ZONALITERASI.ID – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus mendorong penguatan Gerakan Numerasi di satuan pendidikan.
Nah, menyikapi kebijakan itu, langkah terobosan dilakukan oleh SDN 04 Meruya Selatan. Sekolah yang berlokasi di Jalan H. Saaba, Kembangan, Jakarta Barat itu, menghadirkan inovasi pembelajaran bertajuk INTAN (Inovasi Taman Numerasi).
Mengutip keterangan yang disampaikan Kemendikdasmen, Sabtu, 28 Februari 2026, Taman Numerasi INTAN dirancang sebagai ruang belajar interaktif yang memfasilitasi siswa memahami konsep matematika melalui media konkret, permainan edukatif, serta aktivitas berbasis proyek.
Pendekatan ini mendorong siswa tidak hanya terampil berhitung, tetapi juga mampu berpikir kritis, logis, dan sistematis dalam memecahkan persoalan sehari-hari.
“Melalui INTAN, sekolah menghadirkan beragam sudut numerasi yang dilengkapi alat peraga, papan interaktif, media visual, serta tantangan numerik sesuai jenjang kelas. Suasana belajar dikemas secara terbuka dan kolaboratif, sehingga siswa dapat belajar sambil bermain dalam lingkungan yang inspiratif,” kata Kepala SDN 04 Meruya Selatan, Tri Susilawati.
“Kami ingin numerasi menjadi budaya, bukan sekadar materi pelajaran. Melalui Taman Numerasi INTAN, siswa belajar dengan cara yang lebih menyenangkan dan bermakna. Harapannya, mereka tidak lagi merasa takut dengan Matematika, tetapi justru tertantang untuk mengeksplorasi,” sambungnya.
Salah satu guru SDN 04 Meruya Selatan, Komala Sari, menambahkan, INTAN dirancang agar siswa belajar secara aktif dan kontekstual.
“Kami menghadirkan media yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. Dengan begitu, mereka memahami bahwa numerasi hadir di sekitar mereka. Anak-anak menjadi lebih percaya diri saat menyelesaikan tantangan numerik karena belajar sambil bermain,” jelasnya.
Guru lainnya, Rindy Afrizal, menuturkan, Taman Numerasi sebagai inovasi yang berdampak langsung pada peningkatan kualitas pembelajaran.
“Inovasi seperti INTAN menunjukkan bahwa transformasi pendidikan dapat dimulai dari sekolah. Ketika guru kreatif dan sekolah memberikan ruang eksplorasi, siswa akan tumbuh menjadi pembelajar yang aktif dan adaptif. Ini bukan hanya tentang angka, tetapi tentang membangun pola pikir,” ucapnya.
Tak main-main, konsep Taman Numerasi INTAN yang diterapkan sekolah ini memang beda. Tak heran jika fasilitas ini menarik perhatian Guru Besar Universitas Hokkaido, Jepang, Profesor Sakai Chihiro.
Sakai Chihiro berkunjung langsung untuk melihat dan berinteraksi bersama guru serta murid di SDN 04 Meruya Selatan dalam proses pembelajaran berbasis inovasi INTAN, beberapa waktu lalu. Pada kesempatan itu, Sakai mengapresiasi inovasi yang dilakukan sekolah ini.
Student Based Learning ala Indonesia
Sebagai informasi, Indonesia secara aktif mengadopsi pembelajaran berpusat pada murid (Student Based Learning [SBL]) dari Jepang untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Dalam prosesnya Indonesia memiliki salah satu inovasi terbaru yang mendukung pembelajaran berbasis murid yaitu “Taman Numerasi”.
Taman Numerasi digunakan sebagai area belajar menyenangkan, interaktif, dan kolaboratif. Taman ini bertujuan untuk menghubungkan pembelajaran numerasi dengan kehidupan nyata, mendorong minat, meningkatkan keterampilan numerasi, serta pemikiran logis, kritis, dan kreatif. Inisiatif ini merupakan bagian dari Gerakan Numerasi Nasional, yang bertujuan memperkuat sumber daya manusia Indonesia di bidang Matematika, Sains, Teknologi, dan Pendidikan.
Taman Numerasi ini menawarkan keunggulan unik bagi Indonesia dengan menghadirkan lingkungan fisik yang dirancang secara khusus untuk mendukung pembelajaran mendalam terintegrasi dengan pendekatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).
Berbeda dengan praktik di Jepang yang memanfaatkan lingkungan sekitar dan mendorong eksperimen secara kontekstual, Taman Numerasi di Indonesia hadir sebagai pendekatan yang lebih terstruktur, dengan ruang belajar interaktif yang secara eksplisit berfokus pada penguatan numerasi secara luas. Melalui konsep ini, murid tidak hanya mempelajari fakta, tetapi juga menerapkan pengetahuan ilmiah untuk memecahkan persoalan nyata, sejalan dengan semangat pembelajaran berpusat pada murid sebagaimana berkembang di Jepang. (des)***











