Syahwat Narasi dan Sejarah yang Tersandera

061524300 1698120206 old opened book is christian psalter
Ilustrasi historiografi, (Foto: Freepik).

Menjaga Warisan, Mengaudit Memori: Mengapa Historiografi Islam Indonesia Perlu Diperiksa Ulang?

Oleh Agung MSG

SEJARAH, di tangan masyarakat modern, sering kali bernasib malang. Ia kerap diringkas menjadi sekadar komoditas digital yang melintas cepat di lini masa, atau lebih buruk lagi: dipaksa menjadi martil untuk memukul lawan politik. Di era banjir informasi saat ini, kita menyaksikan paradoks yang mencemaskan. Informasi sejarah melimpah ruah—mulai dari utas akun anonim di media sosial, video dokumenter amatir, hingga buku-buku populer—namun kualitas pemahaman kita terhadap masa lalu justru mengalami pendangkalan serius.

Perdebatan sejarah yang kerap riuh di ruang publik kita hari ini sebetulnya jarang dipicu oleh kurangnya data. Yang terjadi adalah anarki interpretasi: perbedaan cara membaca, kecenderungan memilih evidensi yang hanya menguntungkan kelompok sendiri (cherry-picking), dan syahwat menyusun narasi demi melegitimasi kepentingan masa kini.

Dalam lanskap yang bising inilah, kehadiran Islamic Historiography Evaluation Lab Indonesia (IHELI) menjadi sebuah urgensi yang tak bisa ditawar. IHELI hadir bukan sebagai mahkamah yang menentukan versi sejarah mana yang wajib diimani, melainkan sebagai sebuah laboratorium intelektual. Tugasnya jernih: melakukan audit, membaca ulang, dan mengevaluasi karya sejarah secara lebih evidensial, metodologis, multidimensional, dan berorientasi peradaban.

Ketika Masa Lalu Dipasangi Kacamata Kuda

Mengapa historiografi Islam di Indonesia perlu diaudit? Jawabannya terletak pada tanggung jawab epistemik. Selama ini, penulisan sejarah Islam kerap terjebak dalam dua kutub ekstrem: romantisasi identitas yang berlebihan (glorifikasi) atau simplifikasi konflik yang akut. Sejarah tidak lagi dinilai apa adanya, melainkan ditulis sebagaimana “seharusnya” menurut selera ideologis sang penulis.

Kita menyaksikan bagaimana tokoh-tokoh masa lalu mengalami komodifikasi. Ada yang mengalami heroifikasi tanpa cacat, sementara di sisi lain terjadi demonisasi terhadap kelompok yang dianggap berseberangan. Belum lagi penyakit presentisme—sebuah sesat pikir yang mengadili tindakan manusia di abad ke-13 menggunakan standar moral dan nilai politik abad ke-21.

Jika dibiarkan, historiografi kita akan kehilangan kedalaman analitisnya. Ia akan melucuti daya kritis sejarawan publik dan melahirkan generasi yang gagap membaca realitas peradaban. Sejarah yang manipulatif hanya akan menghasilkan memori kolektif yang rapuh.

Menguji Struktur dengan IHACR

IHELI menawarkan penawar bagi pendangkalan ini melalui kerangka metodologis yang disebut IHACR (Integrated Historiographical Analytical–Critical Reasoning). Instrumen ini bekerja layaknya pemindai medis yang memeriksa tubuh sebuah karya sejarah hingga ke lapisan paling mendasar.

Melalui IHACR, sebuah karya sejarah tidak lagi hanya dinilai dari seberapa memikat gaya prosanya, melainkan dibongkar melalui pertanyaan-pertanyaan krusial:

– Apakah sumber yang digunakan valid atau sekadar kutipan tangan ketiga?

– Mengapa sebuah peristiwa dituliskan dengan bingkai (framing) tertentu?

– Bukti apa yang sengaja disembunyikan atau diabaikan oleh penulis?

– Bias apa—baik itu bias kolonial, nasionalistik, maupun sektarian—yang sedang bekerja di balik teks?

Prinsip fundamental IHELI sangat tegas: menilai sejarah apa adanya, bukan sebagaimana seharusnya. Integritas evidensi harus diletakkan jauh di atas preferensi ideologis maupun kepentingan pragmatis kelompok.

Relevansi bagi Sejarawan Publik

Sistem evaluasi yang digagas IHELI tidak dirancang untuk memenjarakan sejarah di dalam menara gading akademis. Justru, instrumen ini menjadi krusial bagi ekosistem sejarawan publik, guru, dosen, peneliti, hingga kreator konten digital. Di era ketika algoritma mesin pencari dan optimasi konten digital lebih sering memenangkan narasi yang bombastis ketimbang yang akurat, pemanfaatan framework seperti IHELI menjadi benteng pertahanan terakhir mutu literasi kita.

Bagi para penulis dan penerbit buku, audit historiografis ini memberikan jaminan mutu intelektual. Bagi masyarakat luas, ia menjadi pemandu agar tidak mudah terseret oleh narasi sejarah tiruan (pseudo-history) yang kerap berseliweran di platform digital.

Akhir Kata: Sejarah untuk Peradaban

Pada akhirnya, IHELI mengingatkan kita semua bahwa menulis dan membaca sejarah adalah sebuah aktivitas memproduksi pengetahuan yang sakral. Ia menentukan bagaimana sebuah bangsa memahami identitasnya dan ke mana arah peradaban akan digerakkan.

Sejarah yang sehat adalah sejarah yang berani diaudit, terbuka terhadap kritik, dan patuh pada kekuatan bukti. Melalui disiplin dan akuntabilitas metodologis yang ditawarkan IHELI, kita berharap sejarah Islam Indonesia tidak lagi sekadar menjadi dongeng pengantar tidur yang meninabobokan, melainkan menjadi kompas peradaban yang jernih dan jujur bagi masa depan. ***

Agung MSG, Transformative Human Development and Leadership Architecture.