Memantik Ingatan Para Editor: Ensiklopedi Sastra Nusantara (ESN)

WhatsApp Image 2026 06 05 at 20.53.30
Forum Grup Diskusi (FGD) draft Ensiklopedi Sastra Nusantara (ESN) susunan Rachmat Taufiq Hidayat, di Perpustakaan Ajip Rosidi, Bandung, pada Rabu 3 Juni 2026, (Foto: Nunu A. Hamijaya).

Oleh Sari Meutia 

DALAM kesempatan ketiga seri Diskusi  Kelompok Terpumpun (FGD) Penyuntingan  Buku  Ensiklopedi Sastra Nusantara (ESN) karya  Rachmat  Taufik Hidayat (RTH), menampilkan  tokoh-tokoh editor yang sudah berkarier lebih dari 25 tahun, hingga mencapai puncak kariernya menjadi dirkeyr/CEO,  sejak tahun 95-an di beberapa  penerbit di Bandung (Mizan, Pustaka Jaya, Kiblat Buku Utama).

Akademisi/dosen peneliti senior diwakili  Dr. Ruhaliah, M.Hum. (UPI Bandung).

Diskusi serius  tapi santai mengalir bagai air mengalir jernih yang menyegarkan dan mencerahkan. Diskusi FGD dipandu moderator, Nunu A. Hamijaya.

Saya diundang untuk bergabung dalam Forum Grup Diskusi (FGD) draft Ensiklopedi Sastra Nusantara (ESN) susunan Rachmat Taufiq Hidayat, pada Rabu 3 Juni 2026, di Perpustakaan Ajip Rosidi, Bandung.  Kami, berlima, pembaca dengan latar belakang berbeda,  menelisik bagian entri masing-masing yang dibagikan pada saat itu juga.

Diskusinya serius. Tapi di sela pelbagai pertanyaan, penambahan informasi, ruang FGD berkali-kali pecah oleh tawa dan kenangan cerita masa lalu. Selain Mas Rachmat (RTH)  yang sudah saya kenal sejak saya bergabung di Mizan sebagai editor pada 1997, ada 2  orang dua orang lagi yang pernah saya kenal puluhan tahun lalu. Sehingga, jadilah FGD ini sekalian reuni para editor.

Selain itu, membaca entri-entri tersebut, membuat saya terkenang pekerjaan awal saya sebagai editor di Mizan, mengerjakan pengeditan edisi bahasa Indonesia Atlas Budaya Islam, ensiklopedi monumental karya suami istri: Isma’il Raji al-Faruqi dan istrinya, Lois Lamya al-Faruqi, dan kemudian mengawal pengerjaan dan penerbitan edisi bahasa Indonesia Ensiklopedi Oxford: Dunia Islam Modern, John L. Esposito.  Itu semua terjadi 20 tahun lalu.

Membaca entri susunan Mas Rahmat Taufiq Hidayat itu rasanya seperti membuka lemari arsip sastra. Ada nama-nama besar yang familiar. Ada juga nama penulis daerah yang hampir terlupakan, dan di situlah letak kekuatan ESN ini. Kerja filologis Mas Rahmat kelihatan: sumber dicantumkan, varian nama dicatat, konteks sejarahnya dijaga, bahkan waktu wafat (yang banyak sumber sering tidak konsisten).

Kebetulan saya mendapat entri G dan H. Saya sadari bahwa di masa lalu, begitu banyak nama Hadi dalam koleksi sastrawan Nusantara. Saya juga menemukan Fuad Hassan bertanggal lahir yang sama dengan saya, 26 Juni (tentu tahun lahir kami berbeda). Ada pula Abdul Harahap, yang begitu kreatif  dalam memberikan “hook” (istilah gen Z sekarang) untuk judul-judul kisah horor dan thriller karyanya. Sudah pasti judul-judul ini akan menjadi rebutan para pembuat film-film horor masa kini.

Belum lagi, bagian Ali Hasyimi yang membuat saya merindukan kampung halaman ayah saya yang berasal dari kampung yang sama dengan beliau di Montasik (Aceh Besar). Rasanya tidak cukup waktu untuk membaca semua cerita para sastrawan yang masuk dalam entri ESN ini.

Saya juga sangat terkesan ketika membaca bagian Hamka, yang rasanya tidak habis-habis, berlembar-lembar, menunjukkan keluasan ilmu dan wawasannya.

Diskusi kami tidak sekadar soal “benar-salah data”. Kami juga mengenang nama-nama besar di dalam koleksi sastra Indonesia. Di momen itu saya sadar: ensiklopedi ini bukan cuma buku rujukan. Dia rumah singgah untuk mengenang penulis-penulis yang bahasanya dulu membentuk cara kita berpikir.

Masukan saya sederhana: pertahankan semangat “lengkap tapi manusiawi” ini. Data harus valid, tapi bahasa entri jangan sampai mematikan napas sastranya.

Terima kasih Mas Rachmat dan tim atas kesempatan yang diberikan kepada saya. Lima jam terasa sebentar untuk pekerjaan sebesar ini. ***

Bandung 5 Juni 2026.

Sari Meutia, Editor.