Universitas Kehidupan: dari Taat, Tobat, Syukur, dan Sabar – Menuju Ridha Ilahi

ilustrasi universitas kehidupan 1
Ilustrasi Universitas Kehidupan, (Foto: tebuireng.online).

Oleh Achmad Tans

DI dunia ini ada banyak universitas besar. Ada Harvard yang prestisius. Ada Cambridge yang bersejarah. Ada London School of Economics yang melahirkan banyak pemikir ekonomi. Ada Institut Teknologi Bandung, IPB UNIVERSITY, Universitas Indonesia, Universitas Padjajaran dan banyak perguruan tinggi lain yang menjadi kebanggaan bangsa.

Setiap tahun ribuan mahasiswa masuk ke kampus-kampus tersebut dengan harapan yang hampir sama: memperoleh ilmu, meraih gelar, mendapatkan pekerjaan yang baik, dan membangun masa depan yang lebih cerah. Itu semua baik.

Islam bahkan menempatkan ilmu pada posisi yang sangat tinggi. Wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad ﷺ dimulai dengan perintah: “Bacalah.”

Ilmu adalah cahaya. Peradaban tanpa ilmu akan mudah tersesat. Namun di balik semua universitas yang dikenal manusia, sesungguhnya ada sebuah universitas yang jauh lebih besar, jauh lebih tua, dan jauh lebih luas. Universitas itu tidak memiliki pagar kampus. Tidak memiliki ruang kuliah permanen. Tidak memiliki kalender akademik. Tidak memiliki hari libur. Tidak memiliki upacara penerimaan mahasiswa baru. Namun semua manusia otomatis menjadi mahasiswanya sejak lahir. Universitas itu bernama: Universitas Kehidupan.

Di universitas ini, ruang kuliahnya adalah bumi. Laboratoriumnya adalah alam semesta. Perpustakaannya adalah pengalaman. Dosennya adalah peristiwa. Dan kurikulumnya disusun langsung oleh Allah SWT. Yang menarik, mahasiswa Universitas Kehidupan sangat beragam.

Ada petani, nelayan, pedagang, menteri, profesor, dokter, jenderal, konglomerat, ulama, pemimpin negara, dst. Bahkan para Nabi sekalipun menjalani pendidikan di universitas yang sama. Yang mungkin membedakan hanyalah mata kuliah yang mereka tempuh dan cara mereka menghadapi ujian.

Sejarah Asal-usul Kata Universitas dan Fakultas

Asal Kata “Universitas” berasal dari bahasa Latin: Universitas, yang berasal dari gabungan: Universus=menyeluruh, seluruh, semesta. Unus = satu, Vertere = berputar, berubah menjadi.

Secara harfiah, universus dapat dimaknai: “menjadi satu kesatuan dari banyak bagian” atau “keseluruhan yang utuh”. Dari sinilah muncul kata-kata modern: universe (alam semesta), universal(bersifat umum), universality (keuniversalan), university (universitas). Jadi akar maknanya berkaitan dengan: kesatuan dalam keberagaman.

Yang menarik, di Romawi pada abad pertengahan, kata universitas belum berarti kampus. Belum berarti gedung kuliah. Belum berarti lembaga pendidikan. Justru artinya adalah: sebuah komunitas orang-orang yang memiliki tujuan bersama. Mirip persekutuan, serikat, asosiasi, guild. Misalnya: universitas pedagang, universitas warga kota, universitas pengrajin. Artinya: sekumpulan orang yang menjadi satu kesatuan.

Kelahiran Universitas modern sekitar abad ke-11 dan ke-12 di Eropa, mulai muncul komunitas ilmuwan dan pelajar. Mereka membentuk perkumpulan. Dalam bahasa Latin disebut: universitas magistrorum et scholarium, yang berarti: “komunitas para guru dan para murid”. Perhatikan, yang disebut universitas bukan gedungnya. Bukan kampusnya. Tetapi komunitas pencari ilmu.

Universitas Bologna (University of Bologna), salah satu universitas tertua di dunia yang masih berjalan hingga sekarang berdiri sekitar tahun 1088. Awalnya bukan seperti kampus modern. Lebih mirip perkumpulan mahasiswa dan guru yang belajar hukum.

Kemudian muncul University of Paris yang berkembang pada abad ke-12. Di sinilah berkembang model fakultas: teologi, hukum, kedokteran, seni liberal. Model ini kemudian mempengaruhi universitas di seluruh dunia.

Menariknya dunia Islam lebih dulu memiliki tradisi ilmu. Jika berbicara tentang lembaga pendidikan tinggi, banyak sejarawan mencatat bahwa dunia Islam telah memiliki pusat-pusat ilmu jauh sebelum universitas di Eropa berkembang.

Contohnya: Al-Qarawiyyin (abad ke-9), Al-Azhar (abad ke-10). Keduanya menjadi pusat kajian: agama, bahasa, astronomi, matematika, filsafat, kedokteran.

Walaupun struktur administratifnya tidak persis sama dengan universitas modern Eropa, keduanya merupakan pusat pendidikan tinggi yang sangat berpengaruh dalam sejarah dunia.

Makna Filosofis yang Menarik

Kalau kembali ke akar katanya : universitas = keseluruhan yang menjadi satu. Maka universitas sejatinya bukan sekadar tempat belajar satu disiplin ilmu. Melainkan tempat berbagai cabang ilmu bertemu menjadi suatu pemahaman yang utuh. Karena itu ada: hukum, kedokteran, teknik, pertanian, ekonomi, filsafat, dll; yang semuanya berada dalam satu payung.

Kata fakultas berasal dari bahasa Latin: facultas yang berarti: kemampuan, kecakapan, kapasitas, kekuatan untuk melakukan sesuatu. Akar katanya berasal dari: facilis, yang berarti: mudah dilakukan, mampu dilakukan. Dari bahasa Latin itu kemudian masuk ke berbagai bahasa Eropa. Dalam dunia pendidikan modern, fakultas menjadi: kelompok bidang ilmu tertentu dalam sebuah universitas. Contohnya: Fakultas Kedokteran, Fakultas Teknik, Fakultas Hukum, Fakultas Kelautan dan Ilmu Perikanan, Fakultas Pertanian, dst

Kalau dibawa ke Universitas Kehidupan maka makna aslinya justru sangat menarik. Mengingat di Universitas Kehidupan ini, paling tidak ada empat fakultas, yaitu: Fakultas Syukur, berarti tempat melatih kemampuan bersyukur. Fakultas Sabar: tempat melatih kemampuan bersabar. Fakultas Taat: tempat melatih kemampuan mentaati regulasi Allah. Fakultas Tobat: tempat melatih kemampuan kembali kepada Allah setelah salah.

Jadi sesuai makna asalnya, fakultas bukan sekadar gedung atau jurusan. Fakultas adalah: ruang pembentukan kemampuan.

Fakultas Taat: Belajar Mengikuti Aturan

Fakultas pertama yang wajib diikuti setiap mahasiswa Universitas Kehidupan adalah Fakultas Taat. Mengapa? Karena kehidupan tidak mungkin berjalan baik tanpa aturan.

Allah menciptakan alam dengan keteraturan yang menakjubkan. Matahari terbit sesuai ketentuan. Bulan beredar sesuai ketentuan. Air mengalir sesuai hukum yang ditetapkan-Nya. Benih tumbuh sesuai sunnatullah.

Jika alam saja tunduk kepada aturan Allah, maka manusia pun diberi pedoman agar kehidupannya tertib, aman, dan tenteram.

Alquran dan sunnah menjadi buku panduan utama Fakultas Taat. Di fakultas ini mahasiswa belajar: kejujuran, amanah, keadilan, tanggung jawab, kasih sayang, disiplin dan pengendalian diri. Tokoh yang layak menjadi simbol fakultas ini adalah Nabi Ibrahim AS. Beliau diperintahkan meninggalkan kampung halamannya, beliau taat. Beliau diperintahkan menghadapi penguasa zalim, beliau taat. Beliau diperintahkan menyembelih putranya yang sangat dicintai, beliau tetap taat. Kepatuhan beliau bukan kepatuhan yang buta, tetapi kepatuhan yang lahir dari keyakinan yang kokoh kepada Allah. Di Fakultas Taat, nilai terbaik bukan diberikan kepada orang yang paling banyak berbicara tentang kebaikan, melainkan kepada mereka yang berusaha menjalankannya.

Fakultas Tobat: Tempat Memperbaiki Nilai

Namun Allah mengetahui bahwa manusia bukan malaikat. Manusia bisa salah. Bisa lupa. Bisa tergelincir. Bisa berdosa. Karena itu Universitas Kehidupan memiliki fakultas yang sangat istimewa. Namanya Fakultas Tobat. Inilah salah satu keunikan pendidikan Ilahi. Di banyak institusi dunia, kesalahan besar dapat menyebabkan seseorang dikeluarkan dari sistem. Namun Allah membuka pintu kembali. Bahkan salah satu nama-Nya adalah At-Tawwab, Yang Maha Menerima Tobat. Tokoh yang menjadi simbol fakultas ini adalah Nabi Adam as. Beliau pernah melakukan kesalahan.

Tetapi yang membuat beliau mulia bukan karena tidak pernah salah. Yang membuat beliau mulia adalah karena beliau segera kembali kepada Allah. Beliau berdoa: “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri“. Inilah pelajaran besar Fakultas Tobat. Bukan manusia yang tidak pernah jatuh yang menjadi pemenang. Tetapi manusia yang mau bangkit setelah jatuh. Di fakultas ini diajarkan bahwa dosa bukan akhir perjalanan.

Kesombonganlah yang sering menjadi akhir perjalanan. Karena orang yang bertobat masih memiliki harapan. Sedangkan orang yang merasa tidak membutuhkan pertobatan sering kali kehilangan arah.

Fakultas Syukur: Ujian Saat Berada di Puncak

Jika Fakultas Tobat mengajarkan bagaimana bangkit dari kesalahan, maka Fakultas Syukur mengajarkan bagaimana tetap rendah hati ketika memperoleh keberhasilan. Banyak orang mengira musibah adalah ujian. Padahal nikmat juga ujian. Jabatan adalah ujian. Kekayaan adalah ujian. Popularitas adalah ujian. Kesehatan adalah ujian.  Kecerdasan adalah ujian.

Tokoh utama Fakultas Syukur adalah Nabi Sulaiman as. Beliau memperoleh kerajaan yang luar biasa. Beliau memiliki kekuasaan, ilmu, dan kemakmuran yang hampir tidak tertandingi. Namun ketika melihat nikmat itu, beliau berkata: “Ini termasuk karunia Tuhanku“. Beliau tidak memusatkan perhatian pada dirinya. Beliau memusatkan perhatian kepada Allah. Di sinilah letak kehebatan syukur. Syukur bukan sekadar mengucapkan “Alhamdulillah”. Syukur adalah kemampuan melihat Allah di balik setiap nikmat. Fakultas Syukur mengajarkan bahwa semakin tinggi seseorang naik, semakin ia harus menundukkan egonya. Karena puncak “gunung” (posisi) adalah tempat yang paling dekat dengan kesombongan.

Fakultas Sabar: Ujian Saat Berada di Lembah.

Jika Sulaiman adalah simbol syukur, maka Ayyub adalah simbol sabar. Beliau mengalami penderitaan yang panjang. Beliau menghadapi ujian yang berat. Namun beliau tidak kehilangan keyakinannya kepada Allah. Beliau tidak berubah menjadi pribadi yang penuh kebencian. Beliau tetap menjaga adab. Doanya singkat tetapi sangat dalam: “Sesungguhnya aku telah ditimpa kesusahan dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang“.

Fakultas Sabar mengajarkan sesuatu yang sering dilupakan manusia modern. Bahwa tidak semua masalah harus segera hilang agar hati menjadi tenang. Kadang ketenangan lahir karena kedekatan kepada Allah, bukan karena hilangnya masalah. Di fakultas ini mahasiswa belajar bertahan, belajar berharap, belajar percaya, belajar melangkah meskipun jalan terasa berat.

Nabi Muhammad ﷺ: Teladan Agung Universitas Kehidupan

Jika Adam as mengajarkan bagaimana bertobat setelah melakukan kesalahan, Ibrahim as mengajarkan ketaatan, Sulaiman as mengajarkan syukur dalam kelimpahan, dan Ayyub as mengajarkan kesabaran dalam ujian, maka Nabi Muhammad ﷺ memperlihatkan bagaimana seluruh nilai itu bertemu dalam satu kehidupan. Beliau adalah pribadi yang paling taat kepada Allah ketika menerima wahyu.

Beliau adalah pribadi yang paling banyak beristighfar meskipun telah dijamin ampunan. Beliau adalah pribadi yang paling bersyukur hingga kakinya bengkak karena panjangnya shalat malam. Dan beliau adalah pribadi yang paling sabar menghadapi berbagai ujian, mulai dari kehilangan orang-orang tercinta, penghinaan, pemboikotan, hingga pengusiran dari kampung halamannya. Karena itu, jika para nabi sebelumnya dapat dipandang sebagai teladan unggulan pada fakultas-fakultas tertentu dalam Universitas Kehidupan, maka Nabi Muhammad ﷺ adalah teladan yang menghimpun seluruh kurikulum kehidupan tersebut dalam satu pribadi. Tidak mengherankan jika Allah menjadikannya sebagai:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagimu.” (QS Al-Ahzab:21).

Mungkin itulah sebabnya Allah tidak hanya menjadikan beliau sebagai Nabi bagi suatu kaum atau suatu zaman, tetapi sebagai rahmat bagi seluruh alam. Dan bagi setiap mahasiswa Universitas Kehidupan, beliau adalah contoh terbaik tentang bagaimana menjalani seluruh kurikulum kehidupan hingga mencapai kelulusan yang diridhai Allah SWT.

Sebagian ulama menjelaskan bahwa maqam kehambaan (‘ubudiyyah) adalah maqam tertinggi seorang manusia. Karena itu, ketika Allah ingin memuliakan Nabi Muhammad ﷺ pada momen- momen paling agung: saat menerima Al-Qur’an, saat Isra Mi’raj, saat mendapat pertolongan Allah, Allah menyebut beliau pertama sebagai: ‘Abd (hamba),bukan dengan gelar yang lain. Seolah-olah Allah mengajarkan: Puncak kemuliaan manusia bukan terletak pada kekuasaan, ketenaran, atau bahkan mukjizat, melainkan pada kesempurnaan kehambaannya. Menurut banyak ulama, penyebutan beliau secara langsung sebagai: “Hamba-Ku” atau “Hamba-Nya” dalam konteks-konteks agung menunjukkan kemuliaan yang sangat tinggi.

Karena itu Alquran berulang kali memuliakan beliau dengan gelar yang menjadi inti seluruh kurikulum tersebut: ‘Abdullah- Hamba Allah. Malah dalam tradisi Islam, kalimat syahadat sendiri mendahulukan kehambaan sebelum kerasulan:

أشهد أن محمدًا عبده ورسوله

Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya.” Bukan: rasul-Nya dan hamba-Nya. Tetapi: hamba-Nya dan rasul-Nya. Ini memberi isyarat bahwa bahkan bagi manusia paling mulia sekalipun, identitas tertinggi tetaplah hamba Allah.

Kurikulum yang Menyeluruh

Jika direnungkan, empat fakultas ini sesungguhnya membentuk satu kurikulum kehidupan yang utuh. Ketika Allah memberi perintah, kita belajar di Fakultas Taat.

Ketika kita melakukan kesalahan, kita masuk Fakultas Tobat. Ketika memperoleh nikmat, kita belajar di Fakultas Syukur.

Ketika menghadapi kesulitan, kita belajar di Fakultas Sabar. Empat fakultas ini berjalan bersamaan sepanjang hidup. Tidak ada wisuda semester. Tidak ada cuti akademik. Tidak ada libur panjang. Karena kehidupan terus berjalan hingga ajal tiba.

Fakultas membentuk kemampuan. Universitas membentuk keutuhan. Kehidupan adalah kampusnya. Dan mungkin itulah mengapa dalam perspektif Qurani, pendidikan tertinggi bukan sekadar menghasilkan manusia yang pintar, tetapi menghasilkan manusia yang utuh (insan kāmil), yang mampu memadukan: Taat saat mendapat perintah; Tobat saat berbuat salah; Syukur saat mendapat nikmat; Sabar saat mendapat ujian.

Gelar-gelar

Dalam kehidupan modern, manusia sering mendefinisikan dirinya melalui gelar: Ir., Dr., Prof., K.H., M.B.A., M.Sc., Ph.D., dll. Semuanya baik dan terhormat. Namun Universitas Kehidupan mengajarkan bahwa ada gelar yang lebih tinggi daripada seluruh gelar akademik.

Ada yang bercita-cita menjadi IR (Insinyur). Dan itu baik.Tetapi ada gelar yang lebih tinggi: RI — Ridha Ilahi. Ada yang memperoleh gelar K.H. (Kyai Haji). Dan itu mulia. Tetapi ada gelar yang lebih tinggi: HK — Husnul Khatimah. Ada yang mengejar gelar magister. Maka dalam bahasa simbolik kita dapat menyebut gelar impian Universitas Kehidupan sebagai M.S.D.A.: Manusia Selamat Dunia Akhirat.

Karena pada akhirnya manusia tidak hanya membutuhkan kesuksesan dunia. Manusia membutuhkan keselamatan yang utuh: dunia akhirat.

Wisuda Terakhir

Setiap universitas memiliki upacara wisuda.Universitas Kehidupan juga demikian. Namun tidak ada yang mengetahui tanggal pelaksanaannya. Tidak ada yang mengetahui kapan namanya dipanggil. Tidak ada yang mengetahui kapan lembar jawabannya dikumpulkan. Hari itu disebut kematian. Hari ketika seluruh tugas berakhir. Pada saat itu, yang ditanyakan bukanlah: Berapa banyak aset yang dimiliki? Berapa banyak pengikut yang dimiliki? Berapa panjang gelar yang dimiliki?

Melainkan, apakah ia jujur, amanah, bersyukur, bersabar, taat, dan mau bertobat ketika salah.

Predikat Tertinggi

Dan jika pada wisuda terakhir seorang manusia dipanggil dengan penuh kasih: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai“. Maka itulah predikat kelulusan tertinggi. Bukan cum laude. Bukan summa cum laude. Melainkan: RI — Ridha Ilahi.

Sebuah predikat yang tidak diberikan oleh manusia. Tidak dicetak oleh universitas mana pun. Tetapi dianugerahkan langsung oleh Allah SWT kepada hamba yang berhasil menempuh seluruh kurikulum Universitas Kehidupan dengan syukur, sabar, taat, dan tobat.

Semoga kita semua, dalam menempuh pendidikan di Universitas Kehidupan ini berhasil lulus dengan predikat tertinggi.

Aamiin Yaa Allah Yaa Mujiibud du’a. ***

Achmad TansXFITVAL (Explorer Fitrah Values); Penikmat Seni-Budaya.