Relevansi Mutiara Bijak Ibnu Atha’illah’ AS Sakandari dengan Lirik Lagu Enya

WhatsApp Image 2026 07 05 at 19.46.52 1
Ilustrasi “Relevansi Mutiara Bijak Ibnu Atha'illah’ AS Sakandari dengan Lirik Lagu Enya”, (Foto: Fixabay).

Oleh Achmad Tans

SEJARAH peradaban manusia sering kali menyaksikan bagaimana kebenaran universal memancar dari berbagai sudut bumi yang berbeda, melewati sekat-sekat zaman, geografi, dan kebudayaan. Di satu sisi, pada abad ke-13 di bawah langit Kairo yang kental dengan tradisi keilmuan Islam, Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari menulis kitab mahakarya Al-Hikam. Sebuah kitab yang berisi aforisme tasawuf, menuntut kejujuran batin tingkat tinggi untuk mengikis kesombongan ego manusia. Di sisi lain, pada akhir abad ke-20 dari sebuah kastil sunyi di Irlandia, musisi wanita Enya (Eithne Pádraigín Ní Bhraonáin) melahirkan musik-musik ambient-Celtic yang magis, melayang, dan menenangkan jiwa.

Sepintas, mempertemukan seorang ulama fikih sekaligus sufi besar mazhab Maliki dengan seorang musisi kontemporer Barat terkesan seperti menjembatani dua dunia yang mustahil bertemu. Namun, jika kita menyelami lebih dalam ke dasar samudra lirik-lirik Enya dan menyandingkannya dengan mutiara bijak Al-Hikam, kita akan menemukan sebuah relevansi spirit yang mengalir jernih. Keduanya beresonansi pada frekuensi batin yang sama: menyembuhkan jiwa yang lelah dari kebisingan dunia, mengajak manusia melepaskan kontrol semu atas kehidupan, dan menundukkan keangkuhan diri di hadapan ketetapan yang jauh lebih besar.

Irisan paling tebal yang mengikat relevansi kedua karya ini terletak pada konsep kepasrahan total atau tawakal. Di dalam kitab Al-Hikam, Syekh Ibnu Atha’illah meletakkan sebuah fondasi berpikir yang sangat radikal bagi ketenangan mental manusia: “Istirahatkan dirimu dari ikut mengatur urusanmu. Sebab, apa yang sudah dijamin oleh selainmu (Allah) untukmu, tidak usah engkau sibuk ikut memikirkannya”. Mutiara bijak ini adalah obat penawar bagi penyakit manusia modern yang selalu didera kecemasan berlebihan akan masa depan (overthinking), akibat merasa bahwa dirinya adalah sutradara utama atas nasibnya sendiri.

Spiritualitas kepasrahan ini ditangkap dengan sangat presisi oleh Enya melalui lagunya yang paling ikonis, “Only Time”. Dalam bait-bait liriknya yang mengalun lembut, Enya bernyanyi: “Who can say where the road goes? Where the day flows? Only time…” (Siapa yang bisa menebak ke mana jalan ini mengarah? Ke mana hari akan mengalir? Hanya waktu…). Bagi seorang sufi, kata “waktu” dalam konteks ini adalah metafora estetis dari jalannya takdir dan ketetapan-Nya yang misterius. Relevansi di sini begitu benderang: Enya mengajak pendengarnya untuk berhenti memaksakan kehendak egoiah dalam menebak masa depan, sebuah pesan yang setali tiga uang dengan seruan Ibnu Atha’illah agar manusia “mengistirahatkan diri” dari kepenatan mengatur hal-hal yang berada di luar jangkauan dayanya.

Lebih jauh lagi, jika kita membedah lagu terbaru Enya yang berjudul “Don’t Be Afraid”, relevansi itu menjelma menjadi sebuah dialog spiritual yang kian intim. Enya menggunakan metafora alam yang sangat puitis: “Every star still knows the night yet never fears the dawn. Every river finds the sea by simply flowing on.” (Setiap bintang tetap mengenali malam namun tak pernah takut pada fajar. Setiap sungai menemukan laut hanya dengan terus mengalir). Analogi sungai yang menemukan laut hanya dengan cara “mengalir” adalah cerminan dari konsep ikhlas dan keridaan yang diajarkan dalam tasawuf.

Sungai tidak pernah memprotes batu cadas yang menghalangi jalannya; ia hanya berbelok, meliuk, melepaskan egonya, hingga akhirnya lebur ke dalam pelukan samudra luas. Fenomena ini berkelindan erat dengan petuah Ibnu Atha’illah: “Bagaimana mungkin hatimu bisa bersinar, sementara bayangan dunia masih melekat pada cermin hatimu?” Untuk mencapai kedamaian batin (lautan), manusia harus meniru sifat sungai: membersihkan cermin hatinya dari keterikatan materi dan ego yang kaku, lalu mengalir mengikuti garis takdir dengan penuh penerimaan.

Relevansi spiritual ini juga menyentuh aspek bagaimana manusia memandang penderitaan dan kegelapan hidup. Manusia sering kali mengutuk kegagalan, kesedihan, dan rasa sepi, menganggapnya sebagai bentuk pengabaian dari Tuhan. Namun, Al-Hikam membalikkan cara pandang tersebut melalui untaian kalimatnya: “Ketika Allah menahan pemberian-Nya kepadamu, sebenarnya Dia sedang menunjukkan sifat kelembutan-Nya. Dan ketika Dia memberimu di tengah cobaan, itu adalah bentuk kasih sayang-Nya”.

Di balik kegelapan malam, ada tarikan napas kasih sayang yang samar. Enya memotret getaran harapan yang sama dalam lagu “May It Be” (Lagu tema film The Lord of the Rings): “May it be an evening star shines down upon you… When the dark is fallen, your heart will be true.” (Semoga ada bintang malam yang menyinarimu… Ketika kegelapan jatuh, hatimu akan tetap lurus dan setia). “Bintang malam” yang disuarakan Enya adalah manifestasi dari sifat Ar-Raja’ (harapan) dalam ajaran Ibnu Atha’illah. Kegelapan hidup bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah ruang inkubasi spiritual yang sengaja diciptakan agar manusia mampu melihat cahaya kebenaran dengan lebih jernih, menjaga hatinya agar tetap setia pada koridor kebenaran di tengah badai ujian.

Arsitektur musik Enya sendiri—yang kaya akan gaung vokal berlapis (multitracted vocals), minim lirik, dan didominasi oleh aransemen ambient yang sunyi—secara inheren merupakan perwujudan auditif dari konsep Uzlah yang diagungkan oleh Syekh Ibnu Atha’illah. Dalam Al-Hikam disebutkan: “Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi hati daripada mengasingkan diri (uzlah), untuk memasuki medan perenungan (tadabur)”. Musik Enya laksana sebuah ruang uzlah buatan di tengah kepungan peradaban modern yang bising. Ia memotong kebisingan eksternal, memaksa pendengarnya untuk masuk ke dalam mode hening, merenung, dan menyadari betapa kerdilnya diri mereka di tengah kemegahan semesta.

Meresapi benang merah spiritualitas antara mutiara bijak Al-Hikam dan lirik-lirik magis Enya menuntun kita pada sebuah titik refleksi yang fundamental mengenai hakikat eksistensi kita di atas bumi ini. Musik yang indah dan untaian kata yang puitis pada akhirnya hanyalah rambu-rambu petunjuk di pinggir jalan. Mereka bertugas mengetuk pintu kesadaran kita yang sering kali tertidur karena terlena oleh gemerlap dan hiruk-pikuk kehidupan duniawi. Keheningan dan kepasrahan yang kita rasakan saat mendengar petuah sufi maupun alunan melodi sunyi sejatinya adalah alarm fitrah yang mengingatkan jiwa tentang dari mana ia berasal dan ke mana ia akan kembali.

Di tengah zaman yang kian menuntut kecepatan, persaingan, dan pemujaan terhadap materi, umat manusia kerap kali terjebak ke dalam jurang kesombongan kosmik. Manusia modern merasa dengan teknologinya yang canggih, mereka telah mampu mendikte alam dan menguasai jalannya kehidupan. Keakuan diri (ananiyah) ini adalah akar dari segala kegersangan jiwa. Ketika manusia merasa dirinya adalah pusat dari segala kekuatan, mereka sesungguhnya sedang membangun berhala-berhala baru di dalam pikiran mereka sendiri.

Oleh karena itu, dari lubuk hati yang paling dalam, mari kita layangkan sebuah ajakan kontemplasi yang tulus untuk seluruh umat manusia, khususnya bagi kita anak bangsa. Marilah kita sejenak menundukkan kepala, mematikan segala kegaduhan ego, dan kembali mengingat dengan penuh ketundukan bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Pencipta, Pemelihara, dan Penguasa Alam Semesta yang mutlak. Segala keindahan fajar yang menyapa pagi, keteraturan putaran bintang di langit malam, hingga detak jantung yang masih berdenyut di dalam dada kita, adalah bukti sahih dari kemurahan dan keperkasaan-Nya yang tak tertandingi.

Dia-lah Dzat Yang Maha Tunggal dalam wujud dan perbuatan-Nya, yang tidak membutuhkan sekutu apa pun dan siapa pun. Di hadapan Keagungan-Mu yang mutlak, tidak ada ruang sedikit pun bagi manusia untuk menyandingkan Kekuasaan-Nya dengan kekuatan makhluk, atau bersandar pada sebab-sebab lahiriah secara berlebihan. Kita dilarang keras untuk berbuat syirik—baik syirik yang nyata dengan menyembah berhala materi, maupun syirik yang samar (syirik khafi) berupa ketergantungan hati kepada pangkat, harta, jabatan, atau kemampuan diri sendiri, hingga melupakan Sang Penentu Takdir. Perbuatan musyrik adalah bentuk pengkhianatan terbesar atas fitrah penciptaan manusia, sebuah kezaliman besar yang menutup pintu cahaya-Nya dari cermin hati kita.

Mari kita kembalikan fungsi sejati diri kita sebagai seorang hamba: bersujud dengan rasa malu yang jujur, menyerahkan seluruh kendali hidup kita Kepada-Nya dalam ketetapan tawakal yang mutlak, dan memurnikan seluruh ritual ibadah serta pengabdian kita hanya untuk Allah SWT. Hanya dengan merubuhkan berhala kesombongan ego di dalam dada dan membersihkan tauhid kita dari noda-noda syirik, jiwa manusia akan menemukan kedamaian sejati yang mengalir jernih—seperti tenangnya sungai yang pasrah mengalir kembali ke haribaan samudra luas. ***

Achmad Tans, Kordinator ECOFITRAH; Penikmat Seni-Budaya.