Dua Seni Tradisi Pangandaran Resmi Masuk Daftar Warisan Budaya Tak Benda

645272156 1221662443464648 3726627135506843382 n 1
Dua seni tradisional asal Kabupaten Pangandaran, resmi masuk dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Jawa Barat, (Foto: Istimewa).

ZONALITERASI.ID Dua seni tradisional asal Kabupaten Pangandaran, resmi masuk dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Jawa Barat. Kedua kesenian tersebut yaitu Lebon dari Desa Selasari, Kecamatan Parigi dan Nampaling dari Desa Cikalong, Kecamatan Sidamulih.

Penetapan Lebon dan Nampaling sebagai WBTb Jawa Barat dilakukan oleh Pemprov Jabar pada Februari 2026. Pada kesempatan sama, Pemprov menetapkan 66 WBTb dari kabupaten/kota lain di Jabar.

Sebagai informasi, kesenian Lebon dan Nampaling merupakan tradisi yang lahir sejak ratusan tahun silam. Masing-masing memiliki nilai historis yang mendalam dan berbeda satu sama lain.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Pangandaran, Sugeng, mengatakan, setelah ditetapkan sebagai WBTb tingkat provinsi, Lebon dan Nampaling menjadi identitas resmi milik Pangandaran yang telah dipatenkan.

Dengan begitu, dua kesenian ini tidak bisa diakui oleh kota dan kabupaten lain di Jawa Barat atau provinsi lain.

“Nantinya, kesenian Lebon dan Nampaling akan ditampilkan dalam berbagai acara pemerintahan dan festival budaya sebagai upaya nyata untuk melestarikan seni tersebut,” katanya.

Sugeng menambahkan, kesenian Lebon dan Nampaling disetujui menjadi WBTb tingkat provinsi karena seluruh persyaratan dan dokumen pendukungnya telah dinyatakan lengkap.

“Untuk ditetapkan jadi WBTb kan harus ada kajian, maestronya, kemudian usia tradisi atau kesenian itu harus di atas 60 tahun, dan lain-lain,” ujarnya.

Miliki 83 Tradisi

Sugeng menyebutkan, saat ini, terdapat sekitar 83 tradisi dan budaya di Kabupaten Pangandaran yang akan didaftarkan menjadi WBTb tingkat provinsi secara bertahap. Adapun yang sudah didaftarkan sebanyak lima tradisi.

“Yang sudah ditetapkan jadi WBtb tingkat nasional itu ada satu, yakni ronggeng amen.
Untuk tingkat provinsi, beberapa yang sudah masuk di antaranya Hajat Laut (kategori adat istiadat atau ritus), seni Lebon, tradisi Nampaling, alat Tampaling, Genjang Batok, hingga kuliner Pindang Gunung,” katanya.

“Sementara untuk Terowongan Juliana, Terowongan Hendrik, Terowongan Wilhelmina, dan Batu Kalde di Cagar Alam, sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya,” pungkas Sugeng.

Mengenal Nampaling

Jika merujuk pada sejarahnya, Nampaling merupakan seni tradisi menyambut musim panen padi. Namun, seiring berjalannya waktu, aktivitas Nampaling berkembang menjadi seni pertunjukan umum.

Budayawan Cikalong, Ruspandi, menyebutkan, Nampaling merupakan cara atau aktivitas petani di wilayah Cikalong untuk menangkap belalang sawah.

“Kemudian aktivitas ini menjadi seni dikolaborasikan dengan musik-musik gamelan,” terang Ruspandi.

Di samping itu, belalang sawah atau simeut tersebut nantinya bisa dikonsumsi atau diolah menjadi kebutuhan pangan rumah tangga.

Simeutna ke bisa dipasak digoreng diolah (belalangnya nanti bisa dimasak digoreng),” kata Ruspandi.

Dia menyebutkan, Nampaling memang sudah ada sejak ratusan tahun lalu, tepatnya saat masyarakat mulai mengenal sistem pertanian.

“Untuk tanggal pastinya tidak tahu, cuman tradisi tutur dari mulut ke mulut sudah ada sebelum penjajahan masuk sini?” ucapnya.

Adu Ketangkasan Lebon

Budayawan Pangandaran, Erik Krisna Yudha, mengatakan, seni tradisi Lebon memiliki nilai historis yang kuat sebagai ajang pertarungan para jawara.

“Karena Lebon itu lahir dari perjuangan dua kesatria yang bertarung,” ucap Erik.

Sosok kesatria yang dimaksud, kata Erik, adalah dua pria yang mempertaruhkan reputasi serta kegagahannya demi memperebutkan rasa hormat.

“Biasanya, kalo Lebon itu dulu menjadi salah satu cara menyelesaikan sengketa/masalah dengan penumpahan darah, siapa yang mati itu yang kalah,” katanya.

Namun, tambah Erik, seiring perkembangan zaman, Lebon bertransformasi menjadi seni tradisi yang dimasukkan unsur musik gamelan.

“Saat ini, rebn merepresentasikan simbol perjuangan dua kesatria,” pungkasnya. (haf)***

Sumber: Detik.com