapi karena usaha adalah cara kita membaca dan menjemput takdir itu sendiri. Ada ungkapan klasik bahwa “Takdir tidak akan berubah tanpa doa dan ikhtiar.” Dalam tradisi spiritual apa pun, prinsip ini hampir selalu ada. Ikhtiar bukanlah alat untuk memaksa kehendak kepada Tuhan, melainkan instrumen untuk mengaktualisasikan potensi-potensi di dalam diri kita. Dengan bekerja keras, kita sedang menggali karunia yang telah dianugerahkan; dengan belajar tanpa henti, kita sedang membuka pintu-pintu yang selama ini tersembunyi.
Kembali pada kalimat pembuka, pesan moralnya sangat kuat, yakni membangun pribadi sedemikian rupa, hingga pilihan-pilihanmu menjadi jelas, dan Tuhan pun mempertimbangkan setiap ikhtiar dan doa kita. Hal ini bukanlah gambaran tentang Tuhan yang bisa diintervensi, melainkan kiasan tentang tanggung jawab moral manusia. Tuhan memberi kita akal, nurani, dan kebebasan untuk memilih. Dengan membina diri, kita sedang mematangkan kebebasan itu. Seorang yang pribadinya kuat dan terlatih tidak akan bingung ketika dihadapkan pada persimpangan; tidak akan takut menentukan arah, karena tahu bahwa apa pun yang dipilih akan berada dalam bingkai takdir yang lebih besar. Menurut Albert Camus dalam The Myth of Sisyphus, meskipun hidup tampak absurd, manusia tetap harus bertindak seolah-olah segala sesuatu berarti. Dalam konteks takdir, sikap itu serupa: meski kita tidak tahu pencapaian yang mungkin diraih, kita tetap berkewajiban memainkan peran kemanusiaan secara maksimal.
Namun, satu hal yang kerap dilupakan adalah bahwa hasil akhir bukanlah kewenangan kita. Kita bisa berkehendak, berencana, dan berikhtiar, tetapi keputusan berada di tangan Mahapencipta. Karena itulah manusia tidak perlu cemas, tidak perlu takut dan kecewa. Jika kita meyakini bahwa segala hasil adalah keputusan Ilahi, maka kita hanya perlu berpasrah, bersyukur, dan menerima takdir. Bukan penerimaan pasif yang menyerah sebelum berjuang, melainkan penerimaan aktif yang memicu semangat untuk terus berjuang. Penerimaan itu bukan tanpa proses, melainkan hasil akhir dari usaha panjang yang menguras tenaga dan pikiran.
Menjalani proses dengan sepenuh hati adalah bentuk penghargaan tertinggi terhadap kehidupan. Dalam dunia yang berorientasi target, kita sering lupa bahwa perjalanan memiliki nilainya sendiri. Setiap langkah, setiap kegagalan, setiap titik jenuh adalah bagian dari pembentukan pribadi. Kita mungkin tidak mencapai apa yang kita impikan, tetapi melalui proses kita menjadi versi diri yang lebih baik.
Bahwa hidup hanya dapat dipahami dengan menengok ke belakang, tetapi harus dijalani ke depan, berarti makna dari semua usaha kita akan terungkap di kemudian hari, saat kita menengok kembali dan menyadari bahwa setiap peristiwa telah menempatkan kita pada tempat yang tepat.
Maka, bekerja keraslah, berusahalah optimal, bukan karena takut akan takdir buruk, tetapi karena itulah jalan untuk menghormati anugerah kehidupan. Nikmati setiap fase, setiap keringat, setiap doa yang terpanjat. Karena pada akhirnya, apa pun yang terjadi adalah bagian dari rancangan yang lebih besar dari pemahaman kita. Kita tidak pernah tahu apakah yang kita raih akan sesuai dengan harapan, tetapi kita tahu bahwa kita telah melakukan bagian kita. Dan dalam ketidaktahuan itu justru ada kedamaian: kita telah menyerahkan hasil pada yang Maha Mengetahui, sementara kita fokus pada yang bisa kita kendalikan, yaitu usaha dan sikap.
Pada titik inilah manusia mencapai kematangan. Ia tidak lagi bergulat dengan takdir sebagai lawan, melainkan menjalani takdir sebagai mitra dialog. Mendengar, bertanya, bergerak, dan menerima. Pribadi yang demikian hebatnya tidak akan mudah goyah oleh goncangan zaman, karena berdiri di atas fondasi iman dan kerja. Di hadapan Tuhan, ia bukan lagi hamba yang hanya pasrah, melainkan hamba yang berani menyuarakan kehendaknya, karena ia tahu bahwa kehendak yang telah dimatangkan oleh usaha adalah bagian dari kehendak Tuhan sendiri. Dan kepastian hidup bukan lagi sesuatu yang ditentukan dari luar, melainkan sesuatu yang ikut dirumuskan dari dalam, oleh jiwa yang telah ditempa oleh waktu dan perjuangan. ***
Suheryana Bae, Kolumnis.










