PUISI Herry Supryono

kiw 2796351669
Ilustrasi “Puisi Herry Supryono”, (Foto: Istimewa).

CELOTEH GENZ

Generasi menye-menye lah kami disebut.

Generasi pemalas, anak mami, tidak sopan, tak punya kepekaan sosial.

Tapi pak, bu mengapa kami jadi begini?

Bukankah kami anak-anak kalian juga?

Bukankah kami lahir dan dibesarkan oleh kalian juga?

Ironisnya kami dicaci maki oleh generasi-generasi terdahulu yang dari mereka kami berasal.

Seharusnya mereka berkaca pada diri sendiri apa yang telah mereka perbuat sehingga membuahkan generasi seperti kami.

__________________________

JELANG SETAHUN KEPERGIANMU

Untukmu yang terlahir hanya untuk menjalani praktik samsara,

Untukmu yang terkapar di tengah baris bait puisi Sang Ayah,

Untukmu yang selalu lantang menjerit di pagi buta merapalkan nama Penguasa Semesta saat semua masih terlena,

Demi Tuhan, engkau masih terlalu belia untuk semua derita, walau itu rahasiamu dengan Sang Pencipa,

Tapi kami manusia remuk redam, hancur, hampir mati berkalang tanah demi secuil senyummu yang nyata,

_____________________________

KISAH AYAH KEHILANGAN PUTRI

Kalau engkau belum pernah bertemu malaikat, suatu hari nanti akan membawamu menemuinya,

Benar, seperti yang diisyaratkan kitab-kitab suci, ia bersih tanpa dosa,

Mungkin saja engkau melihatnya tak bersayap, tapi senyumnya bisa membuatmu terbang mengitari jagad semesta,

Aku beritahu, ia akan menyapa siapapun yang menemuinya dengan senyum, meski ia sedang menahan perih tak terkira,

Ia akan membuatmu tetap tersenyum meski sedang menahan pedih tak terperi,

Iya, putriku akan selalu tersenyum apapun yang terjadi pada dirinya,

Tehran, 4 Oktober 2020

***

Herry Supryono, alumni FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), kini tengah berjalan-jalan di Timur Tengah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *