Halaman Seni Cibirubeet, Oase di Tengah Makin Terkikisnya Budaya Sunda

IMG 3992 980x400 1
Pangaping Halaman Seni Cibirubeet yang juga sastrawan Sunda, Holisoh ME, saat tampil dalam program Hayu Maca Mieling Poe Basa Indung, (Foto: Dede Suherlan/Zonalitrasi.id).

ZONALITERASI.ID Halaman Seni Cibirubeet di Kampung Cibirubeet, Desa Cileunyi Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, bak oase di tengah kekhawatiran makin terkikisnya budaya lokal. Komunitas nirlaba yang lahir akhir 2018 itu, kukuh bergerak ngamumule (memelihara) budaya Sunda.

Halaman Seni Cibirubeet mewadahi silaturahmi kelompok-kelompok kesenian di Cibirubeet dan sekitarnya. Di komunitas ini, kelompok seni difasilitasi untuk berlatih secara terjadwal dan menggelar pertunjukan.

“Hingga kini, kesenian-kesenian yang telah terhimpun di antaranya Seni Reak, Dog-dog, Pencak Silat, Kunclung, Calung Rentet, Gondang, Celumpungan, Kacapi Kawih, PongDug, dan Sabandar Karimadi. Kami pun memfasilitasi tumbuh kembangnya permainan tradisional Sunda, seperti Jujungkungan, Sorodot Gaplok, Sumpit, Panggal, Sapintrong, Bedil Jepret, Manah, Papancakan, dan Kelom Batok,” kata Pupuhu Halaman Seni Cibiru Beet, M. Rijal Yasiruddin Mq., S.Sn., kepada Zonaliterasi.id, baru-baru ini.

Rijal menyebutkan, selain memfasilitasi kelompok-kelompok kesenian di Kampung Cibirubeet untuk saling berbagi dan bersilaturahmi, komunitas itu mengembangkan program bertajuk Hayu Maca. Sasaran utama progam ini yaitu menggalakkan penggunaan bahasa Sunda khususnya di lingkungan generasi muda.

Lalu, komunitas itu juga memiliki garapan program Hayu Maca Kaulinan. Dalam program ini, peserta diajak membuat pilihan, memecahkan masalah, berkomunikasi, bernegosiasi, menciptakan peristiwa khayalan, melatih keterampilan fisik, sosial, dan kognitif.

Tak hanya itu, program unggulan lain yang digarap Halaman Seni Cibirubeet yaitu Hayu Ulin dan Bobolokot makin mentahbiskan kecintaan komunitas ini terhadap budaya Sunda.

Untuk program Hayu Ulin, kata Rijal, dikemas melalui pengembangan 8 kaulinan baheula.

“Kami ingin memberikan pengalaman baru bagi peserta tentang makna kepemimpinan, kebersamaan, kepercayaan, kepedulian, disiplin, toleransi, sigap terhadap masalah, kekuatan, dan siap bersaing,” terangnya.

Adapun program Bobolokot berbentuk program pembelajaran dan pengembangan kreativitas anak-anak berbasis tanah liat. Dengan segumpal tanah liat, peserta dibiarkan imajinasinya berjalan dan kreativitasnya mengalir bebas. Seonggok tanah tak berbentuk menjadi sebuah bentuk yang bernama dan dikenal.

“Program Bobolokot diharapkan bukan saja dapat menambah gerak motorik halus si anak semakin terasah, tapi juga imajinasi dan kreativitasnya menjadi hidup dengan itu. Di samping itu, program Bobolokot juga diharapkan mengajarkan si anak untuk dekat denga alam serta dapat menumbuhkan rasa percaya diri dalam hal mengkreasikan imajinasinya,” ungkapnya.

Rijal menambahkan, setiap akhir tahun Halaman Seni Cibirubeet menggelar Pesta Budaya Rakyat yang menampilkan hasil pertanian warga Kampung Cibirubeet, hasil kreativitas ekonomi, pertunjukan seni, bedah sastra, dan kaulinan.

“Terakhir, Halaman Seni Cibirubeet memiliki program Hayu Maca Mieling Poe Basa Indung yang diselenggarakan saat peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional (International Mother Tongue day) setiap tanggal 21 Februari. Kami merasa bertanggung jawab melestarikan bahasa sebagai dasar budaya yang menghasilkan budaya-budaya lainnya, baik kesenian, tatanan pertanian ataupun kekhasan-kekhasan lokal yang menjadi penopang sosial masyarakat,” pungkas Rijal. (dede suherlan)***

Respon (48)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *