Oleh Achmad Tans
DI banyak sudut Indonesia hari ini, kafe tumbuh dengan cepat. Dari kota metropolitan hingga kecamatan-kecamatan yang sebelumnya hanya mengenal warung kopi sederhana, kini hadir beragam ruang ngopi dengan berbagai konsep. Ada yang mengusung tema industrial, ada yang bernuansa alam, ada pula yang menawarkan suasana tenang untuk bekerja dan membaca.
Sebagian orang melihat fenomena ini sebagai bagian dari gaya hidup. Sebagian lain melihatnya sebagai peluang ekonomi. Keduanya tidak salah. Namun mungkin ada satu dimensi yang belum banyak dibicarakan: bisakah budaya ngopi menjadi pintu masuk menuju budaya diskusi dan literasi?
Pertanyaan ini menarik karena sesungguhnya sejarah kopi bukan hanya sejarah minuman, melainkan juga sejarah ilmu pengetahuan, perdagangan, percakapan, dan peradaban.
Perjalanan Kata yang Mengikuti Perjalanan Kopi
Ketika kopi berkembang di Yaman pada abad ke-15, masyarakat Arab menyebutnya Qahwah. Awalnya istilah ini merujuk pada minuman tertentu yang memberi efek menyegarkan dan mengurangi rasa lapar. Dari pelabuhan-pelabuhan Arab, kopi menyebar ke dunia Islam. Saat kopi masuk ke wilayah Kesultanan Utsmaniyah, pengucapannya berubah menjadi Kahve. Di Istanbul lahir banyak rumah kopi (kahvehane) yang menjadi pusat diskusi, sastra, politik, dan ilmu pengetahuan.
Pedagang Venesia yang berhubungan erat dengan dunia Ottoman membawa kopi ke Italia.Kata “kahve” lalu berubah menjadi Caffè. Sampai sekarang orang Italia masih menyebut kopi sebagai caffè. Dari Italia, kopi menyebar ke Prancis. Kata “caffè” berubah menjadi Café. Menariknya, dalam bahasa Prancis kata café memiliki dua makna sekaligus: kopi sebagai minuman; tempat untuk minum kopi.Makna kedua inilah yang kemudian mendunia.
Bahasa Inggris kemudian mengadopsi istilah Prancis tersebut menjadi Cafe. Sedangkan minumannya disebut Coffee. Ini menarik, karena juga berasal dari jalur etimologi yang sama: qahwah, kahve, koffie/coffee. Jika kita melihat sejarah, café modern sebenarnya adalah keturunan dari zawiyah para sufi di Yaman, qahvehane di Istanbul, rumah kopi di Makkah dan Kairo, coffee house di London.Pada abad ke-17, coffee house di London bahkan dijuluki Penny University, karena dengan harga satu penny untuk secangkir kopi, seseorang bisa ikut mendengar diskusi ilmiah, ekonomi, filsafat, sastra, dan politik.Di sana berkumpul ilmuwan, pedagang, penulis, dan pemikir. Karena itu, secara historis café bukan hanya tempat makan dan minum. Ia adalah ruang pertemuan antara energi biologis (kopi) dan energi intelektual (literasi).
Karena itulah gagasan penulis tentang Kopi, Ngopi, Diskusi dan Literasi (selanjutnya diakronimkan menjadi “KONGO DASI”) memiliki akar sejarah yang kuat. Dalam banyak periode sejarah, ketika budaya kopi bertemu budaya baca-tulis, lahirlah karya-karya besar, jaringan perdagangan yang luas, bahkan pembaruan pemikiran. Dengan kata lain, sejarah seakan memberi pesan: Kebun kopi menghasilkan biji. Kafe menghasilkan percakapan. Diskusi dan Literasi menghasilkan peradaban. Dan peradaban yang sehat membutuhkan ketiganya berjalan bersama.
Dari Hutan Ethiopia-Kongo ke Pusat-Pusat Peradaban
Para ahli botani sepakat bahwa kopi arabika berasal dari wilayah dataran tinggi Ethiopia. Di sanalah nenek moyang liar kopi tumbuh secara alami selama berabad-abad. Kopi robusta juga tercatat asalnya diantaranya dari negeri Kongo. Secara ilmiah, nama spesiesnya sebenarnya: Coffea canephora. Sedangkan “Robusta” adalah nama kelompok varietas yang kemudian sangat populer hingga masyarakat lebih mengenalnya sebagai kopi robusta. Asal biologisnya di wilayah hutan tropis Afrika Tengah, terutama: Republik Demokratik Kongo, Uganda, Republik Afrika Tengah, Kamerun.
Mengapa disebut “robusta”? Karena tanaman ini jauh lebih: kuat, tahan penyakit, tahan suhu panas, produktif; dibanding Arabica. Kata robustus dalam bahasa Latin berarti: kuat, kokoh, tangguh. Jadi Robusta bukan nama daerah. Robusta adalah nama sifat tanaman. Menariknya, kalau tadi kita membahas qahwah – quwwah, maka justru secara ilmiah kopi yang namanya benar-benar berkaitan dengan “kekuatan” adalah Robusta.
Namun kopi tidak menjadi fenomena global ketika masih berada di hutan-hutan Afrika. Perjalanan besar kopi dimulai ketika tanaman tersebut dibudidayakan secara sistematis di Yaman sekitar abad ke-15. Dari pelabuhan Mocha di Yaman, kopi menyebar ke berbagai wilayah dunia Islam, lalu ke Eropa, Asia, dan akhirnya ke seluruh dunia.
Sejarawan kopi Ralph S. Hattox menjelaskan bahwa rumah-rumah kopi di dunia Islam berkembang menjadi pusat interaksi sosial, diskusi intelektual, dan pertukaran informasi. Kopi tidak hanya diminum, tetapi menjadi bagian dari budaya berpikir. Para sufi di Yaman memanfaatkan kopi untuk membantu mereka tetap terjaga dalam ibadah malam dan kajian keilmuan. Dari sana, budaya minum kopi menyebar ke Makkah, Madinah, Kairo, Damaskus, hingga Istanbul.
Rumah kopi di era Kesultanan Ottoman Turki Utsmani (qahvehane) pada masa itu sering berfungsi seperti ruang publik tempat orang membaca, berdiskusi, bertukar kabar, bahkan membahas persoalan sosial dan ekonomi. Dengan kata lain, kopi sejak awal tidak berdiri sendiri. Ia berjalan berdampingan dengan budaya percakapan dan pertukaran gagasan.
Ketika Eropa Menemukan Kopi
Saat kopi masuk ke Eropa pada abad ke-17, dampaknya tidak kalah menarik. Di London, rumah kopi berkembang pesat dan mendapat julukan terkenal: Penny Universities. Julukan itu muncul karena dengan membayar satu penny untuk secangkir kopi, seseorang dapat mengikuti percakapan yang melibatkan pedagang, ilmuwan, penulis, dan pemikir. Tokoh-tokoh seperti Isaac Newton dan Edmond Halley diketahui hidup dalam lingkungan intelektual yang menjadikan rumah kopi sebagai ruang bertukar ide.
Sejarawan Tom Standage bahkan berpendapat bahwa kopi ikut membantu berkembangnya budaya rasional modern karena mendorong kewaspadaan dan percakapan intelektual, berbeda dengan budaya minum minuman beralkohol yang lebih dominan sebelumnya.
Tentu saja kopi bukan penyebab tunggal lahirnya ilmu pengetahuan modern. Namun kopi menyediakan ruang sosial yang memungkinkan ide-ide bertemu dan berkembang.
Indonesia dan Kebangkitan Budaya Ngopi
Indonesia memiliki hubungan yang sangat panjang dengan kopi. Sejak masa kolonial, Pulau Jawa menjadi salah satu pusat produksi kopi dunia. Bahkan istilah “a cup of Java” dalam bahasa Inggris pernah menjadi sinonim untuk secangkir kopi. Kini Indonesia tidak hanya dikenal sebagai produsen kopi, tetapi juga sebagai salah satu negara dengan keragaman kopi yang luar biasa. Dari Kopi Gayo, Kopi Gunung Puntang, Kopi Campaka, hingga Kopi Toraja. Dari Kopi Kintamani hingga Kopi Java, setiap daerah menawarkan karakter rasa yang unik.
Di sisi lain, budaya kafe berkembang pesat. Data berbagai laporan industri menunjukkan bahwa sektor makanan dan minuman, termasuk bisnis kopi, menjadi salah satu sektor ekonomi kreatif yang terus bertumbuh dalam satu dekade terakhir. Pertumbuhan ini tentu menggembirakan. Ia menciptakan lapangan kerja, menggerakkan UMKM, membuka peluang usaha bagi petani, roaster, barista, hingga pelaku ekonomi kreatif lainnya.
Namun muncul pertanyaan yang lebih besar: Apakah kafe hanya akan menjadi tempat konsumsi, atau dapat berkembang menjadi ruang produksi gagasan?
Dari Ngobrol ke Literasi
Di sinilah gagasan KONGO DASI (Kopi, Ngopi, Diskusi dan Literasi) menjadi relevan. Banyak survei menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia sebenarnya memiliki tingkat konsumsi media digital yang tinggi, tetapi belum seluruhnya diimbangi dengan budaya membaca mendalam dan diskusi konstruktif kritis. Padahal membaca, berdiskusi, menulis, dan berpikir merupakan fondasi penting bagi kemajuan suatu bangsa.
Bayangkan jika sebagian kecil dari ribuan kafe yang tumbuh di Indonesia mulai menyediakan: rak buku, klub baca, bedah buku, diskusi film, kajian sejarah, pelatihan menulis, forum kewirausahaan, diskusi lingkungan hidup, kelas public speaking.
Maka kafe tidak lagi sekadar menjual minuman. Ia menjual pengalaman belajar. Ia menjadi ruang tumbuh. Ia menjadi ruang perjumpaan antara berbagai gagasan. Dalam konteks ini, secangkir kopi berfungsi seperti pemantik percakapan yang produktif.
Mengapa Anak Muda Perlu Dilibatkan?
Indonesia sedang menikmati bonus demografi. Sebagian besar penduduk berada pada usia produktif. Ini merupakan peluang sekaligus tantangan. Generasi muda membutuhkan ruang untuk: belajar berpikir kritis, menyampaikan gagasan, berlatih berdialog, membangun jejaring sosial yang sehat, serta mengembangkan kreativitas.
Kafe sebenarnya memiliki karakter yang cocok untuk itu. Suasananya santai. Tidak terlalu formal. Tidak menimbulkan tekanan psikologis seperti ruang kelas. Karena itu banyak komunitas kreatif di berbagai negara memanfaatkan coffee house sebagai ruang kolaborasi. Di era digital yang sering membuat orang tenggelam dalam layar ponsel masing-masing, ruang diskusi tatap muka justru semakin penting.
Peradaban besar tidak lahir dari individu yang terisolasi. Peradaban lahir dari percakapan yang terus berlangsung antar-manusia.
Dari Konsumen Menjadi Kreator
Salah satu tantangan besar generasi digital adalah kecenderungan menjadi konsumen informasi. Membaca konten, menonton video, menggulir media sosial. Lalu berhenti di sana. Padahal kemajuan lahir ketika seseorang beralih dari konsumen menjadi kreator. Budaya ngopi dapat diarahkan ke sana. Misalnya: satu diskusi menghasilkan satu artikel, satu bedah buku menghasilkan satu resensi, satu kajian film menghasilkan satu tulisan reflektif, satu forum kewirausahaan menghasilkan satu proposal usaha. Dengan cara itu, kopi menjadi bagian dari ekosistem kreativitas. Bukan sekadar konsumsi.
Kafe sebagai Ruang Sosial Baru
Dalam ilmu sosiologi, terdapat konsep third place atau “ruang ketiga”. Rumah adalah ruang pertama. Tempat kerja atau sekolah adalah ruang kedua. Sedangkan ruang ketiga adalah tempat masyarakat berkumpul secara sukarela untuk berinteraksi. Banyak ahli melihat bahwa coffee shop modern memiliki potensi menjadi ruang ketiga yang penting.
Jika dikelola dengan baik, ruang ini dapat memperkuat kohesi sosial, memperluas jaringan komunitas, dan meningkatkan partisipasi warga dalam berbagai aktivitas positif. Karena itu, kafe yang sehat sesungguhnya bukan hanya aset ekonomi, ia juga aset sosial.
Apa Peran Pemerintah?
Pertanyaan berikutnya adalah: apakah pemerintah perlu terlibat? Jawabannya: ya, tetapi bukan dengan cara mengendalikan isi diskusi. Peran pemerintah lebih tepat sebagai fasilitator. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
Pertama: Mendorong Program Kafe Literasi
Pemerintah daerah dapat memberikan insentif bagi kafe yang menyediakan perpustakaan mini, pojok baca, kegiatan bedah buku, kelas keterampilan. Bentuk insentif tidak harus besar. Bahkan pengakuan publik dan penghargaan daerah dapat menjadi pemicu.
Kedua: Kolaborasi dengan Perpustakaan
Perpustakaan daerah dapat bermitra dengan kafe. Buku-buku tertentu dapat dipinjamkan secara berkala untuk ditempatkan di ruang baca kafe. Dengan demikian literasi menjangkau masyarakat yang mungkin tidak datang ke perpustakaan.
Ketiga : Dukungan Komunitas
Banyak komunitas membaca, menulis, dan diskusi yang kesulitan mencari tempat kegiatan. Pemerintah dapat menjembatani kolaborasi antara komunitas tersebut dan pelaku usaha kafe.
Keempat: Pengembangan Ekonomi Kreatif
Diskusi, pelatihan menulis, forum startup, hingga kelas kewirausahaan dapat menjadi bagian dari strategi pengembangan ekonomi kreatif lokal.
Kelima : Literasi Digital dan Lingkungan
Kafe juga dapat menjadi lokasi edukasi publik mengenai: literasi digital, kesehatan mental, kewirausahaan, pengelolaan sampah, ekonomi sirkular, konservasi lingkungan. Tema-tema tersebut sangat dekat dengan tantangan Indonesia masa depan.
Dari Secangkir Kopi Menuju Secangkir Peradaban
Mungkin terdengar berlebihan jika mengatakan bahwa kopi dapat membantu membangun peradaban. Namun sejarah menunjukkan bahwa banyak gagasan besar lahir di ruang-ruang sederhana tempat orang berkumpul dan berdiskusi. Rumah kopi di Istanbul. Coffee house di London. Kedai-kedai sastra di berbagai negara. Semuanya membuktikan bahwa percakapan memiliki daya ubah yang luar biasa. Indonesia tidak kekurangan kopi. Indonesia juga tidak kekurangan kafe.
Yang perlu ditumbuhkan adalah budaya yang menghubungkan kopi dengan ilmu, literasi, kreativitas, dan karya. Karena pada akhirnya, yang membuat suatu bangsa maju bukanlah jumlah cangkir kopi yang diminum rakyatnya. Melainkan jumlah gagasan yang lahir dari percakapan di sekitar cangkir-cangkir tersebut. Inilah makna terdalam dari KONGO DASI. Bukan sekadar kopi. Bukan sekadar ngopi. Melainkan gerakan kecil untuk menjadikan setiap meja kafe sebagai ruang belajar, setiap percakapan sebagai sumber inspirasi, dan setiap secangkir kopi sebagai undangan untuk berpikir lebih jernih tentang masa depan. Sebab kopi akan habis dalam beberapa menit. Tetapi ide yang lahir saat ngopi dapat hidup puluhan tahun, membentuk karya, menggerakkan komunitas, bahkan mengubah arah perbaikan sebuah bangsa. ***
Achmad Tans, XFITVAL (EXPLORER FITRAH VALUES); PENIKMAT KOPI ASLI.











